Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sumbangsih UM untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045: Pendidikan Jadi Sarana Membentuk Karakter Bangsa

Aditya Novrian • Senin, 5 Mei 2025 | 16:54 WIB
BUKTI NYATA: Pakar pendidikan kejuruan UM Prof Dr Waras Kamdi MPd menunjukkan hasil riset yang dilakukan. (FOTO-FOTO: UM FOR RADAR MALANG)
BUKTI NYATA: Pakar pendidikan kejuruan UM Prof Dr Waras Kamdi MPd menunjukkan hasil riset yang dilakukan. (FOTO-FOTO: UM FOR RADAR MALANG)

Pendidikan menjadi sarana untuk membangun sebuah bangsa. UM (Universitas Negeri Malang) sadar dengan hal itu. Lewat pendidikan, UM berupaya mewujudkan Indonesia Emas pada 2045.

 TOKOH pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, dan H.O.S Tjokroaminoto pernah mengungkapkan bahwa pendidikan menjadi kunci utama sebuah bangsa dikatakan maju.

Hal itu diyakini pula oleh Rektor UM Prof Dr Hariyono MPd.

Tak hanya diyakini, tapi juga diimplementasikan dalam pengajaran di UM.

Menurut Hariyono, konsep pendidikan sebagai pembangunan dan karakter bangsa bisa membuat orang yang dididik tidak hanya menguasai IPTEK.

Prof Dr Hariyono MPd, Rektor UM.
Prof Dr Hariyono MPd, Rektor UM.

Namun me miliki karakter yang sesuai bidang keilmuannya.

”Sebagai contoh, berbuat jujur. Dalam menghitung algoritma hingga mengembangkan data ekonomi, jika orang tidak jujur tidak akan terealisasi,” ucap dia.

Yang menjadi problem di Indonesia, kata Hariyono, orang terdidik sering kali tidak konsisten dalam menjalankan keilmuan.

Akibat perilaku yang tidak konsisten, muncul tindakan seperti korupsi.

”Jadi korupsi itu sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh orang-orang dengan latar belakang pendidikan rendah. Namun juga kalangan dengan pendidikan tinggi,” tegasnya.

Karena itu, penyelenggaraan pendidikan harus berlangsung holistik.

Hariyono berkaca pada tiga prinsip yang pernah disampaikan Ki Hajar Dewantara yakni ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.

Dari prinsip tersebut, pendidikan harus bisa memberi contoh, membangun semangat, dan memberi dorongan.

Oleh karena itu, UM terus berupaya mewujudkan pendidikan yang mampu mencetak generasi terbaik untuk masa depan.

Tentu saja ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi.

Misalnya saja dalam kehidupan masyarakat saat ini belum mencerminkan prinsip Ki Hajar Dewantara.

Masih banyak penyelenggara negara yang belum mampu memberi contoh baik kepada masyarakat dan tidak amanah dalam menjalankan kebijakan.

Bentuk tindakan penyelenggara negara yang tidak amanah itu dengan melakukan korupsi yang jumlahnya mencapai triliunan.

Ini menjadi pertanyaan besar bagi Hariyono, apakah penyelenggara negara yang melakukan tindakan penyelewangan seperti korupsi adalah sosok terdidik?

Dengan demikian, atmosfer kejujuran juga harus dikembangkan dalam dunia pendidikan sejak tingkat pendidikan dasar.

Sebab, syarat utama pendidikan adalah jujur.

”Boleh salah, tidak boleh berbohong,” tegas lelaki yang juga Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah tersebut.

Demikian pula di tingkat pendidikan tinggi, Hariyono menegaskan bahwa UM maupun kampus-kampus lain harus menerapkan akuntabilitas secara maksimal.

Pakar pendidikan kejuruan UM Prof Dr Waras Kamdi MPd juga mengatakan, seharusnya tidak hanya menjadikan masyarakat cerdas secara literasi, cakap matematik, sains, maupun teknologi.

Namun juga bermartabat karena tatanan sosialnya dilandasi kejujuran, menjunjung tinggi etika, moral, berakhlak mulia, berlaku adil, hingga mencintai lingkungan.

Aspek cerdas yang bermartabat itu harus diseimbangkan.

”Pada momen hari pendidikan nasional ini, kita perlu bermu hasabah dan merefleksikan diri,” kata Waras.

Itu untuk mengevaluasi seberapa berhasil pendidikan yang berlangsung hingga sekarang.

Prof Dr Waras Kamdi MPd, Pakar Pendidikan Kejuruan UM
Prof Dr Waras Kamdi MPd, Pakar Pendidikan Kejuruan UM

Sementara, Waras melihat kalau banyak perilaku sosial masyarakat yang justru sebaliknya.

Yakni menjauh dari penddikan yang ideal.

Seperti meninggalkan buku, perpustakaan sepi, anak-anak yang lebih menyukai tampilan visual, pemahaman yang dangkal, dan praktik dongkrak nilai rapor. (mel/adn)

Editor : A. Nugroho
#Universitas Negeri Malang #um #kejuruan #pakar pendidikan #rektor #indonesia emas