Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

30 Siswa SMK Negeri di Malang Raya Putus Sekolah

Fathoni Prakarsa Nanda • Rabu, 23 Juli 2025 | 17:45 WIB
Angka putus sekolah di SMK Negeri se Malang Raya.
Angka putus sekolah di SMK Negeri se Malang Raya.

MALANG RAYA - Jumlah siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tak sebanyak sekolah umum. Artinya, pengawasan yang dilakukan bisa jauh lebih mudah. Meski demikian, lembaga yang menyiapkan lulusannya memasuki dunia kerja itu tak lepas dari problem siswa putus sekolah. Total se-Malang Raya diperkirakan terdapat 30 siswa SMK negeri yang putus sekolah.

Kasus paling banyak terjadi di Kabupaten Malang. Dari sembilan SMK negeri yang ada, rata-rata ada 3 anak yang putus sekolah per satuan pendidikan. Sehingga jika ditotal, ada 27 siswa yang putus sekolah pada tahun ajaran 2024/2025. Data itu diungkapkan Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMKN Kabupaten Malang Lasmono.

Kebanyakan anak putus sekolah di jenjang SMK terjadi karena permasalahan keluarga. ”Misalnya orang tuanya berpisah, ada yang orang tuanya menikah lagi, ada juga yang ditinggal orang tuanya bekerja di luar negeri,” ujarnya kemarin (22/7). Ada juga yang karena sudah tergiur dengan pekerjaan. Sebagai contoh di sekolahnya, yakni SMKN 1 Kepanjen. Tahun ini ada dua anak yang putus sekolah. “Satu siswa karena kerja dan satunya karena permasalahan keluarga. Untuk permasalahan keluarga tersebut, siswa itu kemungkinan terlibat terlalu dalam. Sehingga tidak bisa mengatur waktu,” ucapnya.

Karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk mencegah siswa SMK putus sekolah. Misalnya, pembagian kelas disesuaikan dengan kemampuan siswa. Kelompok siswa dengan nilai tinggi disatukan, begitu pula sebaliknya. Sebab, terkadang ada siswa yang memilih keluar karena tidak mampu mengimbangi kecerdasan teman sekelasnya.

Pihaknya juga memiliki agen pencegahan bullying melalui Majelis Perwakilan Kelas (MPK). Sebab, ada siswa yang memilih keluar karena menjadi korban perundungan. Pembinaan dari guru Bimbingan Konseling (BK) juga diberikan setiap Senin dan Jumat. Dalam sesi pembinaan itu, siswa-siswi yang memiliki permasalahan, baik di keluarga maupun diri sendiri dapat berdiskusi atau curhat dengan gurunya. Guru BK juga memberikan pembinaan karier agar siswa-siswi yang merangkap bekerja bisa terus melanjutkan sekolah.

”Terakhir, kalau ada permasalahan yang benar-benar mendesak, kami melakukan home visit,” kata Lasmono. Biasanya cara itu dilakukan untuk siswa-siswi yang tidak hadir tanpa keterangan. Guru pelajaran akan membuat laporan bahwa ada siswa yang tidak masuk, kemudian ditindaklanjuti oleh wali kelas dan guru BK. Menurutnya, cara tersebut efektif untuk mencegah anak putus sekolah.

Untuk menghindari siswa putus sekolah karena salah jurusan, pihaknya juga sudah mengadakan open house sebelum pemilihan jurusan. Sehingga baik orang tua dan calon siswa dapat mengetahui terkait hal-hal yang akan dipelajari di masing-masing jurusan hingga peluang kerjanya. “Itu pun masih ada yang setelah satu semester merasa salah jurusan. Kalau kami tidak ada open house, bisa lebih banyak lagi,” kata dia.

Sulit Dicegah

Sementara itu, angka putus sekolah siswa SMK di Kota Malang terbilang rendah. Dari 13 SMK negeri di Kota Malang hanya ada 1 siswa yang tercatat putus sekolah. Hal tersebut berdasar temuan Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu.

Kasi SMK Cabdindik Provinsi Jatim Wilayah Kota Malang dan Kota Batu Frenky Minggaryana Dwi Putra menjelaskan, 1 siswa yang putus sekolah tercatat sebagai warga Kecamatan Kedungkandang. Dia berhenti sekolah dari salah satu SMK negeri karena harus membantu orang tua memenuhi kebutuhan ekonomi. ”Setelah kami upayakan, yang bersangkutan akhirnya melanjutkan ke paket C,” terangnya.

Ada juga temuan 2 anak usia SMA se-derajat yang tidak bersekolah. Namun, keduanya sedari awal memang belum melanjutkan pendidikan ke SMA atau SMK. ”Untuk dua anak ini akhirnya bisa melanjutkan pendidikan di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM),” imbuh Frenky.

Menurut Frenky, ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak tidak melanjutkan sekolah. Salah satunya bekerja untuk membantu orang tua. Tidak semua anak bisa melanjutkan sekolah sembari bekerja. Terkadang mereka kelelahan bekerja, sehingga memutuskan meninggalkan sekolah.

Di tempat lain, Kepala SMK Negeri 4 Kota Malang Gunawan mengungkapkan, setiap tahun di sekolahnya ada saja yang memutuskan tidak lanjut. Namun jumlahnya tidak banyak. ”Kebanyakan yang tidak mau lanjut itu yang memang tidak memiliki motivasi bersekolah,” ungkap Gunawan.

Padahal, pihak sekolah sudah berupaya melakukan pendekatan hingga tiga kali. Baik kepada siswa secara pribadi maupun orang tua. Namun, ada saja yang diam-diam mundur dari sekolah. Pihak sekolah pun sudah berupaya membangun iklim yang kondusif. Misalnya saja dengan mengadakan pembelajaran bersama teman sebaya, tetapi sekolah tidak bisa memaksa jika anak yang bersangkutan memilih keluar.

Karena Menikah                                                                          

Angka putus sekolah SMK di Kota Batu juga rendah. Hanya dua siswa dari total 2.119 siswa SMK negeri yang ada di Kota Batu. Namun, penyebab putus sekolah itu yang bikin geleng-geleng kepala. Dua siswa itu terpaksa putus sekolah akibat married by accident (MBA) atau hamil di luar nikah dan akhirnya menikah. Satu siswa tidak melanjutkan studi saat kelas XI dan satu siswa lainnya berhenti pada kelas XII.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Negeri Kolikul Huda menilai angka partisipasi pendidikan jenjang SMK negeri di Kota Batu sebenarnya cukup tinggi. Itu lantaran ketatnya persaingan untuk masuk ke SMK negeri. Daya tampung ketiga SMK negeri itu 870 kursi saja selama tahun ajaran baru. Peminat jurusan di SMK negeri membeludak setiap tahun. Mayoritas siswanya juga sudah terbiasa bekerja membantu usaha orang tuanya. Baik bertani, ternak, hingga berdagang. “Dipastikan tidak ada kasus putus sekolah karena masalah finansial,” beber Kepala SMK Negeri 3 Batu itu.

Untuk mengatasi angka putus sekolah jenjang SMK, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah meluncurkan Gerakan 1.000 Anak Putus Sekolah SMK Berdaya Lewat Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) dan Program Kecakapan Wirausaha (PKW). Melalui program tersebut, pemerintah pusat memberikan perluasan akses layanan pendidikan nonformal. Misalnya melalui balai latihan kerja (BLK) hingga pengembangan keterampilan wirausaha.

Kepala seksi (Kasi) SMK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu Frenky Minggaryana Dwi Putra mengatakan, program tersebut masih belum berjalan. Namun, pendataan angka putus sekolah masih terus dilakukan. ”Sayangnya pelaporan putus sekolah itu cukup minim. Kami kesulitan untuk tracking,” terangnya.

Frenky menambahkan, tak seluruh siswa yang putus sekolah bisa langsung ditangani program tersebut. Misalnya, putus sekolah karena kelalaian pribadi atau hamil di luar nikah. Tentu saran lanjutan akan diarahkan ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). ”Kalau sudah begitu tinggal kemauan siswa untuk melanjutkan pendidikan,” pungkasnya. (yun/mel/ori/fat)

Editor : A. Nugroho
#Malang Raya #siswa #smk negeri #Putus Sekolah #Disdik