MALANG - Thursina International Islamic Boarding School (IIBS) terus meneguhkan langkah strategis dalam membangun Center of Excellence (CoE) melalui penguatan budaya riset di lingkungan sekolah. Komitmen tersebut diwujudkan dengan menggelar Workshop School Action Research sebagai upaya sistematis membentuk research culture yang kolaboratif, terstruktur, dan berkelanjutan Jumat, 2 Januari 2026.
Workshop ini menghadirkan Prof. Drs. H. Burhanuddin, M.Ed., Ph.D, Professor Leadership Pendidikan Universitas Negeri Malang sekaligus Senior Advisor Bidang Research. Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan Thursina, yakni Nur Abidin, M.Ed selaku CEO of Thursina, Hilmia Wardani, M.Pd selaku Chief of Thursina Excellence Institute (Texin), serta Ratu Fatimah, Ph.D selaku Manager Research & Center Development. Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyatukan visi pengembangan riset, penguatan sumber daya manusia, serta arah peningkatan mutu kelembagaan berbasis data dan praktik nyata.
Agenda kegiatan diawali dengan pemaparan Road to Center of Excellence oleh Ustadzah Hilmia Wardani, M.Pd. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa pengembangan Center of Excellence merupakan strategi jangka panjang Thursina IIBS untuk memastikan layanan pendidikan yang relevan, inovatif, dan berdampak nyata. Pada periode 2025–2026, Thursina IIBS menargetkan pengembangan tujuh pusat unggulan yang mencakup pengelolaan kurikulum internasional, penguatan tahfidz Al-Qur’an, sistem manajemen holistik, pendampingan pembelajaran santri, pengembangan bahasa asing, hingga pengelolaan asrama.
Materi utama disampaikan oleh Prof. Drs. H. Burhanuddin, M.Ed., Ph.D yang membahas secara mendalam konsep School Action Research sebagai pendekatan strategis dalam peningkatan mutu pendidikan.
“School Action Research adalah bentuk ikhtiar nyata sekolah untuk memperbaiki praktik pendidikan berbasis masalah riil di lapangan, melalui proses yang sistematis, kolaboratif, dan terukur,” jelas Prof. Burhanuddin.
Ia menambahkan bahwa pendekatan action research tidak hanya berorientasi pada perbaikan sistem, tetapi juga pada pengembangan kapasitas individu di dalam organisasi pendidikan.
“Melalui action research, pendidik dan tenaga kependidikan tidak hanya meningkatkan mutu pendidikan, tetapi juga belajar menjadi problem solver yang reflektif dan inovatif sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Burhanuddin menekankan bahwa School Action Research berangkat dari identifikasi permasalahan nyata di sekolah, dilanjutkan dengan perumusan alternatif solusi, hingga perencanaan tindakan perbaikan yang terukur dan dapat dievaluasi secara berkelanjutan. Melalui proses tersebut, diharapkan tumbuh budaya reflektif, adaptif, dan inovatif di lingkungan Thursina IIBS.
Kegiatan ditutup dengan pemaparan Ratu Fatimah, Ph.D mengenai TRUST (Thursina Research for Upgrading Schools and Teachers) sebagai platform utama komunikasi ilmiah di Thursina IIBS.
“TRUST kami rancang sebagai ruang komunikasi ilmiah yang mendorong setiap Center of Excellence untuk aktif melakukan riset, mendokumentasikan praktik-praktik terbaik, serta membangun budaya akademik yang terbuka dan kolaboratif,” ungkapnya.
Melalui workshop ini, Thursina IIBS menegaskan bahwa pengembangan Center of Excellence tidak dapat dipisahkan dari penguatan riset sekolah yang terstruktur dan partisipatif. Sinergi antara School Action Research, pengembangan CoE, dan kehadiran TRUST diharapkan menjadi fondasi kuat dalam membangun pendidikan Islam yang unggul, berdaya saing, dan berdampak bagi peradaban. (*/lid)
Editor : Kholid Amrullah