Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kamus Malangan: Njeglak

Bayu Mulya Putra • Minggu, 13 April 2025 | 18:07 WIB
Grafis Lingua Franca Kampus Malangan. (RADAR MALANG)
Grafis Lingua Franca Kampus Malangan. (RADAR MALANG)

Di Jawa, khususnya di Malang Raya, ada banyak varian untuk istilah makan.

Salah satunya yakni njeglak.

Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono menyebut bahwa istilah itu tidak masuk dalam tingkatan Bahasa Jawa.

Kata ’makan’ dalam kromo inggil dikenal dengan dhahar.

Bahasa Jawa madya ada kata nedho.

Bahasa Jawa ngoko ada istilah mangan.

”Ada tingkatan terbawah, yaitu bahasa kasar.

Di sana ada kata mbadok dan njeglak yang juga dipakai di Malang,” kata dia.

Dia menyebut bahwa kata tersebut berasal dari Bahasa Jawa medio pertengahan, atau sesudah era Jawa Kuno.

Tepatnya, pada era Kerajaan Islam sekitar abad ke-15 dan 16.

Pada masa tersebut, beragam kosakata Bahasa Jawa kasar mulai berkembang.

Secara makna, njeglak memiliki arti yang sama dengan mbadok.

”Secara penggunaan, aslinya kata tersebut berarti makan untuk hewan.

Tapi sekarang sama seperti mbadok, hanya bisa dipakai untuk berbicara dengan teman yang sudah akrab.

Kalau sama yang lebih tua bisa memicu konflik,” imbuh Dwi.

Dia meyakini bahwa kata itu berasal dari kawasan Jawa Tengah, dan dibawa oleh para perantau dari wilayah tersebut.

Pada saat yang sama, di wilayah Arekan, termasuk Malang Raya, sudah punya kosakata sendiri.

”Di sini sudah mengenal istilah mbadok, jadi sampai sekarang jumlah penuturnya (njeglak) tidak seberapa banyak,” imbuh Dwi. (biy/by)

Editor : A. Nugroho
#kamus malangan #bahasa malangan #njeglak