MALANG KOTA – Angka anak tidak sekolah (ATS) di Kota Malang terus berkurang. Pada 2025 ini, jumlahnya tersisa 3.250 anak. Tahun lalu, Pemkot Malang mencatat jumlahnya di angka 5.555 anak.
Untuk terus mengurangi jumlah tersebut, pemkot melakukan sejumlah upaya. Seperti penyediaan beasiswa, seragam sekolah, hingga perbaikan sarana dan prasarana di sekolah.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, persoalan ATS bukan sekadar angka dalam statistik. Namun juga tantangan yang membutuhkan solusi sistemik, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Ada banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka ATS. Seperti anak yang sudah bekerja atau berumah tangga, sehingga memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan.
”Saya mengapresiasi berbagai pihak yang sudah membantu identifikasi hingga pendampingan untuk ATS,” kata dia dalam kegiatan Diseminasi Hasil Penanganan ATS sebagai Dasar Penyusunan Dokumen Perencanaan Satuan Pendidikan di Ballroom Hotel Savana Malang, kemarin (11/6).
Dia menekankan bahwa upaya menurunkan ATS sangat penting. Sebab, pendidikan merupakan hak setiap anak. Tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal dalam pendidikan.
Karena itu, lanjut Wahyu, perlu perencanaan yang bersifat inklusif, responsif, dan menyertakan program-program strategis untuk mengakomodasi ATS kembali belajar.
Sebagai contoh, adanya sekolah informal atau pusat kegiatan belajar mengajar masyarakat (PKBM). Kemudian juga butuh dukungan dari pihak keluarga. Untuk memotivasi pengurangan ATS, Wahyu juga menyerahkan penghargaan atas prestasi capaian rapor pendidikan.
Prestasi itu diserahkan kepada masing-masing tiga SD negeri, SD swasta, SMP negeri, dan SMP swasta. ”Kami berharap upaya untuk mengurangi ATS bisa menjadi modal dalam mencetak sumber daya manusia dan kemajuan daerah secara berkelanjutan,” tandasnya. (mel/by)
Editor : A. Nugroho