Istilah dari serapan Bahasa Arab masih sering dipakai di beberapa wilayah di Kota Malang. Salah satunya istilah Ana Juk, yang memiliki arti ’aku lapar’. Istilah itu mulai populer pada era 1970-an. Penggunaannya awalnya dilakukan di sekitar perkampungan warga keturunan Arab.
Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono mengatakan, kalimat tersebut tergolong sebagai Bahasa Arab Pasar alias Arab tidak baku. Atau kerap dikenal sebagai Kalam Jamaah. ”Kalam Jamaah sendiri dipakai untuk orang berbicara antara orang Arab dengan non-Arab,” terang dia.
Untuk diketahui, kata lapar dalam Bahasa Arab baku adalah Jau'an. Ada pula kosakata lain seperti Jai'un dan Ja'i. Diperkirakan, fenomena Kalam Jamaah bermula dari interaksi di dalam perkampungan warga Arab. Kalau di Malang bermula di sekitar Embong Arab, di Jalan Syarif Al-Qodri, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Dwi menyebut, biasanya ada maksud menghargai orang lain dari penggunaan kata ana juk. ”Padahal ada istilah sendiri di Malang seperti Ayas Ewul. Dugaan saya, kalau pakai istilah lokal dia akan malu, jadi dipakailah kata dalam Kalam Jamaah itu,” sebut dia.
Sejak era 1970-an, hubungan sosial masyarakat Jawa dengan Arab memang dekat. Sehingga pengaruh Bahasa Arab dalam prokem percakapan cukup kuat. Hal serupa juga berlaku untuk Bahasa Mandarin, yang banyak dipakai warga Tionghoa. Kesamaannya satu, istilah-istilah itu mulanya berkembang di pasar tradisional. (biy/by)
Editor : A. Nugroho