Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Reorientasi Kurikulum PAUD untuk Menjawab Tantangan Kebijakan Pendidikan

A. Nugroho • Senin, 29 Desember 2025 | 16:25 WIB
Penulis : Khoirun Nisa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Prodi Pendidikan Dasar
Penulis : Khoirun Nisa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Prodi Pendidikan Dasar

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Pada jenjang inilah nilai karakter, kebiasaan belajar, dan pola berpikir anak mulai dibentuk secara sistematis.

Oleh karena itu, arah kurikulum PAUD perlu terus diselaraskan dengan dinamika zaman serta kebijakan pendidikan nasional yang terus berkembang. Selama ini, pembelajaran PAUD masih sering dipersepsikan sebagai tahap pengenalan kemampuan akademik dasar, seperti membaca, menulis, dan berhitung.

Pendekatan tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran bermakna, penguatan karakter, dan pengembangan potensi anak secara utuh. Padahal, tantangan masa depan membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga adaptif, mandiri, dan berakhlak.

Kebijakan nasional melalui Kurikulum Merdeka telah menegaskan pentingnya pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Pendekatan ini menekankan pemahaman yang bermakna, keterkaitan antar konsep, serta kemampuan menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata.

Dalam konteks PAUD, pembelajaran mendalam berarti memberi ruang bagi anak untuk mengalami, mengeksplorasi, dan merefleksikan pembelajaran, bukan sekadar menghafal atau meniru.

Sejalan dengan itu, pemerintah juga menetapkan Delapan Dimensi Profil Lulusan sebagai arah pengembangan peserta didik Indonesia. Dimensi tersebut mencakup keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalarankritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, kemandirian, serta kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan.

Implementasi delapan dimensi ini semestinya dimulai sejak PAUD sebagai pondasi karakter jangka panjang. Persoalannya, banyaksatuan PAUD masih menghadapi kesulitan dalam menerjemahkan kebijakan tersebut kedalam praktik pembelajaran.

Kurikulum kerap dipahami sebagai dokumenadministratif, bukansebagaipanduanpedagogis yang hidup. Akibatnya, pembelajaran belum sepenuhnya mendorong anak berpikir kritis, bekerjasama, dan membangun karakter secara konsisten.

Salah satu pendekatan yang relevan dalam kerangka Kurikulum Merdeka adalah Problem-Based Learning (PBL). Pembelajaran berbasis masalah menempatkan anak sebagai subjek aktif yang belajar melalui pemecahan persoalan nyata di sekitarnya.

Masalah yang diangkat bersifat sederhana dan kontekstual, seperti menjaga kebersihan kelas, berbagi mainan, atau merawat tanaman di lingkungansekolah. PBL memiliki kesesuaian kuat dengan pendekatan pembelajaran mendalam.

Anak tidak hanya diberi jawaban, tetapi diajak bertanya, mengamati, mencoba, dan mendiskusikan solusi bersama. Proses ini menumbuhkan pemahaman yang lebih bermakna serta membangun karakter kemandirian, kolaborasi, dan penalaran kritis secara alami.

Dari sudut pandang kebijakan daerah, penerapan PBL dalam PAUD juga memiliki nilai strategis. Pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam pengembangan kurikulum operasional satuan pendidikan.

Dengan mengangkat persoalan lokal, seperti kebersihan lingkungan desa, budaya hidup sehat, atau kearifan lokal setempat, pembelajaran PAUD menjadi lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan anak.

Bagi lembaga pendidikan berbasis keislaman, pendekatan ini sekaligus memperkuat integrasi nilai karakter Islami. Nilai keimanan, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dapa ditanamkan melalui pembiasaan dalam proses pembelajaran.

Anak belajar bersyukur atas hasil kerja, bersikap jujur saat menyampaikan temuan, serta menghargai teman dalam diskusi kelompok. Namun, reorientasi kurikulum PAUD tidak akan efektif tanpa perubahan cara asesmen. Kurikulum Merdeka menekankan ases menformatif yang berfokus pada proses belajar.

Observasi, catatan anekdot, dan penilaian berbasis proyek perlu diperkuat agar perkembangan karakter dan pemahaman anak dapat terpantau secara utuh. Reorientasi kurikulum PAUD melalui pendekatan pembelajaran mendalam dan PBL merupakan langkah kebijakan strategis.

Dengan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan kesiapan pendidik, PAUD dapat menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi Indonesia yang berkarakter, berpikir kritis, dan berlandaskan nilai moral sejak usia dini.

Penulis :
Khoirun Nisa
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo,
Prodi Pendidikan Dasar

 

Editor : A. Nugroho
#PAUD #berpikir kritis #PBL #malang