MALANG KOTA – Konsep deep learning atau pembelajaran mendalam mulai diterapkan di sejumlah sekolah. Metode anyar ini menuntut suasana kelas yang lebih hidup, kreatif, dan bermakna. Pilar utamanya ada pada guru sebagai motor utama proses belajar.
Di Kota Malang, baru 77 guru SMP dan 9 kepala sekolah yang tercatat rampung mengikuti pelatihan deep learning di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK). ”Implementasi deep learning dimulai tahun ajaran 2025/2026. Ini instruksi langsung dari Kemendikdasmen,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana, kemarin.
Lahirnya deep learning berangkat dari capaian pembelajaran (CP) yang sempat stagnan bahkan menurun sejak 2000–2011. Meski tren mulai membaik pada 2018, peningkatannya belum signifikan. Karena itu, pemerintah merevisi regulasi. Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 kini diperbarui menjadi Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025.
Jika sebelumnya kurikulum hanya memuat enam dimensi profil pelajar Pancasila, kini bertambah jadi delapan profil lulusan (DPL). Tambahan dua dimensi khas Indonesia adalah beriman dan bertakwa serta sehat jasmani-rohani. ”Itulah DNA religius bangsa dan ciri manusia Indonesia seutuhnya,” ujar Prof Dr Waras Kamdi M Pd, Tim Penasehat Ahli Menteri Dikdasmen sekaligus pengembang deep learning.
Waras menekankan, pembelajaran mendalam bukan soal tumpukan kurikulum atau dokumen, melainkan pengalaman nyata siswa di kelas. Guru harus kreatif mengajak siswa memahami konsep dan tujuan belajar (meaningful). Setelah itu, siswa diajak aktif, sadar, dan fokus dalam proses belajar yang menyenangkan.
”Proses belajar harus hidup. Itulah esensi deep learning,” tandas dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang itu. (mel/adn)
Editor : A. Nugroho