Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dapat Jatah MBG, Ponpes Salafiyah PPAI Darun Najah Salaf Tetap Siapkan Makanan

Bayu Mulya Putra • Rabu, 22 Oktober 2025 | 18:31 WIB
BERPENGALAMAN 14 TAHUN: Proses memasak dilakukan petugas Ponpes Darun Najah Salaf, Karangploso untuk para santrinya, kemarin.
BERPENGALAMAN 14 TAHUN: Proses memasak dilakukan petugas Ponpes Darun Najah Salaf, Karangploso untuk para santrinya, kemarin.

Jatah makan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah PPAI Darun Najah Salaf di Desa Ngijo, Karangploso bertambah sejak Agustus lalu. Mereka masuk dalam alokasi program MBG. Pihak ponpes tetap mengatur jadwal makan agar para santri belajar menahan diri. 

SEJAK 2011 lalu, Ponpes Pondok Pesantren Salafiyah PPAI Darun Najah Salaf di Desa Ngijo, Karangploso rutin menyajikan makanan untuk para santrinya. Berjalan selama 14 tahun, tidak pernah ada keluhan makanan basi yang keluar dari dapur milik ponpes tersebut. Itu karena pihak ponpes sangat teliti dalam proses pembelian, penyimpanan, maupun pengolahan.

Kepala Darun Najah Salaf Catering Ustad Ahmad Muhyidin menjelaskan, untuk satu kali makan, pihaknya menyediakan 850 porsi untuk santri putra maupun putri. Para santri mendapatkan jatah makan dua kali sehari. Yaitu pada pagi hari dan sore hari. Seluruh masakan dimasak dan dihidangkan pada waktu yang tepat.

"Seperti makan pagi santri pukul 09.30, dapur sudah mulai aktif memasak sejak pukul 03.00," kata Muhyidin. Itu diawali dengan memasak nasi, kemudian menyiapkan bahan-bahannya. Seperti mengupas bawang dan memotong sayur. Masakan untuk sarapan santri harus sudah siap dihidangkan pukul 09.00.

Setelah makanan santri di dapur siap, para perwakilan kamar santri akan mengambil jatah makan. Setiap kamar mendapat 10 hingga 15 porsi. "Nanti santri akan makan dengan membentuk kelompok-kelompok kecil di kamarnya, minimal dua orang," ujar Muhyidin.

Muhyidin menjelaskan, setiap satu porsi makan santri jika dirupiahkan berkisar Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu. Dalam satu porsi makanan selalu ada kandungan karbohidrat, protein, dan sayur. Dalam sekali memasak, tidak banyak petugas yang bekerja di dapur.

Ada lima petugas dapur yang biasa bekerja. Mereka merupakan berasal pada alumni. "Mereka sudah lama memasak untuk para pendiri pondok dan ustad-ustad sebelumnya," imbuh Mahyudin.

Sejak bulan Agustus lalu, Pondok Pesantren Darun Najjah Salaf ikut mendapat alokasi Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejak saat itu, porsi makan santri berubah. Dari yang sebelumnya dua kali, menjadi tiga kali. "Tetapi tetap kami atur. MBG datang pukul 10 pagi, santri baru boleh makan pukul 11.30 siang," jelas Mahyudin. Dua jatah makanan untuk para santri tetap diproduksi pihak ponpes.

Itu karena pihak ponpes selalu menjaga waktu makan dan waktu belajar. Pola itu juga diterapkan agar para santri bisa belajar menahan diri. Sejauh ini, tidak ada kendala berarti pada penyaluran MBG ke sana. Hanya ada sekali ditemukan MBH basi yang sampai ke ponpes.

"Tetapi, kebiasaan kami, ketika makanan (MBG) datang, asatidz (ustad pengajar) akan mengecek. Kebetulan pada saat itu kedapatan kuah sayur yang rusak dan kami beritahu kepada santri untuk tidak dimakan kuahnya," pungkasnya. (yad/by)

Editor : A. Nugroho
#karangploso #Ponpes #Mbg