MALANG – Program Mahasiswa Membangun Desa Universitas Brawijaya 2025 (MMD UB 2025) merupakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan di lima (5) kabupaten di Jawa Timur, salah satunya Kabupaten Malang. Program ini menghadirkan 1000 mahasiswa untuk membangun desa dengan total sebaran 76 desa di lima kabupaten yang berbeda.
Minggu (13/7/2025), pukul 09.00 WIB, Kelompok 17 dari Mahasiswa Membangun Desa Universitas Brawijaya 2025 (MMD UB 2025) Desa Ardimulyo menyelenggarakan kegiatan program kerja gabungan berupa “Pembuatan Dimsum Lele: Inovasi Produk Olahan Sebagai Media Penyuluhan Edukasi Gizi dan Promosi Kesehatan Berbasis Pangan Lokal” yang dibawakan oleh dua mahasiswa UB, Mutiara Java Auliarieska dari Fakultas Ilmu Kesehatan 2023 Program Studi Ilmu Gizi dan Natali Arini Habibah dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan 2023 Program Studi Agrobisnis Perikanan.
Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Pesona Asri, Dusun Sempol, Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari ini diikuti oleh Ibu-Ibu PKK RT 5 Dusun Sempol dan Perwakilan dari Ibu-Ibu PKK Desa Ardimulyo.
Kegiatan Pembuatan Dimsum bersama Ibu-Ibu PKK yang dibawakan oleh Kelompok 17 MMD UB 2025 di Pendopo Pesona Asri memanfaatkan potensi yang ada di Desa Ardimulyo di bidang perikanan, yaitu Budidaya Ikan Lele “Mina Arjuna Farm”. Alasan dibawakannya kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran dan antusiasme masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi berbasis pangan lokal.
Untuk menunjang ketahanan pangan, program kerja yang diusung oleh dua mahasiswa UB ini sangat sesuai dengan target tujuan pemerintah dan Sustainable Development Goals, mencakup SDGs dan SDGs Desa. Fokus utama SDGs Desa yang diikutsertakan dalam program kerja penyuluhan SDGs Desa nomor 3 “Desa Sehat dan Sederhana” dan SDGs Desa nomor 5 “Keterlibatan Perempuan Desa”.
Kegiatan diawali dengan pengisian pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan Ibu-Ibu PKK dan dilanjutkan dengan sesi penyampaian materi tentang ISI PIRINGKU dengan pemberian leaflet sebagai media edukasi. Kemudian, di akhir sesi akan diberikan pengerjaan post-test untuk mengetahui tingkat pemahaman Ibu PKK setelah diberikan materi edukasi gizi.
Setelah sesi edukasi gizi, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan dimsum berbahan dasar ikan lele. Mahasiswa membimbing peserta dalam proses persiapan bahan, pencacahan daging lele, pencampuran bumbu, hingga teknik pengukusan. Ikan lele dipilih karena mudah dibudidayakan, bernilai gizi tinggi, dan memiliki potensi sebagai bahan olahan pangan.
Tidak hanya praktek memasak, mahasiswa juga memberikan pemahaman tambahan mengenai cara pemilihan ikan lele yang baik. Penjelasan meliputi ciri fisik seperti bentuk tubuh, warna kulit, dan bau khas yang dapat membedakan antara lele yang diberi pakan organik dan pakan tidak organik. Informasi ini dinilai sangat bermanfaat bagi para ibu PKK untuk memastikan kualitas bahan baku yang akan mereka olah.
Sebagai bentuk penerapan dari pelatihan tersebut, kegiatan ditutup dengan sesi yang paling ditunggu-tunggu, yaitu perlombaan menghias dimsum lele antar kelompok ibu-ibu PKK. Suasana menjadi semakin meriah ketika para peserta berlomba menyajikan dimsum dengan tampilan sekreatif mungkin.
Kreasi unik bermunculan, seperti dimsum berbentuk bunga, karakter lucu, hingga tema hiasan khas rumah tangga. Kegiatan ini dibagi menjadi empat tim, yang masing-masing menghasilkan sajian dengan bentuk dan tema yang berbeda sesuai dengan kreativitas masing-masing kelompok.
Di akhir sesi, para ibu PKK juga menerima produk olahan dimsum lele yang telah disiapkan oleh Kelompok 17 MMD UB 2025. Produk tersebut dikemas secara menarik lengkap dengan desain kemasan, penataan logo, serta informasi komposisi bahan di dalamnya. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi warga untuk mengembangkan wirausaha berbasis pangan lokal, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa ke depannya.
Kegiatan yang dilaksanakan mendapat apresiasi dari para ibu PKK, salah satunya disampaikan oleh Ibu Rila Demi Estunning Farim, yang mengungkapkan harapannya agar kegiatan serupa dapat terus berlanjut. “Kalau bisa sering diadakan acara kayak gini, satu bulan sekali,” ujarnya dengan antusias.
Editor : A. Nugroho