Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pemuda Inspirasi Nusantara Apresiasi Harga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen

A. Nugroho • Minggu, 9 November 2025 | 02:27 WIB
KOMPAK: Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (BEM FP UB) bekerja sama dengan Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN) menggelar kegiatan Dialogista.
KOMPAK: Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (BEM FP UB) bekerja sama dengan Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN) menggelar kegiatan Dialogista.

MALANG - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (BEM FP UB) bekerja sama dengan Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN) menggelar kegiatan Dialogista bertajuk “Pemuda dan Ketahanan Pangan: Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Pangan Nasional”, di Aula Gedung Sentral Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, Jumat (7/11).

Dalam kegiatan ini, PIN mengapresiasi kebijakan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di sektor pertanian yakni pemangkasan rantai distribusi pupuk subsidi dan penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20 persen.

I Nyoman Sugidana selaku Pimpinan Pusat KMHDI 2023–2025 mengungkapkan kebijakan sektor pertanian di era Presiden Prabowo memberikan dampak nyata bagi petani di Indonesia.

Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah melalui BP BUMN Pupuk Indonesia bergerak cepat dengan memperkuat sistem distribusi, memastikan ketersediaan stok di lapangan, serta mempercepat penyaluran pupuk bersubsidi hingga ke tingkat petani. Langkah responsif ini menjadi bukti nyata sinergi antara kebijakan pemerintah dan implementasi di lapangan, sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh petani.

 “Kami sebagai pemuda tentunya mendukung program swasembada pangan, ini perlu ditindaklanjuti secara serius bagaimana dalam mewujudkannya. Beberapa kebijakan di sektor pertanian sudah diberlakukan, salah satunya pemangkasan jalur distribusi pupuk agar dapat langsung ke tangan petani, sehingga memotong rantai distribusi. Selanjutnya ada kebijakan penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen yang tentunya menjadi angin segar bagi petani di Indonesia,” kata Nyoman.

Menurut dia, tindaklanjut instansi di sektor pertanian atas kebijakan pemerintah berdampak baik bagi pertanian tanah air.

 “Kebijakan kebijakan Presiden Prabowo di sektor pertanian ini harus diimplementasi dengan baik oleh instansi terkait, salah satunya BUMN, contohnya Pupuk Indonesia yang telah menerapkan kebijakan penurunan harga eceran tertinggi pupuk subsidi dan pendistribusian dilaksanakan dengan baik oleh BUMN ini, dan ini bisa menjadi contoh bagi BUMN lain dalam menindaklanjuti kebijakan dari bapak Presiden Prabowo,” tutupnya.

Meski demikian, I Nyoman menekankan pentingnya inovasi dan peran aktif pemuda.

 “Saya anak petani dan sejak kecil akrab dengan dunia pertanian. Saat ini persoalan kita mencakup alih fungsi lahan, perubahan iklim, pupuk, irigasi, dan minimnya regenerasi. Mahasiswa harus kreatif dan inovatif, misalnya dengan rekayasa teknologi untuk mempercepat masa panen dan meningkatkan hasil pertanian,” ujarnya.

Kebijakan sektor pertanian, menurut Ketua Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Dr Mochamad Syamsuhadi berdampak pada program strategis pemerintah di sektor pertanian yakni swasembada pangan.

Menurut dia, tahun ini anggaran swasembada pangan naik drastis hingga Rp 140 triliun. Namun sejak Januari hingga Oktober, produktivitas pertanian hanya meningkat 13 persen saja.

 “Permasalahan efektivitas swasembada pangan ini yang harus dikritisi anak muda dalam forum ini,” ujar Mochamad Syamsuhadi.

Selain menumbuhkan pemikiran kritis, Syamsuhadi meminta mahasiswa ikut mencari solusi. Terutama Fakultas Pertanian, karena mereka secara keilmuan mumpuni karena jadi bidang studi di kampus. Harapannya, kebijakan yang ditelurkan kementerian pusat tidak salah sasaran.

Oleh karenanya, dirinya menilai peningkatan sumber daya manusia (SDM), khususnya di kalangan petani muda, menjadi kunci memperkuat ketahanan pangan nasional.

Sementara itu, Ketua P4S Restu Bumi Heru Sutomo mengemukakan permasalahan riil di sektor pertanian. Mulai isu ketahanan pangan sebagai pilar penting di tengah tantangan perubahan iklim yang drastis.

 “Apalagi di tahun ini saat masuk kemarau basah dan sangat berdampak pada petani,” ujarnya.

Berdasar dari data BPS tahun 2024 akhir, produksi padi turun karena di tingkat petani konvensional masih bergantung pada pupuk. Menurutnya itu hal penting yang harus dicari jalan keluarnya. (aff/gp)

Editor : A. Nugroho
#Nusantara #Pertanian #Pemuda #UB