MALANG KOTA - UM (Universitas Negeri Malang) mengukuhkan empat guru besar baru hari ini (2/10). Mereka yakni Prof Dr Budi Handoyo MSi, Prof Dr Muladi ST MT, Prof Dr Siti Nur Rahmah Anwar ST MT, dan Prof Evi Eliyanah SS MA PhD.
Prof Dr Budi Handoyo MSi
Kembangkan Spatial Learning untuk Mitigasi Bencana
INOVASI pembelajaran kebencanaan kembali lahir dari Universitas Negeri Malang (UM). Prof Dr Budi Handoyo MSi yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dalam bidang Pembelajaran Spasial Kebencanaan memperkenalkan konsep Disaster Spatial Learning.
Konsep ini mengombinasikan teknologi geospasial dan metode belajar inovatif untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. ”DSL dibangun dari lima landasan teori, mulai berpikir spasial hingga geographic information science. Tujuannya membuat masyarakat lebih sadar risiko bencana,” terang Budi.
Urgensi itu makin nyata jika melihat data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2024. Ada 8,3 juta jiwa terdampak bencana, dengan 245 korban meninggal dunia dan 11.531 luka-luka.
DSL sudah diuji di SMAN 1 Dampit, Kabupaten Malang dengan 72 siswa. Hasilnya mencengangkan. Tingkat kesiapsiagaan erupsi melonjak hingga 98 persen, kesiapsiagaan gempa 91 persen, dan banjir 99 persen. Padahal sebelumnya, angka kesiapsiagaan hanya 59–66 persen.
Budi optimistis konsep ini bisa diadopsi secara luas. Dengan begitu, masyarakat Indonesia akan lebih siap menghadapi ancaman multi-bencana yang dipicu pertemuan tiga lempeng tektonik aktif di Nusantara. (aff/adn)
Prof Dr Muladi ST MT
Ubah Sinyal Nirkabel Jadi Lebih Andal
GANGGUAN sinyal kerap menjadi tantangan dalam sistem komunikasi nirkabel. Mulai interferensi antarsistem, efek doppler akibat pantulan sinyal, hingga delay karena pergerakan perangkat. Persoalan itu mendorong Prof Dr Muladi ST MT mengembangkan model komunikasi baru yang lebih tangguh.
Dekan Fakultas Vokasi Universitas Negeri Malang (FV UM) tersebut resmi dikukuhkan sebagai guru besar bidang Komunikasi Nirkabel pada Sistem Elektronika.
Dalam orasi ilmiahnya, Muladi memaparkan riset Turbo Product Code Multi-dimensi dengan algoritma Dimensional Based Reading Order (DBRO).
Penelitian itu juga memadukan teknologi antena jamak (MIMO) dan Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM).
Hasilnya, model baru itu terbukti mampu mereduksi gangguan sekaligus meningkatkan kualitas dan kecepatan transmisi data. Implementasinya di jaringan WiFi maupun komunikasi seluler jauh lebih stabil dibanding sistem lama.
”Untuk penelitian lanjutan, bisa diarahkan ke teknologi antena cerdas seperti Intelligent Reflecting Surface (IRS) yang dipadukan dengan kecerdasan buatan,” terang Muladi.
Ia menambahkan, teknologi ini akan sangat dibutuhkan dalam layanan real-time yang menuntut latensi rendah. Seperti telemedicine, kendali drone, hingga industri berbasis AI. ”Komunikasi data masa depan harus lebih cepat, stabil, dan adaptif,” pungkasnya. (aff/adn)
Prof Dr Siti Nur Rahmah Anwar ST MT
Bresing V Bikin Gedung Stabil dan Tahan Gempa
UPAYA membangun konstruksi yang tangguh di daerah rawan bencana kembali mendapat terobosan baru.
Prof Dr Siti Nur Rahmah Anwar ST MT, dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang (FT UM) resmi dikukuhkan sebagai guru besar di bidang rekayasa keandalan struktur dan material konstruksi berkinerja tinggi.
Riset Rahmah menitikberatkan pada pengembangan sambungan baja ringan serta sistem bresing pada bangunan tinggi dengan pendekatan komputasi struktur berbasis finite element.
Simulasi tersebut memungkinkan pengujian skenario ekstrem seperti gempa besar, hembusan angin kencang, hingga ledakan yang sulit dilakukan di lapangan.
”Hasil penelitian menunjukkan bangunan dengan bresing V terbalik lebih kaku dan simpangan lebih kecil dibanding bentuk lainnya,” ungkap Rahmah.
Perbandingan simpangan menunjukkan variasi antara 38–46 persen, dengan perpindahan vertikal hingga 17,13 milimeter di lantai delapan. Sementara bresing C terbalik memiliki periode getar lebih kecil sehingga lebih stabil. (aff/adn)
Prof Evi Eliyanah SS MA PhD
Kupas Relasi Gender di Budaya Populer
BUDAYA populer Indonesia tidak sekadar ruang hiburan. Di dalamnya juga ada arena politik, tempat wacana gender diperdebatkan, dan relasi sosial dinegosiasikan.
Itulah benang merah riset Prof Evi Eliyanah SS MA PhD yang dikukuhkan sebagai guru besar di bidang kajian budaya dan gender Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (FS UM).
Riset Evi berangkat dari dinamika sosial pasca-Orde Baru, saat krisis ekonomi Asia dan reformasi 1998. Menurutnya, budaya pop menjadi medium penting yang merekam sekaligus memengaruhi arah perubahan itu.
”Budaya pop tidak sekadar ruang hiburan, tapi juga arena politik tempat hegemoni dan resistensi bertemu dan berkelindan,” terangnya.
Representasi itu, lanjut dia, tercermin dalam film-film populer Indonesia awal 2000-an, seperti Ada Apa dengan Cinta dan Ayat-Ayat Cinta.
Keduanya menampilkan negosiasi baru soal gender, meski masih sarat bias kelas menengah urban. Sebab, nilai dan aspirasi kelas menengah memang mendominasi budaya pop nasional.
Dengan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan analisis kritis feminis dan kajian budaya, Evi menemukan transformasi maskulinitas dalam sinema Indonesia pascareformasi.
Hasil risetnya menegaskan budaya populer adalah cermin sekaligus arena penting dalam membaca arah perubahan sosial. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho