RADAR MALANG - Setiap tahunnya, ratusan ribu siswa SMA di Indonesia berjuang keras demi bisa menembus gerbang Perguruan Tinggi Negeri (PTN) impian mereka. Namun, di balik semangat belajar dan doa yang tak pernah putus, ada satu pertanyaan besar yang terus bergema di kalangan siswa: Apakah materi UTBK sebenarnya diajarkan di sekolah?
Seleksi masuk PTN di Indonesia dibagi menjadi tiga jalur utama, yaitu SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi), SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes/UTBK), dan jalur Mandiri. Dari ketiganya, jalur SNBT atau UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) menjadi yang paling umum diikuti karena terbuka untuk semua siswa yang tidak lolos SNBP. Tapi di sinilah masalah mulai terasa.
Baca Juga: Simulasi vs Realita: Seberapa Mirip UTBK-SNBT 2025 Asli dengan Tryout? Ini Kata Peserta
Banyak siswa mengaku bahwa soal-soal UTBK terasa asing dan terlalu kompleks jika dibandingkan dengan materi pembelajaran reguler di sekolah. UTBK menguji literasi Bahasa Indonesia dan Inggris, penalaran matematika, penalaran umum, serta pemahaman kuantitatif, sebagian besar materi tersebut belum pernah dibahas secara mendalam di kelas. Tak sedikit siswa yang mengeluhkan bahwa mereka “belajar dua kurikulum sekaligus”: kurikulum sekolah dan “kurikulum UTBK”.
Salah satu siswa kelas 12 di Malang menyebut bahwa untuk mempersiapkan UTBK, ia harus belajar mandiri melalui buku-buku latihan, ikut bimbel, dan mengakses platform digital seperti YouTube dan aplikasi belajar daring. “Soal-soalnya beda jauh dari yang kita pelajari di kelas. Kalau nggak ikut bimbel atau belajar sendiri, bakal keteteran,” ujarnya.
Baca Juga: Cerita Seru Peserta Tes UTBK 2025 di Universitas Brawijaya!
Fakta ini mengungkap adanya kesenjangan serius antara sistem pembelajaran sekolah dan sistem seleksi masuk perguruan tinggi. Sekolah cenderung fokus pada capaian nilai kurikulum nasional, sementara UTBK menguji logika, analisis, dan kemampuan menyelesaikan soal dengan waktu terbatas.
Dalam konteks ini, persiapan mandiri menjadi sangat penting. Banyak siswa merasa terpaksa mengorbankan waktu luang, bahkan waktu istirahat, demi bisa mengejar materi yang tidak tersentuh di ruang kelas. Tidak sedikit pula yang mengaku merasa stres dan tertekan karena harus menyesuaikan dua jenis pembelajaran sekaligus.
Baca Juga: Pantauan Langsung UTBK 2025 di UB: Lalu Lintas, Jadwal, hingga Suasana Kampus
Lantas, apa solusinya? Beberapa sekolah mulai mengintegrasikan materi UTBK dalam pelajaran tambahan atau program intensif menjelang ujian. Bimbingan belajar juga memainkan peran besar dalam membantu siswa mengenal pola soal dan strategi pengerjaan yang efektif. Selain itu, penggunaan teknologi pendidikan seperti aplikasi tryout, video pembelajaran, dan kelas daring juga kian meningkat.
Namun tentu saja, tidak semua siswa memiliki akses yang sama terhadap bimbel atau teknologi. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam menciptakan sistem seleksi PTN yang lebih inklusif dan adil.
Baca Juga: Tips Ampuh Cegah dan Atasi Sakit Perut Saat Ujian UTBK-SNBT
Akhirnya, perjuangan masuk PTN bukan hanya tentang seberapa cerdas seseorang, tetapi juga seberapa kuat ia bisa bertahan dan beradaptasi dengan sistem yang ada. Karena sejatinya, perjuangan mereka bukan sekadar mengerjakan soal, tetapi juga bertarung melawan sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada kesiapan siswa.
Selamat berjuang, pejuang UTBK 2025! Jalan kalian mungkin tidak mudah, tapi semangat dan tekad kalian adalah cahaya harapan masa depan pendidikan Indonesia. (my)
Editor : Aditya Novrian