MALANG – Keberagaman agama di SDN Purwantoro 2 menjadi kekuatan dalam menumbuhkan sikap toleransi di kalangan siswa. Kelas 6A menjadi contoh nyata praktik toleransi tersebut, di mana siswa yang beragama Hindu dan Kristen berinteraksi dengan siswa yang mayoritas beragama Islam.
Keberadaan siswa minoritas ini tidak dipandang sebagai pembeda, melainkan sebagai aset yang memperkaya khazanah kerukunan. Untuk menanamkan sikap saling menghormati, guru kelas membuat peraturan unik namun efektif, yaitu semua siswa dengan agama apapun wajib membacakan doanya secara bergantian sebelum memulai pelajaran.
Dengan cara ini, kebiasaan melafalkan doa tidak hanya didominasi oleh agama mayoritas. Pembiasaan ini juga memastikan setiap keyakinan mendapatkan ruang yang setara untuk beribadah.
Hal ini mendapatkan respons positif dari siswa non-muslim. Salah satu siswa beragama Hindu mengaku senang dan merasa dihargai. "Saya sangat senang ketika berdoa di sekolah. Karena ketika saya berdoa, teman-teman saya menghargai saya. Terima kasih teman-teman," ujar I Made Kenzie Mahatma Bagasditya, salah satu siswa.
Rasa dihargai ini membuktikan bahwa menghormati cara ibadah agama lain justru memperteguh iman, bukan meruntuhkannya.
Keberagaman agama di kelas 6A SDN Purwantoro 2 bukanlah sebuah tantangan, melainkan menjadi salah satu kekuatan utama sekolah dalam menanamkan nilai-nilai kerukunan.
Dukungan penuh datang dari wali murid. "Menurut pendapat saya mengenai pembiasaan berdoa di dalam kelas itu sangat baik dan positif karena sangat bermanfaat bagi anak-anak untuk membentuk karakter anak tersebut seperti ketenangan, disiplin, empati serta keyakinan dalam beragama," tutur Mahavira Tri Rahayu, wali murid dari siswa non-muslim.
Kebijakan ini dianggap bukan hanya tentang ritual agama, tetapi juga sarana pembentukan karakter luhur yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Praktik di kelas 6A ini secara tidak langsung menjadikan SDN Purwantoro 2 sebagai miniatur Indonesia yang merayakan perbedaan.
Harini Bhirowaty SPd MPd, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Purwantoro 2 menyampaikan rasa bangganya atas pembiasaan ini, "Saya sangat bangga dengan pembiasaan berdoa yang dilakukan di SDN Purwantoro 2. Meskipun siswa-siswi kami berasal dari latar belakang agama yang beragam, mereka mampu menunjukkan sikap saling menghormati dan toleransi yang luar biasa,” ungkap Harini.
Dia menegaskan bahwa kegiatan berdoa sebelum belajar bukan hanya rutinitas, tetapi juga wujud nyata dari semangat kebersamaan dan nilai-nilai luhur yang ditanamkan di sekolah.
Pembiasaan ini diharapkan dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya akan budi pekerti. (rud).
Artikel ini ditulis oleh Rudita Anes Candra Negara, Guru Kelas 6A SDN Purwantoro 2 Malang
Editor : A. Nugroho