MALANG KOTA - Problem kekurangan guru di sekolah-sekolah di Kota Malang tak kunjung usai. Khususnya di jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Hingga kemarin (27/8), terpantau ada 222 permintaan guru dari setiap satuan pendidikan.
Mayoritas kekurangan guru dari mata pelajaran IPS. Kekurangannya mencapai 45 guru (selengkapnya baca grafis). Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana mengaku bahwa pihaknya tak bisa berbuat banyak. Sebab, ada instruksi agar sekolah-sekolah tidak menjaring guru tidak tetap (GTT).
Saat ini, penjaringan guru sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat. Lewat dibukanya formasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang berpusat di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB). ”Kami masih menunggu pengumuman PPPK Tahap II. Namun jelas itu tidak langsung menjawab semua kekurangan guru,” ujar pejabat eselon II itu.
Dia menyebut bahwa kebutuhan guru selalu fluktuatif setiap harinya. Itu karena proyeksi guru yang pensiun belum dipetakan pemkot. Lebih lanjut, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Ketenagaan Disdikbud Kota Malang Ganis Indajani menyebut saat ini pihaknya masih memetakan guru yang akan pensiun per bulannya.
Harapannya, pemerintah pusat bisa mempertimbangkan pengangkatan PPPK berdasar data itu. ”Kalau sudah ada proyeksi pengganti untuk guru pensiun bisa memudahkan keterisian guru yang kosong,” papar dia. Ganis memperkirakan kekurangan guru itu akan terjadi hingga akhir tahun. Dasarnya bisa dilihat dari tren pengangkatan PPPK yang tidak banyak. Untuk itu, Ganis meminta sekolah bersabar dan menyiasati kekurangan guru terlebih dahulu.
Di tempat lain, Kepala SMPN 8 Kota Malang Sri Nuryani mengaku pihaknya kesulitan mencari guru IPS. Posisi itu sudah satu tahun kosong. Beberapa guru sempat diminta merangkap mapel IPS juga. Namun murid-murid protes karena gurunya tidak terlalu menguasai materi.
”Kami mau mengangkat GTT juga sudah tidak boleh, jadi guru ekstrakurikuler yang punya riwayat pendidikan IPS saya minta mengajar,” papar Sri. Itu terpaksa dilakukan Sri lantaran guru lain sudah memiliki banyak tugas. Dia juga sudah mengajukan permintaan guru IPS sejak tahun lalu, namun hingga sekarang belum ada formasi PPPK untuk guru IPS yang ditempatkan di sekolahnya. (aff/by)
Editor : A. Nugroho