MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) menggelar pelatihan multibahasa bagi Paguyuban Pengrajin Keripik dan Tempe di Sentra Industri Tempe Sanan, Kota Malang, guna meningkatkan kualitas layanan wisata edukatif berbasis UMKM. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) 2025 yang didanai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdiktisaintek.
Pelatihan dilaksanakan selama lima hari, 8–12 Desember 2025, bertempat di Balai RW 16 dan Posyandu RW 16, Kelurahan Purwantoro. Peserta kegiatan terdiri atas pelaku usaha tempe serta anggota Paguyuban dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sanan yang selama ini terlibat langsung dalam aktivitas pemanduan wisata.
Program pelatihan difokuskan pada penguasaan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk mendukung kegiatan pemanduan wisata edukatif. Materi pelatihan mencakup percakapan praktis seputar proses produksi tempe, teknik menerima dan mendampingi wisatawan mancanegara, serta strategi mempromosikan produk tempe kepada pengunjung asing. Pelatihan berlangsung selama tiga hari untuk Bahasa Inggris dan dua hari untuk Bahasa Arab, dilengkapi dengan simulasi pemanduan.
Ketua Tim Pengabdian UM, Fery, mengatakan pelatihan multibahasa tersebut disusun berdasarkan kebutuhan lapangan. Menurutnya, kawasan Sanan kerap menerima kunjungan wisatawan asing, namun keterbatasan kemampuan bahasa masih menjadi kendala utama bagi pemandu lokal.
Selain pelatihan bahasa, tim pengabdian UM juga melaksanakan kegiatan pembuatan video profil UMKM perajin tempe di kawasan Sanan. Kegiatan ini berlangsung selama 13–16 Desember 2025 dengan melibatkan langsung para perajin. Proses produksi meliputi pengambilan gambar aktivitas produksi, wawancara singkat, serta dokumentasi alur pembuatan tempe dari bahan baku hingga siap konsumsi.
Video profil tersebut dirancang sebagai media edukasi dan promosi digital untuk mendukung layanan wisata edukatif. Melalui media ini, wisatawan diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai proses produksi tempe sekaligus mengenal perajin sebagai pelaku utama UMKM Sanan.
Tim pengabdian UM juga menyerahkan sejumlah aset pendukung pembelajaran kepada mitra, antara lain Learning Management System (LMS) Moodle Pelatihan Pemandu Wisata Edukatif serta modul pemanduan wisata dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Fasilitas tersebut disiapkan untuk mendukung pembelajaran lanjutan secara berkelanjutan.
Ketua Paguyuban Sanan, Arman Yudi, menyatakan pelatihan ini memberikan dampak positif terhadap kesiapan pemandu wisata. Ia menilai peningkatan kemampuan berbahasa asing membuat anggota paguyuban lebih percaya diri dalam melayani wisatawan mancanegara.
Melalui kegiatan tersebut, UM berharap kualitas layanan pemanduan wisata di Sentra Industri Tempe Sanan dapat terus meningkat. Dukungan pendanaan dari DRTPM Kemdiktisaintek 2025 diharapkan mampu mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia pariwisata lokal agar berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. (Aw)
Editor : Indra Andi