Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Wait and See, Mekanisme Kampus Berdampak Masih Abu-Abu

Bayu Mulya Putra • Rabu, 4 Juni 2025 | 16:43 WIB
Yang sama dan beda dari program di perguruan tinggi
Yang sama dan beda dari program di perguruan tinggi

 

MALANG KOTA – Meski sudah diluncurkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI pada 2 Mei lalu, pelaksanaan program Kampus Berdampak masih abu-abu.

Banyak kampus yang sedang menunggu petunjuk teknis mengenai program-program apa saja yang bisa diikuti mahasiswa. Mekanisme pendanaan selama kegiatan berlangsung juga belum jelas.

Nila Firdausi Nuzula SSos MSi PhD, Koordinator Program Kampus Berdampak dari Universitas Brawijaya (UB) meyakini bakal ada penyesuaian selama masa transisi dari program Kampus Merdeka ke Kampus Berdampak.

Untuk diketahui, Kampus Merdeka yang berlangsung sejak 2020 lalu dinilai telah membantu mahasiswa. Terutama dalam hal menambah relasi dan pengalaman.

”Mahasiswa juga mendapat insentif atau uang saku selama mengikuti program Kampus Merdeka,” jelas Nila. Salah satunya yakni program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB).

Itu merupakan satu dari delapan program di Kampus Merdeka yang bisa dipilih mahasiswa. Tujuh program lainnya yakni Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM), Kampus Mengajar, Studi Independen Bersertifikat, Proyek Kemanusiaan, Mahasiswa Membangun Desa (MMD), Wirausaha Merdeka, dan Proyek Riset atau Penelitian.

Insentif atau uang saku yang didapat mahasiswa dari program MSIB senilai Rp 2,8 juta. Penyalurannya dilakukan setiap bulan. Dananya berasal dari Kemendikbudristek.

”Di luar MSIB, seperti program pertukaran mahasiswa dan kampus mengajar juga ada pendanaan. Besarannya bervariasi,” imbuh Nila.

Di program Kampus Berdampak, pihaknya belum mengetahui apakah ada pemberian insentif atau bantuan pendanaan kepada mahasiswa. Terlebih, dengan adanya efisiensi yang diberlakukan pemerintah saat ini.

Nila juga belum bisa memastikan apakah ada bantuan pendanaan dari kampus atau tidak. Selain dari sisi pendanaan, program yang bisa diikuti mahasiswa dalam Kampus Berdampak juga belum tertera.

Pihaknya masih menunggu petunjuk teknis. Untuk sementara, pihaknya masih menggunakan mekanisme seperti Kampus Merdeka. Salah satunya pendaftaran yang dilakukan melalui program studi (prodi) masing-masing.

Kendati masih menunggu mekanisme Kampus Berdampak, pihaknya menargetkan angka partisipasi mahasiswa yang lebih banyak.

”Tahun lalu yang berpartisipasi (di program Kampus Merdeka) ada 8.635 mahasiswa. Sekarang, harapan kami bisa sampai 11 ribu mahasiswa yang ikut,” sambung perempuan yang juga dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Administrasi (FIA) UB tersebut.

Dwi Adnyana, mahasiswa Prodi Administrasi Bisnis UB tahun 2021 mengaku kalau program Kampus Merdeka sangat bermanfaat. Tahun lalu, dia memilih MSIB. Prosesnya seperti mencari kerja.

Dwi terlebih dahulu menyetorkan curriculum vitae (CV) ke perusahaan yang dituju. Setelah itu, dia juga menjalani proses wawancara hingga diterima magang selama enam bulan.

”Saya ikut MSIB selama satu kali saat semester enam. Kebanyakan teman-teman juga seperti itu agar tidak mengganggu skripsi,” terangnya.

Di tempat lain, Kepala Biro Humas Universitas Merdeka (Unmer) Malang Razqyan Mas Bimatyugra Jati SArs MArs menjelaskan, program Kampus Berdampak pada intinya merupakan kelanjutan dari Kampus Merdeka.

”Sepengetahuan saya ada program baru yang bisa diikuti seperti penelitian kolaborasi hingga inovasi yang berdampak langsung ke masyarakat,” jelas dia.

Pihaknya juga masih menunggu petunjuk teknis dari Kemendiktisaintek. Saat ini, mekanisme pelaksanaannya masih menyesuaikan dengan Kampus Merdeka.

Pihaknya juga berharap agar mahasiswa yang berpartisipasi lebih banyak. Tahun lalu, yang berpartisipasi sebanyak dua ribu mahasiswa.

Setelah berjalan hampir lima tahun, sejumlah pihak menilai bahwa program Kampus Merdeka sebenarnya juga memberi dampak kepada masyarakat.

”Sejauh ini kami rasa Kampus Merdeka dampak langsungnya kepada masyarakat masih 70 sampai 80 persen saja,” ucap Prof Dr Suyono MPd, Direktur Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM).

Di program Kampus Berdampak, dia memproyeksikan jumlah mahasiswa yang mengikutinya tetap banyak. Sama seperti saat Kampus Merdeka diterapkan. Sehingga, dampaknya di masyarakat bisa terasa.

Bila diestimasi, ada 14 ribu mahasiswa yang sebelumnya mengikuti program Kampus Merdeka. Jenis program Kampus Mengajar menjadi pilihan terbanyak. Disusul Proyek Riset dan PMM. Program MMD peminatnya hanya berkisar tiga ribu mahasiswa saja.

”Kelemahan dari Kampus Merdeka, mahasiswa yang seharusnya aktif menentukan studinya malah jadi pasif,” ujar Suyono.

Sebab, sejak awal Kampus Merdeka dirancang agar mahasiswa bisa memilih sendiri studi yang akan diambilnya. Namun pada praktiknya, masih banyak mahasiswa yang menggantungkan pilihan studi itu kepada dosen.

Belum banyak mahasiswa yang mau bergerak mencari tempat magang sendiri dan secara aktif menentukan studi yang akan diambil. Karena itu, program Kampus Merdeka masih butuh banyak evaluasi terutama dalam praktiknya di lapangan.

”Saat ini, pada prinsipnya program Kampus Berdampak mengutamakan mutu dan kualitas. Jadi, perbaikan akan terus kami lakukan,” lanjutnya.

Kini, kampus-kampus mulai lebih serius memetakan potensi lingkungan di sekitarnya. Terkait dana pendukung, Suyono juga belum mendapat keterangan secara resmi. Suyono memprediksi dana yang disediakan kurang lebih sama seperti sebelumnya.

Di tempat lain, Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Prof Junaidi Mistar MPd PhD juga menegaskan keberhasilan program Kampus Merdeka di kampusnya.

Namun, untuk dampak di masyarakat memang belum maksimal. Untuk itu pihaknya mendukung penuh perubahan program dari Kampus Merdeka menjadi Kampus Berdampak.

”Di Unisma sudah sukses, tapi memang hasilnya kurang terlihat di masyarakat,” ujar Junaidi. Dia melihat program seperti MMD dan riset dengan hasil langsung kepada masyarakat akan lebih ditekankan lagi. Sebab, dua program tersebut sebelumnya kurang diminati. (by)

Editor : A. Nugroho
#kampus berdampak #Kemendiktisaintek #mahasiswa #MSIB