TUMPANG – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2025/2026 di SMAN 1 Tumpang tergolong spesial. Selain pengenalan tata tertib dan berbagai kegiatan pengembangan diri, juga dimanfaatkan untuk menegaskan kembali komitmen Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA). Program unggulan itu sudah berjalan lebih dari satu dekade.
GNOTA bukan sekadar bantuan finansial, tapi juga wujud kepedulian guru dan orang tua untuk memastikan tak ada siswa yang tertinggal karena keterbatasan ekonomi. Program tersebut sudah berjalan sejak 2000-an. ”Hingga kini masih aktif dan semakin terorganisasi,” ujar Kepala SMAN 1 Tumpang Fadilah Umi Maisyaroh kemarin.
Dia mengatakan, GNOT muncul dari rasa kemanusiaan guru. Setiap bulan, dia melanjutkan, para guru menyisihkan sebagian gaji untuk keperluan siswa kurang mampu dan berprestasi. Penggunaannya seperti untuk pembelian buku dan biaya keperluan lainnya. “Ada kasus seorang siswa berprestasi diterima di perguruan tinggi IPB sekitar 2019, tapi terkendala biaya. Kami bantu dari dana GNOTA dan akhirnya berhasil berangkat," katanya.
”Bahkan ada siswa yang full gratis dari kelas 1 sampai lulus dengan adanya program tersebut,” tambahnya.
Hingga kini GNOTA telah membantu sembilan siswa aktif. Lewat program ini sekolah ingin memperkenalkan bahwa bersekolah di SMAN Tumpang sangatlah terjangkau dan bermutu.
Salah satu cara menjaga mutu adalah mewadahi minat dan bakat siswa lewat 27 jenis ekstrakurikuler. Sekolah sengaja menyediakan banyak ekstrakurikuler untuk meningkatkan prestasi siswa, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
Dalam MPLS tahun ini, promosi ekstrakurikuler juga menjadi daya tarik tersendiri. Kegiatan ini dikemas seperti kampanye kreatif yang menarik minat siswa baru. 27 ekstrakurikuler aktif ditampilkan secara langsung, mulai dari OSIS, Pramuka, pencinta alam dan PMR, hingga klub bahasa asing seperti Bahasa Korea dan Jepang. ”Juga ada ekstrakurikuler olahraga yang telah mengharumkan nama sekolah hingga tingkat Jatim seperti karate,” kata dia.
Dalam MPLS ini pihaknya juga mengedepankan pendekatan yang ramah, tegas namun tidak keras. Seluruh kegiatan dirancang membentuk karakter positif siswa, mulai dari pengenalan budaya sekolah, pemahaman tata tertib, materi wawasan kebangsaan, hingga penyuluhan kesehatan mental dan pencegahan perundungan, pinjaman online, serta pernikahan dini. Hari-hari MPLS diisi pula dengan kegiatan seperti pentas seni, pengenalan sarana prasarana sekolah, hingga kegiatan kebersihan dan kekompakan kelas.(zal/dan)
Editor : A. Nugroho