Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

KKN Sekadar Formalitas? Kritik dan Solusi untuk Program KKN yang Lebih Berdampak di Kabupaten Malang

Aditya Novrian • Senin, 26 Mei 2025 | 18:27 WIB

 

Ilustrasi teamwork (freepik.com).
Ilustrasi teamwork (freepik.com).

RADAR MALANGKuliah Kerja Nyata (KKN) masih menjadi syarat wajib kelulusan di banyak perguruan tinggi. Namun, di era modern dengan tantangan sosial yang semakin kompleks, efektivitas program ini kembali dipertanyakan. Apakah KKN masih relevan? Atau justru sekadar formalitas yang membebani mahasiswa tanpa memberi dampak nyata bagi masyarakat?

Banyak kritik bermunculan bahwa KKN kerap kali hanya menjadi ajang “setor absen”. Program kerja yang disusun terburu-buru, minim riset, bahkan tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Tak sedikit mahasiswa yang mengakui bahwa KKN hanya dianggap “penggugur kewajiban”, bukan ruang aktualisasi ilmu dan empati sosial.

Baca Juga: KKN Kelompok '06 Unmer Malang Sukseskan Program Eco Literasi, Wujudkan Zero Waste dan Green Behavior Dalam Meningkatkan Produktivitas dan Kesehatan

Namun, kondisi ini bukan tanpa harapan. Jika dirancang dengan matang dan dikolaborasikan bersama masyarakat lokal, KKN masih sangat potensial menjadi wahana pembelajaran transformatif sekaligus alat pemberdayaan masyarakat desa.

Kabupaten Malang: Potensi dan Tantangan

Kabupaten Malang, per awal 2025, memiliki 378 desa mandiri, sebuah pencapaian yang menandakan tumbuhnya kekuatan dari akar rumput. Sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan masih menjadi tulang punggung ekonomi, meski mulai menghadapi tantangan keterbatasan lahan, pengelolaan sampah, dan stagnasi kreativitas ekonomi lokal. Inilah celah di mana program KKN bisa hadir secara nyata, tidak hanya dengan proposal di atas kertas, tapi aksi nyata yang menyentuh kebutuhan warga.

Program KKN yang Relevan dan Inovatif

Mahasiswa perlu memulai dari akar: riset kebutuhan desa. Survei awal, diskusi dengan tokoh masyarakat, dan observasi lapangan adalah fondasi menyusun program yang kontekstual. Beberapa program inovatif yang terbukti berdampak di desa-desa Kabupaten Malang antara lain:

Tak kalah penting adalah kolaborasi lintas sektor. Libatkan BUMDes, tokoh agama, pemuda desa, hingga kader kesehatan dalam perencanaan hingga monitoring program. Transparansi, akuntabilitas, dan dokumentasi kegiatan juga harus diperhatikan agar dampaknya berkelanjutan.

Bukan Bantuan Sesaat, Tapi Pemberdayaan

KKN bukan soal datang, memberi bantuan, lalu pulang. Semangat yang dibutuhkan adalah pemberdayaan: membangun kapasitas warga agar bisa mandiri setelah mahasiswa kembali ke kampus. Itulah esensi “kuliah kerja nyata” yang sesungguhnya.

Baca Juga: Kelompok 65 KKN Jantra UB Sukses Berdayakan Warga Desa Kebobang

KKN di era sekarang menuntut pembaruan cara pandang. Di Kabupaten Malang, dengan segala potensinya, mahasiswa bisa menjadi agen perubahan, jika mereka bersedia menggali lebih dalam, merancang program yang relevan, dan sungguh-sungguh membangun relasi dengan masyarakat. Maka, alih-alih sekadar formalitas, KKN bisa menjadi batu loncatan untuk mencetak generasi yang peka, tangguh, dan berdampak. (my) 

Editor : Aditya Novrian
#Program kampus #mahasiswa #pemberdayaan desa #isu sosial #Kabupaten Malang #KKN