Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Maba Jalur Mandiri di Dua Kampus Bertambah, Di UB Kuotanya Meningkat untuk 3.603 Mahasiswa

Bayu Mulya Putra • Jumat, 12 September 2025 | 16:50 WIB

 

Peningkatan Maba Jalur Mandiri di Tiga Kampus.
Peningkatan Maba Jalur Mandiri di Tiga Kampus.

MALANG KOTA - Kuota mahasiswa baru (maba) di dua kampus negeri meningkat tajam pada tahun ini. Yang pertama di Universitas Brawijaya (UB). Pada 2024 lalu, UB menerima 14.821 maba. Tahun ini, jumlahnya naik menjadi 17.133 maba.

Hal serupa juga terjadi di Universitas Negeri Malang (UM). Tahun lalu, UM menerima 11.117 maba. Sementara tahun ini, mereka menerima 12.049 maba. Penambahan kuota itu turut berdampak pada meningkatnya kuota untuk jalur mandiri.

Total, UB dan UM menerima tambahan 5.123 maba dari jalur mandiri. Terbanyak di UB dengan tambahan 3.603 maba dibanding tahun sebelumnya. Sementara di UM ada tambahan 1.520 maba dari jalur tersebut. Ketentuan kuota untuk jalur mandiri itu masih tetap sama seperti tahun sebelumnya.

Dasarnya yakni Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 48 Tahun 2022 tentang Penerimaan Maba Program Diploma dan Sarjana pada Perguruan Tinggi Negeri. Rinciannya, kuota 20 persen untuk jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Lalu 30 persen untuk jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Sementara untuk jalur mandiri, maksimum kuotanya 50 persen.

”Tahun ini kami menerima 9.403 dari jalur mandiri, meningkat hampir 4 ribuan dibanding tahun sebelumnya,” ujar Arif Hidayat SKom MM, Sekretaris Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik (DALA) UB. Sebab tahun lalu, UB hanya menerima 5.800-an mahasiswa jalur mandiri (selengkapnya baca grafis).

Peningkatan itu dipicu pembukaan program studi (prodi) baru. Tahun ini ada dua prodi yang diluncurkan UB. Selain itu, rasio jumlah dosen dan mahasiswa di UB juga dianggap mumpuni untuk dilakukan penambahan kuota. Akibat jumlah mahasiswa yang meningkat, UB juga mendapat suntikan dana lebih besar.

 

Terutama dari uang kuliah tunggal (UKT) dan Iuran Pengembangan Institusi (IPI). Arif merinci, nilai UKT tertinggi dari kategori VIII. ”Tapi tidak bisa dirata-rata semua dapat UKT tinggi, golongan VIII kan mulai Rp 6,5 juta sampai Rp 24 juta,” lanjut Arif. Biasanya, UKT tertinggi selalu ditempati prodi dari Fakultas Kedokteran. Sebab, masa perkuliahannya membutuhkan banyak praktik lapangan dengan alat serta bahan yang cukup mahal.

Secara garis besar, maba jalur mandiri di UB masuk ke dalam UKT golongan 4 sampai 8. Dengan angka UKT terendah Rp 3,8 juta hingga Rp 24 juta. Begitu juga dengan IPI, sebanyak 40 persen maba jalur mandiri masuk golongan IPI VIII, dengan nilai Rp 18 juta sampai Rp 150 juta.

Peningkatan kuota maba mandiri juga terjadi UM. Tahun lalu, mereka hanya menerima 2.984 maba dari jalur itu. Tahun ini jumlahnya meningkat dua kali lipat. Total ada 4.504 maba dari seleksi mandiri UM.

”Tambahan kuota maba itu juga disebabkan banyaknya prodi kami yang naik status akreditasinya,” ujar Wakil Rektor II UM Prof Dr Puji Handayati SE Ak MM CA CMA.

Peralihan akreditasi prodi itu berasal dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI. Bonusnya berupa kuota tambahan dari kementerian. Alokasi tambahan kuota itu juga didominasi maba yang masuk prodi baru. Jumlahnya mencapai 60 persen dari total tambahan kuota.

Angka itu dinilai ideal dengan tetap mempertimbangkan rasio dosen dan kesediaan tenaga pendidik. Melonjaknya maba di sana juga menambah pemasukan UM. Terutama dari UKT dan IPI. Sayangnya, UM masih enggan merinci berapa besaran dana yang mereka peroleh dari dua sumber uang itu.

Di UM sendiri, besaran UKT-nya mulai dari Rp 500 ribu dan tertinggi Rp 23,5 juta. Untuk IPI, mereka membagi ke dalam dua golongan. Mulai Rp 17,5 juta sampai Rp 225 juta. Persentasenya sama-sama 50 persen untuk dua golongan. Yang jelas, UKT serta IPI yang dibayarkan mahasiswa sepenuhnya kembali kepada mahasiswa. Bentuknya berupa pelayanan akademik dan fasilitas kampus yang memadai. Serta dukungan akademik berupa dana penelitian melalui skema tertentu.

Puji juga belum bisa memetakan berapa mahasiswa yang masuk dalam golongan tiap UKT. Sebab proses itu dilakukan melalui sistem informasi akademik (Siakad) UM. Selain itu, UKT ditentukan berdasar data personal mahasiswa sehingga jenisnya sangat beragam.

Berbeda dengan UB dan UM, jumlah maba jalur mandiri yang diterima di UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang mengalami penurunan. Kendati demikian, nominal biaya kuliah yang dibayarkan tetap tak berubah. Baik UKT maupun biaya untuk ma'had.

Kepala Bagian (Kabag) Keuangan dan Akuntansi UIN Maulana Malik Ibrahim Hanik Tasnida menjelaskan, pada jalur mandiri, UKT yang berlaku dari golongan 1 sampai golongan 7. Besarannya bergantung prodi masing-masing.

Sebagai contoh, untuk Prodi Pendidikan Dokter, nilai UKT tertingginya Rp 40,8 juta. Disusul dengan Prodi Farmasi senilai Rp 16,3 juta, Prodi Teknik Elektro Rp 14,5 juta, dan Teknik Mesin Rp 13 juta. ”Ada juga mandiri yang masuk golongan UKT rendah, tetapi dengan berbagai macam pertimbangan seperti kondisi ekonomi kedua orang tua,” terang Hanik.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah keluarga yang terdampak bencana, orang tua yang terkena PHK, atau meninggal dunia. Hanik memberi contoh, untuk mahasiswa jalur mandiri yang masuk golongan 1 biasanya tidak banyak. Jika diestimasi antara 10 sampai 15 maba saja.

Selain itu, setiap mahasiswa juga diminta membayar biaya ma’had. Banderolnya sama seperti sebelumnya. Senilai Rp 7,5 juta untuk kampus 1, sementara kampus 2 dan kampus 3 senilai Rp 10 juta. ”Ada perbedaan nominal karena ma’had pada kampus 1 dengan kampus 2 dan 3 juga berbeda,” sebut Hanik. Sebagai contoh untuk ma’had di kampus 2 dan 3 ada fasilitas belajar hingga toilet yang terpisah. Sementara kampus 1 fasilitas bersama dan secara kapasitas lebih bisa menampung banyak mahasiswa. (aff/mel/by)

Editor : A. Nugroho
#Universitas Negeri Malang (UM) #Maba #jalur mandiri #Universitas Brawijaya (UB)