SEBELUM pemerintah mencanangkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), beberapa lembaga pendidikan sudah menerapkan dengan konsep serupa. Salah satunya adalah Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Maghfiroh.
Setiap hari, Bahrul Maghfiroh menyediakan ribu porsi untuk 500 santri. Masing-masing santri mendapat jatah makan dua kali dalam sehari, yakni pagi dan sore.
”Ini sudah berlangsung sejak tahun 2000-an,” ujar Pengasuh Ponpes Bahrul Maghfiroh Prof Dr Ir Mohammad Bisri MS kemarin (8/10).
Untuk menyediakan ribuan porsi tersebut, ponpes di Tlogomas, Lowokwaru, Kota Malang itu mempekerjakan lima tukang masak. Dua di antara tukang masak tersebut sudah mendapat pelatihan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, sehingga bisa memastikan kebersihan serta higienis.
“Per hari kami bisa menghabiskan sekitar 70 kilogram beras,” kata pria yang pernah menjabat Rektor Universitas Brawijaya (UB) tersebut.
Masak dimulai pukul 01.00 dini hari untuk jatah makan pagi. Biasanya santri mulai sarapan pukul 06.00. Lalu untuk jatah makan sore, lima petugas masak mulai menyiapkan bahan sejak pukul 13.00.
Santri mulai makan pukul 17.00. Sistemnya, para santri langsung datang ke dapur pondok dan mengambil porsinya sendiri-sendiri.
Selama 25 tahun memasak untuk santri, Bisri mengaku tidak pernah ada kendala. Hingga kini santri-santrinya tetap sehat dan tidak pernah ada keluhan perihal makanan. “Kami memercayakan pengelolaan menu dan makanan kepada dua tenaga ahli itu,” paparnya.
Selain itu, santri juga senang. Sebab cukup membayar Rp 375 ribu per bulan, sudah mendapat makan. Kini, jatah makan bertambah menjadi tiga kali. Dua kali makan dari ponpes dan satu dari program MBG.
Dengan biaya yang relatif terjangkau tersebut, pihak ponpes tetap bisa menghasilkan makanan yang bergizi. Lauk yang disajikan juga bervariasi setiap hari, seperti tempe, tahu, sayur bayam, dan sesekali daging ayam.
Berdasar perhitungan ponpes, setiap porsi diperkirakan hanya menghabiskan Rp 5 ribu sampai Rp 6 ribu. (aff/dan)
Editor : A. Nugroho