Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

203 Sekolah Ikuti Diklat AI dan Coding, Siapkan Materi Pembelajarannya untuk Tahun Ajaran Baru

Bayu Mulya Putra • Rabu, 13 Agustus 2025 | 17:00 WIB

 

 

TERAPKAN LEBIH DULU: Pelajar SMPN 2 Batu mempelajari coding lewat aplikasi blockly games di Laboratorium Komputer, kemarin (12/8).
TERAPKAN LEBIH DULU: Pelajar SMPN 2 Batu mempelajari coding lewat aplikasi blockly games di Laboratorium Komputer, kemarin (12/8).

MALANG RAYA - Materi pembelajaran Artificial Intelligence (AI) dan coding mulai dipersiapkan sejumlah sekolah. Sesi pendidikan dan pelatihan (diklat)-nya sudah diikuti 203 perwakilan sekolah. Terbanyak di Kota Malang. Disusul Kabupaten Malang dan Kota Batu (selengkapnya baca grafis).

Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Ganis Indajani mengatakan, sekolah yang terpilih mengikuti sesi diklat yakni yang mendapat Bantuan Operasional (BOS) Kinerja. Meliputi 69 SD serta 30 SMP. Contohnya SD Negeri Arjowinangun 2, SD Insan Amanah, SMP Negeri 1 Malang, dan SMP 2 YPK Jawa Timur.

Pembelajaran AIdan Coding di Sekolah- Sekolah.
Pembelajaran AIdan Coding di Sekolah- Sekolah.

”Pelatihan untuk Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) dilakukan dengan menggandeng lembaga diklat,” terang Ganis, kemarin (12/8). Lembaga diklat yang digandeng untuk memberikan materi KKA kepada para guru yakni Lembaga Penyelenggara Diklat (LPD) Jully Tjindrawan Robotik dan LPR IT Smart.

Selain mendapat BOS Kinerja, ada persyaratan lain bagi guru yang berhak mengikuti diklat. Seperti memiliki kualifikasi pendidikan S1 se-derajat, berstatus sebagai guru kelas atau guru informatika, terampil mengoperasikan komputer, dan memiliki akun belajar.id.

Diklat sudah berlangsung mulai bulan Juni lalu. Dan, dijadwalkan berlangsung sampai Oktober mendatang. Ada lima kelompok yang sudah mengikuti diklat. Yakni kelompok Malang I, Malang II, Malang III, Malang IV, dan Malang V. ”Satu kelompok berisi 30 sampai 35 guru. Artinya pada Agustus ini ada sekitar 175 guru yang sudah mengikuti diklat,” imbuh pejabat eselon III B Pemkot Malang tersebut.

Untuk diklat KKA, biasanya berlangsung selama enam hari. Materinya disesuaikan dengan jenjang sekolah. Dikutip dari situs resmi Ruang GTK, di jenjang SD yang diajarkan berupa KKA sebagai kurikulum nasional. Juga diajarkan bagaimana berpikir komputasional, konsep dasar kecerdasan artifisial, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial. Materi serupa juga diterapkan untuk jenjang SMP.

Kabid Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Malang Muflikh Adhim menambahkan, pembelajaran KKA akan diberikan kepada pelajar kelas 5 sampai 6 SD dan pelajar kelas 8 sampai 9 SMP. ”Tahun ini kami upayakan sudah bisa berlangsung,” terangnya. Adhim menyatakan bahwa materi pembelajaran yang lengkap masih disusun.

Di Kabupaten Malang, diklat diikuti 64 perwakilan sekolah. Sama seperti di Kota Malang, diklat tersebut dilaksanakan Kemendikdasmen melalui LPD. ”Pelatihan sudah dimulai sejak Juni dan akan berlangsung sekitar 2,5 bulan. Saat ini juga masih berjalan,” terang Kasi Tenaga Teknis Bidang SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang Muhammad Yusuf Antoni.

Dia optimistis penerapannya bisa dilakukan begitu tahun ajaran baru dimulai. Dari rencana awal, penerapannya bakal dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Dan, disesuaikan dengan sarana dan prasarana sekolah. ”Contohnya di SMPN 4 Kepanjen itu juga ada pembelajaran koding. Tapi bukan mata pelajaran wajib,” kata Toni.

SMPN 4 Kepanjen memiliki kelas digital. Terdapat berbagai pelajaran tambahan yang diberikan. Mulai dari pemrograman website, desain grafis, entrepreneur (digital marketing), hingga Internet of Things (IoT). Di dalam IoT terdapat materi terkait coding. Coding yang diajarkan disesuaikan dengan jenjangnya.

Mulai dari pengenalan dasar-dasar coding, coding drag and drop, hingga bahasa pemrograman sederhana. Berdasar data dari Disdik Kabupaten Malang tahun 2024 lalu, tercatat ada 10 sekolah yang sudah menerapkan pembelajaran coding. Selain SMPN 4 Kepanjen ada SMPN 1 Singosari, SMPN 2 Singosari, SMPN 3 Singosari, SMPN 6 Singosari, SMPN 1 Karangploso, SMPN 5 Karangploso, SMPN 1 Lawang, SMPN 2 Lawang, dan SMPN 3 Lawang.

Di Kota Batu, ada 28 perwakilan SD dan 12 perwakilan SMP yang bersiap menerapkan pembelajaran AI dan Coding. Kabid Pembinaan SD Disdik Kota Batu Daud Andoko mengatakan, pelatihan dipimpin pihak swasta yang direkomendasikan Pemkot Batu. Kota Batu menunjuk penyedia dari Kodekiddo asal Kota Surabaya.

Setiap sekolah menyetorkan masing-masing satu guru yang memiliki kemampuan IT untuk mengikuti diklat. Daud menyebut, sekolah akan dibebaskan memilih implementasi pembelajaran KKA tersebut. Ada tiga pilihannya. Yang pertama yakni pembelajaran KKA sebagai mata pelajaran pilihan. Berikutnya yakni pembelajaran yang terintegrasi dengan mata pelajaran (mapel) lain yang sudah ada. ”Bisa juga diterapkan lewat ekstrakurikuler,” kata Daud.

Salah satu sekolah yang sudah mengimplementasikan pembelajaran KKA yakni SMPN 2 Batu. Guru Informatika SMPN 2 Batu Rateh Denok Viannata mengatakan, untuk jenjang pemula, jenis coding yang diajarkan lebih sederhana dan bersifat visual. ”Kami sudah terapkan coding baik secara plugged maupun unplugged atau tanpa perangkat komputer,” terang dia.

Sebagai contoh, ada pembelajaran lewat permainan brick. Dari sana, bakal diukir kemampuan pelajar dalam berpikir secara terarah dan sistematis. Jika menggunakan perangkat komputer, biasanya memakai aplikasi blockly games sebagai pemula belajar coding. ”Intinya coding yang kami ajarkan yang paling mendasar. Khususnya dalam hal kemampuan pemecahan masalah yang dipahami oleh komputer,” jelas Rateh.

Setelah mampu memahami pemrograman dasar, Rateh akan mulai mengajarkan scratch coding. Dalam tahap tersebut, pelajar diajari membuat animasi, permainan, cerita interaktif, dan berbagai karya lain yang divisualisasikan lewat bahasa pemrograman. Tahap itu akan terintegrasi dengan AI atau kecerdasan artifisial.

Rateh menambahkan, bahwa para siswa cukup tertarik untuk belajar pemrograman lebih lanjut. Hanya ada beberapa kendala teknis. Misalnya jam pelajaran yang terbatas. ”Kadang perangkat komputer yang ada di sekolah belum memenuhi kriteria atau lemot,” pungkas dia. (mel/yun/ori/by)

 

Editor : A. Nugroho
#Pembelajaran AI #Disdik kabupaten malang #coding #KKA #disdikbud kota malang #lpd