KABUPATEN - Pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) berakhir Senin, 2 Februari lalu. Di Kabupaten Malang, tercatat ada 60 sekolah yang tidak melakukan finalisasi PDSS.
Artinya, puluhan sekolah itu tidak bisa ikut Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Rinciannya, ada 50 SMK Swasta dan 10 SMA Swasta yang tidak mengisi PDSS. Padahal, total ada 74 SMA dan 143 SMK yang terdata di Kabupaten Malang.
Sekolah yang tidak mengisi PDSS mayoritas dari SMK lantaran lulusannya lebih berminat langsung kerja. Kepala Cabang Dinas (Cabdin) Wilayah Kabupaten Malang Dwi Anggraeni menuturkan, mayoritas sekolah yang tidak mengisi PDSS memang memiliki siswa sedikit.
Untuk kelas 12 rata-rata jumlahnya di bawah 50 siswa. ”Apalagi mayoritas dari jenjang SMK yang 60 persen lulusannya memang memilih langsung bekerja,” ujar dia. Pengisian PDSS memang ditujukan untuk memvalidasi prestasi akademik siswa. Sekaligus menentukan kelayakan siswa masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur prestasi.
Apabila sekolah tidak melakukan finalisasi hingga batas waktu tertentu, siswa di sekolah itu dianggap gugur dan tidak bisa mendaftar SNBP. Kepala MKKS SMK Swasta Kabupaten Malang Rudi Widianto mengaku sudah memonitor sekolah-sekolah yang belum mengisi.
Rata-rata jawabannya memang sengaja tidak mengisi PDSS karena kelas 12 tidak ada yang berniat lanjut kuliah. ”Ada juga beberapa siswa berprestasi yang sudah dikontrak kerja sebelum lulus,” papar dia. Selama ini, di lingkup SMK Swasta Kabupaten Malang, hanya ada 15 persen lulusan yang memutuskan kuliah.
Itu mayoritas dari sekolah dengan siswa kelas akhir yang di atas 50 siswa. Untuk itu meski sejak awal sudah ada pemberitahuan pemeringkatan siswa eligible dan pengisian PDSS, banyak yang tidak mengisi.
Salah satu SMK Swasta yang tidak mengisi PDSS adalah SMKS PGRI Ngajum. Total ada 15 siswa yang menduduki bangku kelas akhir di sana. Sejak awal tidak ada pemeringkatan siswa eligible dan pengisian PDSS lantaran seluruh siswa kelas 12 memutuskan lanjut bekerja.
”Ada beberapa siswa kelas akhir yang sudah diinden untuk bekerja di perusahaan pengolahan susu dekat sekolah,” ujar Kepala SMKS PGRI Ngajum Sulam Afandi. Dari tahun ke tahun, mayoritas lulusan di sekolahnya memutuskan langsung bekerja. Ada beberapa lulusan memutuskan kuliah, namun harus bekerja dulu untuk mengumpulkan uang kuliah. (aff/by)
Editor : Aditya Novrian