Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kenalkan Isra Mikraj kepada Anak lewat Sirah Nabawiyah, Psikolog Hanania Kidz: Cerita Lebih Mudah Dipahami

Aditya Novrian • Jumat, 16 Januari 2026 | 07:00 WIB

Photo
Photo

MALANG KOTA – Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Islam. Namun, bagi anak-anak, kisah tersebut kerap terasa abstrak jika tidak disampaikan dengan pendekatan yang tepat. Karena itu, orang tua disarankan mengenalkan Isra Mikraj melalui metode berkisah dengan Sirah Nabawiyah.

Psikolog Klinis Anak dan Remaja dari Hanania Kidz Clinic Ratih Sondari, M.Psi., Psikolog, menilai metode storytelling efektif untuk menanamkan nilai keagamaan sejak dini. Menurutnya, cerita tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian informasi, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak.

“Melalui cerita, anak lebih mudah menangkap makna sekaligus merasa terlibat secara emosional,” ujarnya.

Ratih menjelaskan, berbagai penelitian menunjukkan kegiatan membaca nyaring, bercerita, hingga dialogic reading mampu menstimulasi perkembangan bahasa, kognitif, dan emosi anak. Metode ini juga kerap digunakan untuk memperkuat relasi orang tua-anak serta membantu pemulihan emosi. Pendekatan tersebut sejalan dengan metode dalam Alquran yang banyak menyampaikan pesan melalui kisah para nabi.

Dalam mengenalkan Isra Mikraj, orang tua tidak hanya dianjurkan menceritakan perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha. Nilai keteladanan Rasulullah, seperti ketaatan, kesabaran, dan keimanan, justru menjadi poin penting yang perlu ditanamkan sejak dini.

“Anak membutuhkan figur panutan yang konkret. Dari kisah Nabi, mereka belajar nilai-nilai hidup,” jelasnya.

Ratih menambahkan, keberhasilan berkisah sangat dipengaruhi oleh pemilihan cerita yang sesuai usia anak. Rentang perhatian anak umumnya berkisar dua hingga tiga menit dikalikan usia. Anak usia lima tahun, misalnya, idealnya mendengarkan cerita selama 10–15 menit dengan alur sederhana dan bahasa yang mudah dipahami.

Selain durasi, cara penyampaian juga memegang peran penting. Orang tua disarankan menjaga kontak mata, menggunakan ekspresi wajah, gestur tubuh, serta intonasi suara yang bervariasi. Interaksi dua arah, seperti bertanya atau mengajak anak menebak alur cerita, dapat membantu meningkatkan fokus dan daya pikir anak.

Dari sisi perkembangan bahasa, pengenalan Isra Mikraj melalui Sirah Nabawiyah juga memperkaya kosakata anak. Anak belajar memahami istilah baru, menyusun kalimat, hingga menceritakan kembali kisah dengan bahasanya sendiri.

Tak kalah penting, kisah Isra Mikraj menjadi sarana pembelajaran emosi. Anak dikenalkan pada rasa kagum, haru, dan bahagia. Keteladanan Rasulullah dalam menghadapi peristiwa luar biasa tersebut juga memberikan contoh tentang pengelolaan emosi yang positif.

“Dengan pendekatan yang tepat, peringatan Isra Mikraj tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga momen edukatif yang bermakna dalam keluarga,” pungkas Ratih. (*)

Editor : Aditya Novrian
#isra mikraj #Hanania Kidz Clinic