MALANG KOTA – Konsep pembelajaran mendalam atau deep learning bakal diterapkan di sekolah mulai tahun ajaran 2025/2026. Metode baru ini mengubah cara belajar di kelas dengan menitikberatkan pada kreativitas guru.
Di Kota Malang, sebanyak 103 kepala sekolah (kasek) jenjang SD dan SMP sudah menuntaskan pelatihan deep learning di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK). Meski tak semua kepala sekolah aktif mengajar, hasil pelatihan mereka diharapkan bisa menular ke para guru di sekolah masing-masing.
”Sebelum semua guru mendapat pelatihan resmi, kepala sekolah bisa sounding dulu ke para guru,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana.
Implementasi deep learning merupakan instruksi langsung dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Tiga pilar utamanya adalah guru, lingkungan belajar, dan kurikulum.
Menurut Suwarjana, pelatihan bagi tenaga pendidik lain bakal terus dikebut. Namun pelaksanaan tambahan kemungkinan baru dilakukan tahun depan karena menunggu ketentuan kuota dari BBGTK. ”Sekarang masih pakai dana BOS Kinerja. Untuk BOS Reguler bisa berjalan tahun depan,” jelasnya.
Tim Penasihat Ahli Menteri Dikdasmen sekaligus pengembang deep learning Prof Dr Waras Kamdi MPd menegaskan, pentingnya pendekatan baru itu. Sebab, persoalan utama pendidikan Indonesia bukan di kurikulum, melainkan di praktik pembelajaran di kelas.
”Kurikulum sering berganti, tapi yang harus dibenahi adalah proses belajar di kelas,” tegas dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang itu.
Waras menjelaskan, deep learning menekankan pembelajaran bermakna (meaningful learning). Guru dituntut kreatif mengajak siswa memahami konsep dan tujuan belajar, bukan sekadar menghafal. Setelah ”apa” dan ”untuk apa” mereka belajar, siswa diajak aktif serta fokus selama proses belajar berlangsung. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho