MALANG - Kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan produk ramah lingkungan kini semakin tinggi. Salah satu langkah nyata untuk mendukung hal tersebut adalah dengan memanfaatkan sumber daya alam yang mudah didapat dan tidak menimbulkan polusi. Salah satu contohnya adalah buah lerak (Sapindus Rarak) yang sejak lama dikenal di Indonesia sebagai bahan pencuci alami untuk kain batik, perhiasan, dan rambut, dikombinasikan dengan buah lemon (Citrus Limon) sebagai sumber aroma segar dan antibakteri alami. Keduanya menghadirkan kombinasi ideal sebagai sabun cuci tangan yang aman, efektif, dan bebas bahan kimia sintetis.
Tujuan utama pembuatan sabun cair berbahan dasar lerak dan lemon adalah menghasilkan produk pembersih alami yang memiliki sifat antimikroba dan ramah lingkungan. Sabun ini diharapkan menjadi alternatif pengganti sabun cuci tangan berbahan kimia yang dapat mencemari lingkungan dan berdampak negatif bagi kesehatan manusia. Seperti yang kita ketahui, busa sabun cair banyak mengandung surfaktan dan triklosan yang jika terkontaminasi zat ini akan menyebabkan kematian mikroorganisme di sekitarnya.
Buah lerak mengandung saponin, yaitu senyawa glikosida alami yang mampu membentuk busa ketika dilarutkan dalam air. Senyawa ini berfungsi sebagai pembersih alami yang efektif dalam mengangkat minyak dan kotoran. Selain itu, saponin memiliki sifat antibakteri, antijamur, dan antioksidan, sehingga aman digunakan baik untuk perawatan kulit maupun sebagai bahan pembersih berbagai keperluan rumah tangga. Lemon mengandung senyawa alkaloid dan D-limonene yang berfungsi sebagai zat antibakteri, antijamur, serta penghilang bau alami.
Pembuatan sabun alami lerak dan lemon ini cukup mudah. Pertama, lerak dicuci dan direbus untuk mendapatkan ekstrak saponin, kemudian saring air rebusan dan buang ampas leraknya. Kedua, peras buah lemon dan masukkan kedalam larutan sabun lerak, tambahkan sedikit parutan kulit lemon agar lebih wangi. Selanjutnya, tuang sabun ke dalam botol pump bersih. Simpan di tempat sejuk dan tidak terkena sinar matahari langsung. Sabun ini tahan 7–14 hari karena tidak menggunakan pengawet kimia (lebih tahan lama jika disimpan di dalam kulkas).
Inovasi sabun alami lerak dan lemon ini telah berhasil diterapkan oleh mahasiswa Institut Teknologi Kesehatan Malang Widya Cipta Husada bersama siswa SMA Negeri 1 Kepanjen Kabupaten Malang. Inovasi ini dihasilkan melalui salah satu kegiatan implementasi pembelajaran Mata Kuliah Wajib pada Kurikulum berbasis proyek dengan tema “Green Cityzenship” yang didukung oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendiktisaintek.
Kegiatan ini bukan hanya tentang membuat produk, tetapi juga tentang belajar memahami hubungan antara ilmu pengetahuan, alam, nilai agama dan tanggung jawab sosial.
Sabun hasil karya mahasiswa ini terbukti memiliki daya pembersih yang baik, aroma alami yang lembut, dan tidak menyebabkan iritasi kulit. Kegiatan ini juga diikuti dengan demonstrasi 6 langkah cuci tangan yang benar menurut WHO dan Kemenkes RI. Sehingga selain memberikan manfaat ekologis, inovasi ini juga berperan dalam meningkatkan kesadaran individu dan masyarakat khususnya generasi muda akan pentingnya menjaga pola hidup sehat dengan menerapkan 6 langkah cuci tangan yang benar.
Artikel ini ditulis oleh Ratih Mega Septiasari, Muhammad Odik Afifin, Naufal Fahrizal Irfani, dkk.
Editor : A. Nugroho