MALANG KOTA - Tiga sekolah rakyat di Malang Raya resmi beroperasi mulai kemarin (14/7). Dua di antaranya berada di Kota Malang. Sedangkan satu sekolah lainnya berlokasi di Kota Batu.
Pada pekan pertama, kegiatan yang dilaksanakan belum menjangkau materi pembelajaran. Ada tes kesehatan, tes kebugaran, dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) (selengkapnya baca grafis). Di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 di Gedung Politeknik Kota Malang (Poltekom), 100 siswa telah menjalani tes kesehatan dan kebugaran.
Deteksi dini dilakukan untuk mengetahui apakah ada siswa yang memiliki penyakit menular atau tidak. Jika ada siswa yang menderita penyakit menular, contohnya TBC, siswa tersebut akan mendapat perawatan terlebih dahulu hingga sembuh. Ketika dinyatakan sembuh, mereka boleh beraktivitas di asrama.
Kepala SRMP 16 Poltekom Rida Afrilyasanti menuturkan, siswa yang dinyatakan sehat akan menjalani program persiapan selama dua bulan. Tujuannya agar siswa bisa beradaptasi dengan kehidupan di asrama.
”Siswa harus dibiasakan bangun pagi, selama dua bulan ini merupakan program pengenalan. Mereka juga harus berlatih hidup mandiri, seperti membenahi kasur masing-masing,” jelas Rida.
Selama dua bulan tersebut, SRMP 16 akan menekankan pembelajaran Matematika dan IPA atau matrikulasi. Menurut Rida, pihaknya membutuhkan pemetaan terkait potensi dalam hal akademik. Dari sana akan dilakukan penanganan sesuai kemampuan individu anak didik. ”100 anak ini kan berasal dari latar belakang berbeda-beda. Kami membutuhkan pemetaan terkait potensi dasar mereka, nanti akan diupayakan levelnya sama semua,” kata dia.
Aktivitas siswa akan dimulai pukul 04.00 WIB dan akan berakhir pukul 21.00 WIB. Rida menjelaskan, mulai jam empat pagi, siswa akan diajak beribadah bersama. Selanjutnya melakukan olahraga dan bersih-bersih. Proses pembelajaran dimulai seperti sekolah biasa, yakni mulai pukul 07.00 WIB. ”Hal yang berbeda dibanding sekolah biasa, setelah pembelajaran umum, siswa kembali beraktivitas. Namun yang menyenangkan mereka, bisa dibilang untuk pengembangan bakat,” papar mantan guru SMA Taruna Nala Jawa Timur itu.
Selama dua bulan pertama, siswa SRMP 16 dilarang membawa handphone. Itu agar mereka bisa fokus dalam mengikuti program persiapan. Jika berada dalam keadaan darurat, siswa maupun orang tua bisa menghubungi wali asuh. ”Nanti juga ada waktu berkunjung dan anak ini boleh keluar asrama. Detailnya masih kami rancang,” tambah dia.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat turut mengunjungi fasilitas di gedung Poltekom, kemarin. Dia memastikan bila semua sangat layak. Dia meninjau mulai dari ruang kelas, ruang kamar atau asrama, dan melihat tes kesehatan yang dilakukan siswa sekolah rakyat. ”Saya cek sudah siap 100 persen, seperti bantal terus kasurnya juga empuk. Nanti juga ada tambahan bantuan berupa laptop dan smart TV,” ujar Wahyu.
Meski itu program dari Kementerian Sosial, dia memastikan bahwa Pemkot Malang akan mengawal penuh selama satu bulan. Setelah kurun waktu itu, bakal dilakukan evaluasi. Dia meminta kepada tenaga pendukung di sekolah maupun orang tua siswa yang mendapati keluhan untuk bisa melapor ke Pemkot Malang.
Di tempat lain, 75 siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 di gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jatim di Jalan Kawi, Kota Malang juga mulai mengikuti aktivitas. Puluhan siswa yang diterima di SR jenjang SMA itu meliputi 31 laki-laki dan 44 perempuan.
Sebanyak 18 di antaranya terdata sebagai warga Kabupaten Malang yang termasuk dalam desil 1 sampai desil 2 dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kepala Sekolah SRMA 22 Kota Malang Rahmah Dwi Norwita Imtihana menjelaskan, pada hari pertama masuk sekolah, para siswa mengikuti pembukaan MPLS.
Pembukaan dilakukan secara serentak oleh Menteri Sosial Republik Indonesia (RI) Saifullah Yusuf melalui siaran langsung. Di SRMA 22 Kota Malang, juga hadir Kepala Dinas Kabupaten Malang Pantjaningsih Sri Redjeki. Selain itu juga ada angora Komisi E DPRD Jawa Timur, para siswa, hingga orang tua. ”Dalam kesempatan tersebut, kami juga memberikan sosialisasi kepada orang tua mengenai jadwal anak-anak mereka selama di asrama,” kata Wita, sapaannya.
Di sana, siswa tetap bisa membawa ponsel. Namun setelah pukul 21.00, ponsel harus dikumpulkan. Tujuannya agar waktu istirahat lebih efektif.
Sementara untuk pembelajaran, sekolah menyiapkan tiga kurikulum. Yakni kurikulum akademik, kurikulum asrama, dan kurikulum persiapan. ”Yang berbeda ada pada kurikulum persiapan. Jadi sebelum benar-benar bersekolah, siswa akan kami beri persiapan selama tiga bulan untuk menumbuhkan kedisiplinan, leadership, adaptasi, karakter, hingga bagaimana mereka membentuk komunitas,” papar dia.
Karena adanya persiapan selama tiga bulan, pembelajaran belum dilakukan dalam waktu dekat. Melainkan masih pada September mendatang. Selebihnya, proses pembelajaran tidak berbeda dengan yang berlangsung di SMA lain. Para siswa juga bisa memilih ekstrakurikuler berdasar minat dan bakat yang dijadwalkan setiap hari Sabtu.
Kesempatan untuk menyekolahkan anak di SRMA 22 Kota Malang disambut baik oleh para orang tua. Seperti disampaikan Sri Yuyun, warga Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.
Yuyun merasa bersyukur karena putra sulungnya yang bernama Randi Nanda Pratama bisa diterima sebagai siswa SR. Sebelumnya, Randi sempat bersekolah di MTS swasta, namun berhenti.
”Anaknya putus sekolah karena saya dan suami penghasilannya tidak tetap. Suami hanya pemulung, sehingga tidak memiliki biaya untuk sekolah,” kata dia. Yuyun bercerita kalau semula dia termasuk dalam desil 2 di DTSEN. Sementara yang menjadi prioritas utama adalah desil 1. Namun karena di Kota Malang ada dua SR, putranya bisa diterima.
Sekolah Rakyat di Kota Batu Kekurangan Wali Asuh
Di UPT Panti Perlindungan dan Pelayanan Sosial Petirahan Anak (PPSPA) Bima Sakti Kota Batu yang menjadi lokasi SRMP 14, ada 99 pelajar yang mengikuti aktivitas pada hari pertama. Satu siswa tidak hadir karena sakit. Kepala SRMP Kota Batu Yulianah mengungkapkan, mulanya jumlah siswa yang diterima sejumlah 102 anak.
Karena berbagai persoalan, siswa yang terdata resmi susut menjadi 100 siswa. ”Dari total itu, sebanyak 54 siswa asli Kota Batu sementara 46 siswa lainnya berasal dari Kabupaten Malang,” kata dia. Pada hari pertama masuk sekolah kemarin, satu siswa asal Kota Batu terpaksa tidak hadir lantaran sakit.
Beberapa waktu sebelum pembukaan, siswa tersebut dikabarkan mengalami kecelakaan dan cedera serius. Sehingga, harus menjalani perawatan di rumah sakit. Untuk selanjutnya, yang bersangkutan dapat menyusul bergabung ketika kondisinya mulai pulih.
Yuli menyebut, ada beberapa tenaga yang diberdayakan dalam SRMP 14. Meliputi 11 orang guru, operator, bendahara sekolah, penjaga sekolah, wali asrama, dan wali asuh. ”Untuk wali asuh ini, kami masih kekurangan karena hanya dikirim satu orang saja,” kata dia.
Idealnya, setiap wali asuh dan wali asrama bertanggung jawab terhadap 10 siswa. Maka, kebutuhan idealnya mencapai 10 orang. Artinya, SRMP 14 di Kota Batu masih kekurangan sembilan orang wali asuh dan wali asrama lagi. Untuk menutup itu, Yuli mengaku sudah menyiapkan skema piket. Yakni memberdayakan guru untuk secara bergantian menjaga siswa.
”Kebetulan para guru juga ngekos, jadi lebih fleksibel. Itu bisa kami lakukan sembari menunggu kiriman formasi dari pemerintah pusat,” tuturnya. Yuli tidak bisa memastikan karena rekrutmen wali asuh maupun asrama masih berlangsung hingga saat ini.
Wali Kota Batu Nurochman memastikan, seluruh fasilitas yang disediakan di SRMP 14 dipastikan sudah representatif. Meliputi empat ruang kelas dengan kapasitas masing-masing 25 siswa. Kemudian, empat asrama yang kapasitas per kamarnya mencapai 4 sampai 6 siswa.
Saat mengikuti pembelajaran di SRMP, Cak Nur memastikan jika tetap ada jadwal kunjungan rutin oleh orang tua. ”Menurut arahan pemerintah pusat, bisa dijadwalkan pada hari Minggu agar tidak mengganggu aktivitas belajar,” jelas dia.
Kendati begitu, Cak Nur menegaskan wali siswa tidak perlu khawatir. Sebab, komunikasi sekolah dan orang tua akan tetap berlangsung melalui grup WhatsApp (WA). Sehingga, siswa masih bisa terpantau meski tidak berada di rumah. (adk/mel/ori/by)
Editor : A. Nugroho