MALANG KOTA – Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada November depan, sekolah sudah siap 100 persen. Rencananya ada 109 sekolah dengan 16.350 siswa yang mengikuti tes pengganti Ujian Nasional (UN) itu.
”Kesiapan di masing-masing sekolah sudah 100 persen,” ujar Kepala Seksi SMA dan PLPK Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu M. Asrofi kemarin. ”Alat dan jaringan internet sudah biasa digunakan untuk UN dan ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer),” tambahnya.
Seperti diberitakan, nilai hasil TKA menjadi salah satu syarat untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lewat jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Oleh karena itu, sekolah, khususnya SMA/MA menyiapkan siswanya semaksimal mungkin. Sedangkan jenjang SMK, tidak semuanya ikut karena lulusannya fokus dunia kerja. Ada yang melanjutkan ke jenjang PT tapi persentasenya tidak banyak.
Asrofi mengatakan, kesiapan sekolah terlihat dari kelengkapan sarana dan prasarana (sarpras). Untuk komputer misalnya, sekolah sudah menyediakan sesuai kebutuhan. Selain itu, juga menyiapkan skema cadangan untuk mengantisipasi jika komputer tidak mencukupi. ”Paling tidak, pelaksanaan TKA di tiap sekolah dibagi dalam beberapa gelombang,” terangnya.
Dalam laman TKA Pusmendik disebutkan bahwa untuk jenjang SMA/MA/SMK terdapat dua jenis mata pelajaran (mapel). Yaitu mapel wajib terdiri atas matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Sedangkan mapel pilihan yang berjumlah 19.
Untuk mapel pilihan dibagi dalam dua rumpun keilmuan. Yaitu sains dan teknologi (saintek) dan sosial humaniora (soshum). Pada rumpun saintek, disediakan mapel pilihan seperti matematika tingkat lanjut, fisika, kimia, hingga biologi. Untuk mapel pilihan soshum terdapat bahasa Indonesia tingkat lanjut, ekonomi, sejarah, dan geografi. Khusus SMK disediakan juga mapel pilihan produk atau proyek kreatif dan kewirausahaan SMK dan MAK.
Dia mengatakan, seluruh materi yang diujikan merujuk pada kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka. Misalnya mapel matematika meliputi bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, hingga trigonometri. Pada soal TKA juga ditekankan penggunaan logika dan pengetahuan dengan menggabungkan soal pada konteks keseharian di lingkungan seperti keluarga.
Setidaknya, ada tiga kompetensi yang disasar melalui TKA. Pertama, pengetahuan dan pemahaman murid melalui proses berpikir seperti menghitung, memahami informasi, dan mengelompokkan soal serta mengidentifikasi. Kedua, siswa harus bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat melalui cara memodelkan permasalahan, menerapkan strategi, hingga menginterpretasikan makna dan situasi.
Ketiga, TKA juga menekankan kemampuan penalaran siswa. Poinnya lebih banyak, seperti menganalisis soal, memecahkan masalah, hingga mengevaluasi jawaban. Selain itu, soal-soal TKA juga menuntut murid bisa menyimpulkan, melakukan generalisasi, hingga menjustifikasi permasalahan. “Beberapa poin di atas sudah ada saat UN dulu, tapi model TKA lebih mendalam dan menyeluruh,” lanjut Asrofi.
Di lain pihak, SMA Katolik Santo Albertus Malang (Dempo) menyediakan waktu khusus untuk simulasi mengerjakan soal TKA. ”Kami intensifkan pelatihan siswa, baik yang lanjut kuliah maupun kerja. Sebab bisa jadi TKA ke depannya berguna untuk siswa,” kata SMAK Dempo Bruder Antonius Sumardi O Carm.
Berdasar Permendikdasmen Nomor 95/M/2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan TKA, penilaiannya merujuk pada analisis respons atau jawaban peserta tes untuk seluruh mata uji. Proses penilaian untuk setiap mata uji pada dilakukan dengan menggabungkan nilai setiap mata uji per peserta tes.
Hasil TKA dilaporkan dalam rentang nilai 0 sampai 100 dengan pembulatan dua angka di belakang koma. Sebagai informasi, hasilnya akan disampaikan dalam sertifikat hasil TKA (SHTKA) berupa dokumen digital dan cetakan dari satuan pendidikan masing-masing. Sertifikat diterbitkan oleh Kemendikdasmen.(aff/dan)
Editor : A. Nugroho