MALANG KOTA - Tak semua orang mampu bertahan dengan sistem pendidikan di Sekolah Rakyat (SR). Sejak diresmikan serentak oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada 14 Juli 2025 lalu, 11 siswa mengundurkan diri.
Terdiri atas lima siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) dan enam siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SRMA 22 Kota Malang Hilwa Uchti Millinia mengatakan, ada 75 pelajar terdaftar di tempatnya. Namun itu hanya sampai masa matrikulasi yang berlangsung tiga bulan.
”Selanjutnya, lima pelajar mengajukan pengunduran diri. Dari yang mengundurkan
diri tersebut, ada 1 pelajar yang masih tercatat di SR karena belum selesai secara administrasi,” sebut Hilwa kemarin (1/2). Setelah lima siswa mundur, ada dua pelajar baru yang masuk untuk mengisi kekosongan.
Sehingga totalnya 73 pelajar. Sebenarnya masih ada kuota untuk dua siswa lagi. Namun pihak sekolah belum berani menerima pelajar baru karena setiap pelajar baru yang masuk perlu penyesuaian dari sisi fasilitas seperti seragam. Hilwa mengungkap beberapa alasan yang membuat pelajar memilih mengundurkan diri.
Di antaranya, mereka ingin lebih sering bersama keluarga dan ingin bebas. Sebab di sekolah
rakyat yang memiliki sistem seperti asrama, para siswa tidak bisa keluar maupun masuk sembarangan. Dalam sepekan, mereka hanya diperbolehkan menerima kunjungan keluarga saat akhir pekan. Bisa juga melalui telepon.
”Untuk penggunaan ponsel juga kami batasi. Awalnya bisa tiga kali dalam sepekan, tapi sekarang hanya diperbolehkan setiap Sabtu saja,” sambung Hilwa. Kendati demikian, dia melanjutkan, para guru maupun wali asuh berupaya memberikan kegiatan pembelajaran yang menarik untuk seluruh siswa.
Pembelajaran yang diberikan sesuai aturan dari Kemendikdasmen yakni intrakurikuler (belajar di kelas) dari pukul 07.00 sampai 15.00. Pembelajaran intrakurikuler lazimnya SMA lain pada umumnya.
Mulai dari pembelajaran yang berkaitan dengan literasi hingga numerasi. ”Sebelum
masuk ke pendidikan yang sebenarnya, kami menggelar masa matrikulasi. Dalam masa
itu, para pelajar juga menjalani tes diagnostik,” terang Hilwa. Dengan tes diagnostik, dia
melanjutkan, sekolah jadi tahu tingkat kemampuan para pelajar.
Selain itu, minat dan bakat yang akan dikembangkan selama bersekolah di SRMA 22. ”Secara garis besar, kemampuan anak-anak di sini medium,” terang Hilwa. Namun, para pelajar tetap ditempatkan dalam 1 kelas secara merata.
Setiap kelas berisi 25 pelajar. Selain mendapat pembelajaran intrakurikuler, para siswa juga mendapat pembelajaran kokurikuler (pendalaman materi). Itu melalui kelas olimpiade hingga kelas bahasa dan ekstrakurikuler (pengembangan minat bakat). Untuk ekstrakurikuler, para siswa diberi berbagai pilihan.
Ada ekstrakurikuler olahraga yang meliputi sepak bola, voli, dan karate. Pilihan lain seperti
tari hingga menyanyi. ”Bahkan di sini ada 2 pelajar yang memiliki prestasi. Satu di bidang
voli dan satu lagi menyanyi,” ungkap Hilwa. Kegiatan para pelajar juga tidak hanya di sekolah. Sesekali mereka diajak pembelajaran di luar kelas.
Antara lain ke Jogjakarta dan Purwodadi untuk kunjungan ke industri. Namun, masih ada kebutuhan pembelajaran yang perlu dilengkapi. Salah satunya adalah guru fisika. ”Selama ini guru kimia juga merangkap mengajar fisika,” tuturnya.
Kemudian dalam waktu dekat, SRMA 22 Kota Malang itu diperlukan tambahan gedung baru agar dapat menampung semua siswa, termasuk yang akan diterima lewat rekrutmen bulan ini. Selain kebutuhan gedung, kondisi pembelajaran di SRMP 16 sudah cukup kondusif. Para siswa mulai terbiasa dan menemukan ritme pembelajaran di sana.
“Tapi masih ada sekitar 24 siswa yang butuh pendampingan khusus,” ujar Kepala SRMP 16 Kota Malang Rifda Afrilyasanti. Dia mengatakan, tingkat pendampingan yang dibutuhkan 24 siswa juga berbeda-beda. Ada siswa yang masih butuh pendampingan untuk belajar cara memahami isi bacaan, sementara beberapa siswa lainnya butuh pendampingan untuk cara berhitung dasar.
Rifda memaklumi hal itu karena starting point tiap anak di SRMP 16 sangat berbeda. Terutama disebabkan sekolah itu memang khusus untuk masyarakat miskin ekstrem. Itu menjadikan para guru harus intens mengajari kompetensi dasar sehingga pengetahuan siswa bisa bertambah serentak. “Sistemnya di luar jam pelajaran. 24 anak itu didampingi belajar lagi oleh para guru,” lanjut Rifda.
Karena metode pembelajaran intens, satu guru hanya mendampingi 1-3 siswa saja. Para siswa juga diberi latihan tambahan untuk dibahas saat belajar malam bersama wali asuh. Untuk siswa yang berhasil mengikuti perkembangan kelas seperti biasa, tetap diberi pendampingan.
Seperti untuk anak-anak yang memiliki bakat menonjol. Rifda sudah menyediakan Kelas Potensi Bakat (KPB) untuk menyaring bakat anak didiknya. Awalnya jumlah siswa di SRMP 16 ada 100 jiwa sejak disahkan pada Juli 2025 lalu. Namun terdata ada enam siswa yang mengundurkan diri.
Alasannya cukup beragam, ada yang pindah sekolah, masuk pesantren, hingga alasan kesehatan. Setiap ada siswa yang keluar, dia mengatakan, Kemensos melalui Dinas Sosial Kota Malang bakal mengganti kuota itu. Caranya dengan memasukkan siswa baru yang sesuai kriteria sekolah rakyat.
Namun untuk SRMP, belum ada siswa pengganti dari dinsos. Di pihak lain, Kepala Dinas Sosial P3A2KB Kota Malang Donny Sandito mengaku masih menyusun skema penggantian siswa yang mengundurkan diri. Pihaknya terus berkomunikasi dengan sekolah untuk meng-update perkembangan jumlah siswa sembari mencari siswa pengganti.
“Tapi rekrutmen siswa baru dilaksanakan bulan ini. Kami memang masih menunggu petunjuk teknis dari Kemensos,” ujarnya. Donny sudah siap dengan berkas yang diperlukan, seperti data warga yang berada di desil 1 dan 2.
Namun tetap pelaksanaan rekrutmen harus dijalankan terpusat melalui kementerian. Sehingga Donny hanya bisa menyiapkan data yang diperlukan, apabila sewaktu-waktu juknis sudah terbit bisa langsung menyesuaikan. (mel/aff/dan)
Editor : Aditya Novrian