MALANG KOTA - Nasib rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Kelurahan Tlogowaru masih abu-abu. Kabar terbaru, pemkot bakal menggunakan bangunan yang mangkrak sejak tahun 2016 itu untuk asrama sekolah rakyat.
Rencana pemanfaatan Rusunawa Tlogowaru disampaikan Wali Kota Malang Wahyu Hidayat kemarin (20/10). "Kami akan mengalokasikan anggaran pada tahun 2026 untuk perbaikan dan pemeliharaan rusunawa, sehingga bisa segera dihuni," ucap dia.
Namun pemanfaatan rusunawa masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat. Pelaksana tugas (Plt) Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Sekretariat Daerah (Setda) Kota Malang Suparno mengatakan, saat ini Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 masih menggunakan bangunan Politeknik Kota Malang (Poltekom). "Kemudian ada rencana bahwa Rusunawa Tlogowaru bakal dijadikan asrama sementara Sekolah Rakyat," sebut Suparno.
Penggunaan rusunawa sementara waktu sambil menunggu pembangunan permanen gedung SRMP 16 yang rencananya berlokasi di lahan seluas 8,9 hektar dekat kantor BPBD Kota Malang.
Pembangunan gedung permanen SRMP 16 akan dilakukan pada 2026. Perkiraan dananya mencapai ratusan miliar yang berasal dari pemerintah pusat. Sementara perhitungan terkait kebutuhan perbaikan Rusunawa Tlogowaru untuk Asrama Sekolah Rakyat masih dihitung pemkot.
Namun ada beberapa titik yang membutuhkan perbaikan di Rusunawa Tlogowaru. Misalnya pemangkasan rumput liar, perbaikan jaringan listrik, kaca yang rusak, dan air.
Sementara itu, Inspektur Jenderal Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Heri Jerman menyatakan bahwa status aset Rusunawa Tlogowaru sebenarnya sudah menjadi milik Pemkot Malang.
"Ini berdasarkan berita acara serah terima Nomor 47/PKS/Dr/2022 dan 47/BA/Dr/2022 tertanggal 6 Januari 2022 dari dirjen perumahan kepada Wali Kota Malang saat itu yakni Sutiaji," ucapnya.
Pemerintah pusat berharap agar Rusunawa Tlogowaru dimanfaatkan. Sebab pembangunan rusunawa sudah dilakukan menggunakan APBN. Semula, rusunawa itu bakal difungsikan untuk pendidik dan pekerja. Namun sampai sekarang belum terealisasi. (mel/dan)
Editor : A. Nugroho