MALANG KOTA - Pengenalan mahasiswa baru di Universitas Islam Malang (Unisma) diawali aksi peduli lingkungan. Para mahasiswa baru melakukan aksi bersih-bersih tempat ibadah hingga gorong-gorong di 50 titik sekitar kampus. Itu dilakukan sebagai implementasi kampus berdampak.
Setelah bersih-bersih, para maba itu mulai menggali permasalahan yang ada di masyarakat sekitar kampus Unisma. Keluhan warga akan ditabulasi sesuai Sustainable Development Goals (SDGs). Kemarin (22/9), mereka membuka membuka rangkaian orientasi studi dan kehidupan kampus (Oshika) 2025 dan akan menyampaikan hasil temuan lapangannya kepada tamu dari DPR RI hari ini.
“Isu-isu yang ditemukan cukup beragam, mulai lingkungan, pemanasan global, kemiskinan, hingga kekurangan lapangan pekerjaan,” ujar Wakil Rektor III Unisma Dr H Muhammad Yunus S Pd M Pd.
Di hari kedua Oshika, Unisma memang mengundang Aqib Erdiansa dari Komisi XII DPR RI yang merupakan alumni Unisma. Selain untuk mendengar aspirasi para maba, Aqib juga diundang mengisi materi Pancasila dan nasionalisme.
Tahun ini, tema yang diusung untuk Oshika 2025 memang berjudul Maba Unisma Berdampak: Peduli Sosial, Lestari Lingkungan. Kegiatan itu diikuti sebanyak 5.961 mahasiswa baru. Namun sebanyak 3.837 maba pendidikan profesi guru (PPG) mengikuti secara daring.
Sementara itu, Rektor Unisma periode 2024-2028 Prof Drs H Junaidi Mistat M Pd Ph D menyatakan Oshika Maba dirancang untuk membentuk tiga pilar karakter utama mahasiswa. Mulai dari penguatan karakter kebangsaan untuk meningkatkan cinta tanah air, karakter kecendekiaan melalui pengenalan kurikulum dan pengembangan minat bakat.
“Ketiga dan paling penting pengembangan karakter keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah melalui program Halaqoh Diniyah,” paparnya.
Sebab menurutnya, Unisma adalah replika kecil dari Indonesia. Itu dilihat dari keragaman mahasiswa baru Unisma tahun ini. Dari jumlah 5.961 mahasiswa baru, ada 2.124 mahasiswa program sarjana yang berasal dari 33 provinsi, 3.837 mahasiswa program profesi guru, serta sisanya adalah mahasiswa pascasarjana dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
“Kami juga menerima 90 mahasiswa internasional dari tujuh negara seperti Timor-Leste, Mesir, Sudan, hingga Afghanistan,” lanjut orang nomor satu di Unisma itu.
Unisma juga menunjukkan komitmennya pada pendidikan inklusif dengan memberikan akses seluas-luasnya bagi mahasiswa difabel. Tidak ada batasan, asal daftar dan sesuai kualifikasi pasti diterima. (aff)
Editor : A. Nugroho