Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

SPMB SMA Negeri di Malang Raya Buka 9.081 Kuota

Bayu Mulya Putra • Minggu, 29 Juni 2025 | 17:02 WIB
SPMB SMA Negeri di Malang Raya
SPMB SMA Negeri di Malang Raya

MALANG RAYA - Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula persaingannya. Setidaknya itu tergambar dari Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 untuk jenjang SMA negeri. Di Malang Raya, hanya ada 26 SMA Negeri yang mengikutinya. 

Terbanyak di Kabupaten Malang dengan 13 sekolah. Disusul Kota Malang dengan 10 sekolah dan Kota Batu dengan 3 sekolah (selengkapnya baca grafis). Dari 26 sekolah itu, total kuota yang dibuka hanya 9.081. Meski masih ada pilihan ke SMA swasta, SMK, atau MA, total kuota itu terlampau jauh dari jumlah lulusan SMP/MTs sederajat di Malang Raya. 

Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, total ada 46.295 lulusan SMP/MTs sederajat di Malang Raya. Kepala Seksi (Kasi) SMA dan PKPLK Cabdindik Wilayah Kota Malang-Kota Batu Muhammad Asrofi mengatakan, SPMB untuk jenjang SMA sudah dibuka mulai 16 Juni lalu. Dimulai dengan pengambilan PIN untuk masuk ke sistem pendaftaran online.

Murid yang sudah mengambil PIN bisa melakukan pendaftaran tahap satu. Pada pendaftaran tahap satu, ada tiga jalur yang dibuka. Yakni jalur afirmasi, jalur mutasi orang tua, dan jalur prestasi hasil lomba. Pendaftaran untuk tiga jalur itu dibuka sampai 17 Juni.

Setelah itu dilanjutkan dengan pendaftaran tahap dua untuk jalur prestasi nilai akademik. Jalur prestasi nilai akademik dibuka mulai 22-23 Juni. Baru kemudian jalur domisili yang berlangsung tanggal 26-27 Juni. ”Untuk jalur domisili pengumumannya tanggal 28 Juni,” kata Asrofi. 

Asrofi mengklaim rangkaian SPMB jenjang SMA negeri berjalan dengan lancar. Sebagai contoh di jalur domisili. Yang menjadi patokan utamanya yakni adalah nilai. Sehingga, meskipun radius rumah dengan sekolah dekat, tapi tolak ukurnya yakni nilai pelajar. Meski demikian, masih ada orang tua yang datang ke sekolah atau cabdindik untuk berkonsultasi. Salah satu persoalan yang paling banyak ditanyakan yakni KK. 

”Banyak anak yang KK-nya sebelumnya menumpang di kerabat, sehingga saat ambil PIN kesulitan. Padahal yang tercantum dalam KK harus keluarga inti atau keluarga kandung,” terang Asrofi. Selain soal KK, ada juga murid yang mau mendaftar ke SMA dan SMK sekaligus. 

Namun untuk murid yang mau mendaftar ke SMK harus melakukan verifikasi kesehatan. Di verifikasi kesehatan, tercantum bahwa tinggi badan murid perempuan minimal 153 sentimeter. Sementara tinggi laki-laki minimal 158 sentimeter. Kemudian mereka juga tidak boleh buta warna.

”Banyak yang bertanya tentang verifikasi kesehatan. Sebab, semula dibuka sampai 16 Juni, tapi sekarang diperpanjang sampai 1 Juli,” terang Asrofi. Selebihnya, dia menyebut kalau proses SPMB untuk jenjang SMA tidak ada kendala. Termasuk pada server, belum ada laporan server down dari calon peserta didik.

Kepala SMA Negeri 4 Kota Malang Hari Wahjono juga menyatakan kalau proses pendaftaran berjalan lancar. Seluruh jalur yang dibuka pun sudah terpenuhi. Pihaknya tinggal menunggu pengumuman untuk jalur domisili. ”Sama seperti tahun sebelumnya, SPMB tahun 2025 ini kami membuka kuota untuk 360 murid,” terang Hari. Jumlah tersebut sesuai dengan yang ditentukan Dinas Pendidikan Jawa Timur. 

Selain SMA, pelaksanaan SPMB untuk jenjang SMK juga berjalan lancar. Saat ini, animo murid yang mendaftar ke SMK juga sama tingginya seperti ke SMA. Hal tersebut salah satunya terlihat di SMK Negeri 6 Kota Malang. 

Menurut Waka Humas SMKN 6 Kota Malang Wigonggo, jumlah calon murid baru yang mendaftar ke tempatnya mencapai 1.000 orang. ”Mereka berasal dari Kota Malang, Kabupaten Malang, bahkan luar provinsi. Namun tidak semua bisa diterima karena kami hanya membuka kuota untuk 847 murid, terangnya. 

Di Kabupaten Malang, karena jumlah SMA Negeri lebih banyak, kuota yang dibuka juga banyak. Total ada 4.565 murid yang bakal ditampung di 13 SMA Negeri. Wakil Kepala (Waka) Kesiswaan SMAN 1 Lawang Iwan Nur Taufik menyampaikan, sekolahnya membuka pendaftaran untuk 12 rombongan belajar (rombel). Masing-masing rombel berisi 36 anak. 

Karena itu, pada tahun ini pihaknya membuka kuota untuk 432 murid. ”Dua tahap sebelumnya, kami sudah memenuhi pagu. Sedangkan, untuk tahap domisili, kami perkirakan juga memenuhi pagu. Itu dilihat dari beberapa orang tua yang sempat menanyakan nama anaknya sudah tergeser,” papar dia. 

Secara umum, dia menyebut bahwa SPMB di SMAN 1 Lawang berjalan lancar. Hanya saja, selama proses pendaftaran jalur domisili, masih ada beberapa orang tua atau wali murid yang belum mengetahui aturan terbaru.

Mereka masih menganggap ketentuan jalur tersebut masih sama dengan tahun sebelumnya. Padahal, tahun ini, terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Seperti jarak rumah dengan sekolah, usia pelajar, dan nilai. 

Di tempat lain, Kepala SMAN 1 Kepanjen Sugeng Satrio Utomo juga memastikan bahwa SPMB di sekolahnya sejauh ini berjalan lancar. Tahun ini, pihaknya membuka pendaftaran untuk 12 kelas. Jika masing-masing kelas berisi 36 anak, total pagu yang tersedia mencapai 432 murid. ”Pagu yang kami sediakan sudah terpenuhi,” pungkasnya. 

Ada Perubahan Kuota di Dua Jalur 

Sementara itu, tiga SMA Negeri di Kota Batu hanya membuka kuota untuk 981 murid. Tahun ini ada dua jalur yang mengalami perubahan kuota. Yakni jalur domisili yang sebelumnya ditetapkan 50 persen, kini susut menjadi 35 persen.

Dari 35 persen itu, 20 persennya untuk domisili reguler. Sedangkan 15 persennya untuk domisili sebaran. Kemudian, jalur afirmasi yang semula kuotanya mencapai 15 persen, kini naik menjadi 30 persen. 

Sementara kuota di jalur prestasi kini dibagi menjadi dua. Yakni prestasi akademik sebesar 25 persen, dan prestasi lomba sebesar 5 persen. Secara umum, skema seleksi di masing-masing jalur masih sama. Perubahan hanya terjadi di jalur zonasi yang kini berubah nama menjadi jalur domisili. 

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Negeri Kota Batu Anto Dwi Cahyono mengatakan, SPMB jenjang SMA negeri di Kota Batu cukup ketat. Sebab, kuota yang dialokasikan cukup terbatas dengan sedikitnya jumlah SMA negeri. ”Untuk di sekolah saya (SMAN 1 Batu) hanya (membuka kuota untuk) 420 murid,” kata dia. 

Kemudian SMAN 2 Batu sebanyak 350 kursi dan SMAN 3 Batu sebanyak 211 kursi. Persaingan ketat terlihat dari banyaknya siswa yang memiliki nilai akhir sama di jalur prestasi akademik. ”Akhirnya kami tetap pertimbangkan jarak hingga usia pendaftar,” tambah Anto. 

Secara umum, Anto menyebut proses SPMB berjalan lancar. Seluruh siswa yang telah dinyatakan lolos di tahap pertama dan kedua sudah melakukan proses daftar ulang. Mereka diminta menyetorkan berkas administrasi. Seperti bukti diterima di salah satu jalur, ijazah atau surat keterangan lulus (SKL), rapor, KK dan nomor induk siswa nasional (NISN). 

Dia juga tidak mewajibkan siswa yang diterima untuk membeli seragam baru saat daftar ulang. Setiap sekolah hanya menyediakan seragam baru di koperasi siswa. ”Untuk siswa baru akan mulai masuk dan mengikuti orientasi pada 14 Juli nanti,” tandas Anto. (mel/yun/ori/by)

Editor : A. Nugroho
#SPMB #Malang Raya #kuota #SMAN