BLITAR - Politeknik Negeri Malang (Polinema) bersama lima mahasiswa berhasil merancang alat pemotong pita otomatis untuk UMKM yang ada di Blitar. Inovasi alat potong counter inkremental itu mampu meningkatkan efisiensi produksi hingga 40 persen.
Selain itu, mereka juga memberikan pelatihan manajemen keuangan digital agar pengelolaan usaha lebih tertata.
Ketua Tim Pelaksana Program Pengabdian Masyarakat, Agus Sukoco Heru Sumarno mengungkapakn usaha milik Dodik Alfi itu bergerak di bidang produsen tas anyaman berbahan pita, plastik, dan serat alami. Selama ini, usahanya terkendala pemotongan bahan yang masih manual.
"Hasil potongan sering tidak seragam, memakan waktu lama, bahkan menimbulkan pemborosan,” ujarnya.
Dengan adanya alat baru rancangan tim Polinema ini, hal tersebut memungkinkan pengaturan panjang pita dan jumlah potongan secara digital. Sehingga proses yang dilakukan lebih rapi, cepat, dan konsisten.
Selain inovasi teknologi, tim dosen dan mahasiswa Polinema juga memberi pendampingan manajemen. Mitra dilatih menggunakan aplikasi keuangan sederhana untuk mencatat pemasukan, pengeluaran, hingga membuat laporan laba rugi.
Tujuannya, pelaku UMKM bisa lebih mandiri dalam mengelola keuangan sekaligus menyiapkan strategi bisnis jangka panjang.
Puncak kegiatan ditandai dengan serah terima alat pemotong pita otomatis kepada UMKM Dodik Alfi. Seremoni sederhana itu berlangsung di lokasi usaha, disaksikan perwakilan Dinas Koperasi (Dinkop) Blitar yang sejak awal memfasilitasi kerja sama kampus dengan UMKM.
“Terima kasih kepada tim Polinema, mahasiswa, pengelola program dari Kementerian, dan Dinkop Blitar. Dukungan ini sangat membantu meningkatkan efisiensi produksi dan manajemen usaha kami,” ujar Alfiatun Ni’mah, penanggung jawab UMKM Dinkop Blitar.
Program pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari skema pemberdayaan berbasis masyarakat yang dikelola oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada tahun pelaksanaan 2025. Kegiatan tersebut sejalan dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) di bidang pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, dan inovasi industri kreatif.
Dengan inovasi dan pendampingan berkelanjutan, UMKM Dodik Alfi diharapkan makin berdaya saing, mampu menembus pasar ekspor. Serta menjadi model pemberdayaan yang bisa direplikasi pada UMKM lain.
Editor : A. Nugroho