Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

60 Persen Lebih Lulusan SMK di Malang Raya Terserap Kerja, Rata-Rata Pihak Sekolah Terkoneksi dengan Industri

Fathoni Prakarsa Nanda • Kamis, 24 Juli 2025 | 17:35 WIB
Lulusan SMK dan Serapan Dunia Kerja.
Lulusan SMK dan Serapan Dunia Kerja.

MALANG RAYA – Angka serapan kerja lulusan Sekolah Menengah Kejuruan di Malang Raya sudah berada di atas 60 persen. Bahkan di Kabupaten Malang, 70 persen lulusan SMK negeri diserap dunia kerja. Sebanyak 30 persen sisanya memilih melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi atau berwirausaha.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Negeri Kabupaten Malang Lasmono menyampaikan, mayoritas lulusan SMK memang langsung bekerja. Sedangkan sisanya memilih melanjutkan pendidikan atau berwirausaha.

“Sebagai contoh di SMKN 1 Kepanjen. Masih wisuda saja ada 50 persen siswa yang terserap kerja. Jika satu tahun bisa 70 persen,” ucapnya ditemui beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, SMK sebagai lembaga pendidikan vokasi memang harus memberikan terobosan-terobosan untuk meningkatkan keterserapan kerja. Sebab, orientasi utama siswa memilih SMK adalah bisa langsung bekerja setelah lulus. Jangan sampai SMK hanya getol mencari siswa tanpa bisa menjamin mereka diterima kerja.

Lasmono mencontohkan dua program yang dilaksanakan di SMKN 1 Kepanjen. Yaitu Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) dan Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW). Program PKW berupa penyediaan fasilitas bagi siswa-siswi yang ingin belajar berwirausaha. Seperti kantin dan food truck. Selain itu juga ada pembelajaran marketing secara digital. Siswa-siswi yang berwirausaha, seperti menjadi reseller, dibimbing untuk memasarkan barang-barangnya.

Hasilnya lebih konkret. Siswa-siswi pun mendapat uang lelah dari hasil berjualan. Untuk mempercepat proses penyaluran kerja, sudah ada ratusan perusahaan yang bekerja sama SMKN 1 Kepanjen.

”Perusahaan-perusahaan itu sekaligus menjadi tempat siswa menjalani Pendidikan Sistem Ganda (PSG) atau magang. Jika kinerjanya baik, mereka bisa bekerja di sana juga. Jadi dijamin dapat kerja,” ucapnya.

Bahkan, saat ini pihaknya kekurangan siswa untuk disalurkan menjadi tenaga kerja di bidang engineering perhotelan. Sebab, seluruh lulusan dari jurusan tersebut telah terserap kerja.

Kerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang juga dilakukan. Itu sebagai penghubung dengan Lembaga Penyaluran Kerja (LPK), utamanya yang menyalurkan informasi bekerja ke luar negeri. Sehingga tidak ada kerja sama langsung antara sekolah dan LPK. ”Tahun ini ada 10 lulusan kami yang akan berangkat ke Jepang,” imbuhnya.

SMK swasta juga sudah mampu menyalurkan lulusannya ke dunia kerja. Contohnya SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Sekitar 75 persen dari total siswanya telah terserap kerja. Sedangkan sisanya memilih untuk melanjutkan studi dan berwirausaha sekitar 25 persen.

Kepala SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen Moch. Arief Luqman Hakim mengaku menjalankan lima program untuk memaksimalkan serapan lulusan di sekolahnya. ”Kami aktif mengadakan job fair dan sudah memiliki teaching factory,” ucapnya.

Teaching factory adalah model pembelajaran berbasis produksi. Isinya mencakup kompetensi-kompetensi sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan standar kompetensi lainnya melalui pembuatan produk. Seperti servis motor.

Mereka juga memiliki program penguatan dan pelatihan Tes Potensi Akademik (TPA) serta psikotes. Pihaknya juga melakukan pembentukan kedisiplinan dan karakter positif melalui kegiatan bintalsik di YonZipur Kepanjen.

”Kami selalu aktif memantau progres siswa melalui tracer study,” pungkasnya.

Dorong Kolaborasi

Sementara itu, lulusan SMK di Kota Malang yang diserap dunia kerja sekitar 60 persen tiap tahun. Angka itu merupakan perkiraan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu. Sisanya yang 40 persen memutuskan untuk menunda bekerja.

”Ada yang memilih kuliah, berwirausaha, hingga dalam masa tunggu,” kata Kasi Cabdindik Jatim Wilayah Kota Malang dan Kota Batu Frenky Minggaryana Dwi Putra kemarin (23/7).

Dalam masa tunggu itu ada yang masih mencari pekerjaan, ada pula yang mengikuti sertifikasi kompetensi. Untuk meningkatkan keterserapan kerja, sekolah didorong berkolaborasi dengan pelaku usaha atau perusahaan sebagai mitra.

Sebagai contoh di Kota Malang yang identik dengan pariwisata, sekolah bisa menggandeng kerja sama dengan hotel. ”Salah satunya yang dilakukan SMK Negeri 3 Kota Malang. Mereka bermitra dengan hotel di Klojen untuk kegiatan praktik memasak hingga front office,” terang Frenky.

Siswa yang memiliki minat seperti wirausaha juga tetap mendapat pengarahan dari sekolah. Yang sudah sering dilakukan adalah menggandeng UMKM untuk belajar wirausaha. Bisa juga yang sifatnya fleksibel seperti start-up.

Contoh lainnya di SMK Negeri 6 Kota Malang. Ketua Bursa Kerja Khusus (BKK) SMK Negeri 6 Kota Malang Siti Kholifah mengatakan, dari 800 siswa yang lulus setiap tahun, 90 persen di antaranya memutuskan untuk bekerja.

”Biasanya mereka ada yang direkrut melalui job fair hingga jaringan alumni di perusahaan tambang,” kata Kholifah. Sementara yang melanjutkan kuliah atau melanjutkan usaha orang tua sekitar 10 persen.

Kelas Industri

Kota Batu juga mencatatkan serapan lulusan SMK di dunia kerja sekitar 60 persen. Dengan asumsi 2.119 siswa, tingkat keterserapannya mencapai 1.271 siswa. Sementara 848 siswa lainnya memilih untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi, wirausaha, hingga menjadi pencari kerja.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Negeri Kolikul Huda menilai tingkat serapan itu sebenarnya perlu ditingkatkan lagi. Salah satunya dengan mendorong sekolah melakukan inovasi. Misalnya membuka kelas-kelas industri yang terintegrasi langsung dengan dunia kerja.

“Yang sudah terealisasi di sekolah saya (SMKN 3 Batu, red). Itu ada dua kelas industri yang fokusnya lebih mengarah ke kesiapan kerja,” ujarnya. Di kelas tersebut, jam praktik siswa lebih besar dan mendetail. Bahkan tak jarang kelas langsung diajar oleh praktisi. Pada semester akhir kelas XII, mereka akan mengikuti tes masuk industri. Tak jarang lulusan SMK banyak yang terserap kerja sebelum wisuda.

Pria asli Kecamatan Bumiaji itu menambahkan, siswa juga dibekali untuk mengikuti program tes kemampuan akademik (TKA). Program itu baru diluncurkan tahun ini berdasar Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 9 Tahun 2025. Tes digunakan untuk memperoleh informasi capaian akademik untuk keperluan melamar kerja. ”Tapi itu sifatnya opsional. Kami juga masih uji coba tahun ini,” tegasnya

Di tempat lain, Kepala SMKN 2 Batu Slamet Winarto mengatakan, keterserapan angka kerja di sekolahnya cukup tinggi. Dari 143 lulusannya, 116 siswa mampu diterima kerja. Sementara 16 siswa memilih untuk kuliah dan 11 lainnya berwirausaha.

“Kalau bekerja sebelum lulus ada sekitar 32 siswa,” papar Slamet. Jurusan yang ada di SMKN 2 Batu sangat mendukung potensi Kota Batu yang bergerak di bidang pertanian. Seperti agribisnis tanaman pangan, pengolahan hasil pertanian, hingga pertamanan.

“Umumnya juga terserap di Kota Batu karena kondisinya relevan dengan kebutuhan tenaga kerja di sini,” tandasnya. (yun/mel/ori/fat)

Editor : A. Nugroho
#mkks #Malang Raya #PKW #SMK #PKK