MALANG KOTA - Pemanfaatan berbagai sumber daya untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah-sekolah patut diperhatikan. Sebab, hasil Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tahun lalu menunjukkan bahwa poin itu belum maksimal. Pada 2023, SD Negeri mendapat nilai 73,93 persen dan SD Swasta mendapat 74,23 persen.
Namun pada 2024, nilai keduanya turun drastis. SD Negeri mendapat 29,49 persen. Sedangkan SD Swasta mendapat 24,18 persen (selengkapnya baca grafis). Poin itu dinilai dari beberapa indikator. Salah satunya dari pemanfaatan Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) untuk peningkatan mutu pembelajaran.
Yang dilihat bukan anggaran yang masuk. Namun proporsi pemanfaatan bantuan itu untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Seperti pelatihan guru dan kepala sekolah. Juga pengadaan buku, bahan ajar, alat peraga, hingga pengembangan kurikulum dan asesmen. ”Kami sudah arahkan sekolah memperbesar porsi belanja untuk program literasi, numerasi, dan penguatan karakter siswa,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Muflikh Adhim.
ANBK memang menilai rata-rata standar sekolah di Kota Malang berdasar beberapa kategori. Dua di antaranya diujikan kepada siswa. Yaitu kemampuan numerasi dan literasi. Hasilnya, selama dua tahun, baik SD maupun SMP masih dikategorikan sedang dalam hal numerasi. Sementara nilai literasi cukup baik.
Adhim mengatakan, untuk meratakan kualitas sekolah, hal yang perlu diperhatikan yakni kualitas guru. Sebab, guru menjadi penentu arah proses pembelajaran. Untuk itu, pihaknya kerap mengadakan pelatihan pengembangan kualitas guru. Terbaru ada pelatihan koding dan Artificial Intelligence (AI). Itu tak lepas dari rencana penambahan mata pelajaran baru oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengan (Kemendikdasmen) RI.
Selain menyurvei kualitas siswa dan guru, ANBK juga menilai kualitas lingkungan sekolah. Mulai sarana dan prasarana hingga kelengkapan fasilitas. Di Kota Malang, menurut Adhim, kualitas bangunan sebenarnya sudah cukup merata. Artinya, tidak ada sekolah dikategorikan buruk. Paling tidak sekolah di Kota Malang sudah di atas rata-rata dengan status tinggi dan menengah.
Namun, dia tidak menampik masih ada sekolah yang butuh perbaikan. Untuk itu, pada tahun ini Adhim menyebut bahwa pemkot sudah menggelontorkan dana Rp 9,4 miliar untuk perbaikan sarana prasarana sekolah. ”Kami terus pantau kualitasnya melalui rapor pendidikan, tapi memang beberapa kategori kadang turun,” imbuh Adhim.
Dalam rapor pendidikan itu juga sudah disertakan solusi yang bisa dipilih satuan pendidikan. Disdikbud tinggal mengawasi sekolah itu berbenah atau tidak. Sebagai contoh, untuk kategori numerasi yang masih di level sedang, guru diberi saran untuk melakukan pembelajaran secara kontekstual. Para pengajar dituntut bisa mengaitkan pelajaran matematika dengan kehidupan sehari-hari.
Saran lain yang disajikan yakni pengajaran menggunakan media konkret serta permainan matematika di kelas rendah. Selain itu, guru juga bisa melakukan pendampingan remedial secara khusus. Itu diberikana kepada pelajar yang nilainya masih di bawah kompetensi minimum.
Di tempat lain, Kepala Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Rudiyanto mengakui bahwa hasil ANBK cenderung fluktuatif. Sebab pelaksanaannya menggunakan metode sampling oleh sistem. Peserta yang mengerjakan sangat dipengaruhi kondisi kesehatan, psikologis, hingga kemampuan numerasi, dan literasinya.
”Jadi untuk memotret kondisi ril sekolah melalui ANBK saya rasa belum cukup terwakili,” ujar Rudi. Artinya masih ada kemungkinan siswa yang kompeten dan berprestasi tidak terdata. Untuk diketahui, jumlah total ada 116 SMP di Kota Malang. Terdiri dari 31 SMP negeri dan 85 SMP swasta. Hasil ANBK khusus untuk jenjang SMP masih dijadikan satu.
Pelaksanaan ANBK khusus untuk pelajar SMP sudah berlangsung 25 sampai 28 Agustus lalu. Total ada 3.783 pelajar yang mengikutinya. Semua prosesnya diklaim lancar. Seperti disampaikan Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMPN 6 Kota Malang Ika Rahmania.
Dia mengatakan tidak ada gangguan berarti selama pelaksanaan. Dia juga optimistis capaian ANBK bisa baik seperti tahun-tahun sebelumnya. ”Kalau tahun 2023 dan 2024, dari enam komponen semuanya berwarna hijau atau baik,” kata Ika.
Enam komponen itu meliputi literasi, numerasi, karakter, iklim keamanan satuan pendidikan, pendidikan kebhinekaan, dan kualitas pembelajaran. Untuk capaian pendidikan kebhinekaan ada catatan penurunan pada 2024. Itu juga terjadi pada nilai karakter.
Upaya peningkatan dilakukan melalui pemberian materi di sekolah sehari-hari. Materi seperti literasi, numerasi, hingga pendidikan kebhinekaan selalu dimasukkan ke dalam mata pelajaran. Tujuannya agar para siswa terbiasa.
Hasil ANBK yang baik ini bisa berpengaruh terhadap pemberian BOSP Kinerja. ”Untuk sekolah yang mendapat BOSP Kinerja sebenarnya tergantung dari pemerintah pusat. Namun, sudah dua tahun berturut-turut kami mendapatkannya,” imbuh Ika.
Di tempat lain, Kepala SD Negeri Kauman 2 Muhammad Yasin Kurniawan menyatakan kalau tahun-tahun sebelumnya capaiannya cukup baik. Hanya di poin iklim keamanan satuan pendidikan saja yang kurang. Menurut Yasin, salah satu indikator penilaian dari keamanan satuan pendidikan adalah pembiayaan untuk memenuhi fasilitas di sekolah hingga peningkatan kompetensi guru. ”Jika anggaran untuk kebutuhan-kebutuhan itu tidak terserap dengan baik, maka penilaiannya bisa merah,” terang dia.
Namun, Yasin optimistis dalam ANBK tahun ini pihaknya bisa meraih hasil yang baik. Sebab, mereka rutin mempersiapkan 35 anak yang diminta ikut ANBK pada 1 sampai 2 Oktober mendatang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hasil ANBK 2025 ini bakal diumumkan 2026 mendatang. Antara bulan Februari atau Maret. (aff/mel/by)
Editor : A. Nugroho