Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Lima Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Sarung Tangan Canggih Pengecek Kesehatan

Aditya Novrian • Jumat, 19 September 2025 | 17:08 WIB
INOVATIF: Alat berbentuk sarung tangan itu dicoba langsung untuk mendeteksi enam parameter vital tubuh.
INOVATIF: Alat berbentuk sarung tangan itu dicoba langsung untuk mendeteksi enam parameter vital tubuh.

 

Mampu Deteksi Enam Parameter Vital dalam Satu Menit.

Berawal dari keresahan melihat akses kesehatan yang sulit dijangkau warga Suku Tengegr, lima mahasiswa Universitas Brawijaya lintas jurusan melahirkan VitalSense. Alat berbentuk sarung tangan itu bisa membaca enam tanda vital tubuh tanpa rasa sakit, bahkan dalam hitungan menit.

DARI kejauhan, VitalSense hanya tampak seperti sarung tangan biasa. Warnanya hitam polos, tidak jauh berbeda dengan aksesori tangan yang kerap digunakan pengendara motor atau pekerja lapangan. Namun siapa sangka, di balik tampilan sederhana itu tersembunyi teknologi yang mampu membaca enam parameter vital tubuh manusia.

Mulai denyut nadi, saturasi oksigen, kolesterol, tekanan darah, kadar glukosa, hingga suhu tubuh. Cara kerjanya pun mudah. Seperti memakai sarung tangan, pasien cukup memasukkan tangan ke alat tersebut. Di bagian dalam terdapat sensor kecil berukuran 5 x 3 x 4 sentimeter yang langsung memproses data tubuh.

Hanya butuh sekitar satu menit, layar kecil di permukaan VitalSense akan menampilkan angka-angka hasil pemeriksaan seperti tekanan darah 110/80, suhu tubuh 36 derajat, saturasi oksigen 99 persen, hingga denyut nadi 75 kali per menit.

Tim mahasiswa Universitas Brawijaya bersama dosen pembimbing teknik elektro menunjukkan alat VitalSense.
Tim mahasiswa Universitas Brawijaya bersama dosen pembimbing teknik elektro menunjukkan alat VitalSense.

VitalSense lahir dari kerja sama lima mahasiswa Universiats Brawijaya (UB) lintas jurusan. Dari Teknik Elektro ada Ferdy Sofyana Tri Putra, Muhammad Zaidan, dan Anas Asyraf. Dari Fakultas Kedokteran ada Gabriella Irwana. Lalu dari Keperawatan ada Mochammad Saiful Anwar yang akrab disapa Isal menjadi penggagas utama.

Inspirasi itu berawal dari pengamatan Isal terhadap masyarakat Suku Tengger di Desa Wonokitri, Pasuruan. Di desa yang berada di kaki Gunung Bromo itu, layanan kesehatan masih sangat terbatas. Rumah sakit terdekat berjarak 60 kilometer.

”Dari penuturan warga di sana, mereka kadang hanya sekali cek kesehatan dalam setahun. Kadang ya tidak pernah dicek sama sekali,” terang Isal.

Kenyataan itu membuatnya gelisah. Ia ingin ada alat kesehatan yang mudah digunakan, praktis, dan bisa menjangkau masyarakat di pelosok. Bersama timnya, Isal merancang VitalSense dan mendaftarkannya ke Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional.

Dari 800 proposal di bidang kesehatan, inovasi ini terpilih sebagai satu dari 37 yang mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi. ”Alasan utama kami menciptakan VitalSense karena ingin cek kesehatan bisa menjangkau masyarakat di pelosok. Karena ada kesempatan juga diikutkan PKM dan alhamdulillah mendapatkan pendanaan,” tutur mahasiswa asal Semarang itu.

Kehadiran VitalSense disambut antusias masyarakat Suku Tengger. Bagi mereka, alat ini menjadi alternatif ideal dibandingkan tes kolesterol atau glukosa dengan jarum suntik.

”Masyarakat di sana sudah minta VitalSense. Tetapi karena belum diproduksi massal, untuk sementara kami yang ke sana untuk cek kesehatan,” ucap Isal, mahasiswa angkatan 2022 itu.

Hingga kini, sekitar 250 orang sudah mencoba VitalSense. Tingkat akurasinya diklaim mencapai 98 persen.

”Kami diawasi ketat oleh komisi etik kedokteran Universitas Brawijaya. Setiap sampel diuji di laboratorium dan dibandingkan dengan hasil alat konvensional, hasilnya 98 persen akurat,” imbuhnya.

Keberhasilan ini membuat investor mulai melirik. PT Sonna Medika Jaya, perusahaan berbasis di Jakarta, menyatakan ketertarikannya untuk memproduksi VitalSense secara massal. Namun proses itu masih menunggu pengesahan hak paten.

”Kami sudah mendaftarkan ke HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), untuk hak paten masih berproses. Tetapi hampir fixed akan diproduksi oleh Sonna Medika ketika hak paten sudah dikantongi,” tandas Isal.

Secara teknis, VitalSense mengandalkan dua sensor utama. Sensor MAX30102 berfungsi mendeteksi denyut nadi, kolesterol, kadar gula, saturasi oksigen, dan tekanan darah. Sementara sensor MLX90614 mengukur suhu tubuh.

Mekanismenya sederhana, sensor inframerah ditempelkan pada nadi di tangan, kemudian menembakkan sinar ke darah. Pantulan sinar dari darah kembali ke sensor dan diterjemahkan menjadi data kesehatan.

”Secara mudah untuk dimengerti, sensor inframerah akan menembak ke darah. Kemudian dari darah itu memantul ke sensor lagi, dari sana muncul informasi data-data yang dibutuhkan,” pungkas Isal.

Dari sebuah ide sederhana di desa pegunungan, VitalSense kini bersiap menapaki panggung lebih besar. Bukan hanya membantu masyarakat Tengger, tapi juga berpotensi menjadi solusi pemeriksaan kesehatan praktis di berbagai pelosok Indonesia. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#Kesehatan #universitas brawijaya #malang kota #Teknologi