Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

FKIP UMM Mengukuhkan Tiga Guru Besar Baru

Aditya Novrian • Sabtu, 22 November 2025 | 15:40 WIB
EMBAN AMANAT BARU: Tiga guru besar baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM yang  memiliki kepakaran di bidang bioetika, kurikulum, dan mikrobiologi lingkungan.
EMBAN AMANAT BARU: Tiga guru besar baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM yang memiliki kepakaran di bidang bioetika, kurikulum, dan mikrobiologi lingkungan.

MALANG KOTA - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah jumlah guru besar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendi dikan (FKIP) mengukuhkan tiga guru besar baru hari ini (22/11).

Sosok yang menda pat gelar itu Prof Dr Moh. Mahfud Effendi MM, Prof Dr Lud Waluyo Drs MKes, dan Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd. Ketiganya mempunyai penelitian dan kepakaran yang beragam.

Ada yang fokus pada pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Prof Mahfud menegaskan, gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS) dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan ke beragaman.

Menurutnya, pendidikan nasional selama ini kerap terjebak pada keseragaman. Padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa, dan tradisi. ”Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesen jangan. Jika kita mengajar kan anak-anak seperti ke marin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya.

Lebih jauh, Mahfud men jelaskan bahwa KIS mesti memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya, dan kehidupan nyata.

Sehingga pembelajaran lebih bermakna. Menurutnya, kurikulum berjiwa humanis, inklusif, dan berbasis teknologi yang berkeadilan syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Prof Lud Waluyo menjelaskan, persoalan limbah cair yang kini semakin kompleks akibat pertumbuhan pen duduk dan perubahan pola konsumsi.

Selain itu juga hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami. Dia menegaskan, pendekatan kimia tidak lagi memadai karena berpotensi menciptakan residu baru yang berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan men desak.

”Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan bahwa solusi limbah ter baik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri, riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS serta efektif mematikan patogen. Ini kemudian saya rumus kan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan ke mampuan tinggi menurun kan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen,” katanya.

Di sisi lain, Prof Atok Mif tachul menilai, pendidikan sains di Indonesia masih lemah. Penyebabnya, peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik labora torium yang dilakukan.

Perkembangan biotekno logi yang cepat menghadirkan dilema etis baru yang tidak tertampung dalam kurikulum konvensional. ” Model pembelajaran OIDDE (Orientation, Iden tify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour) menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains,” katanya.

Karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil kepu tusan ilmiah yang bijak dan etis. (gp)

Editor : Aditya Novrian
#guru besar #FKIP UMM #Mengukuhkan