MALANG KOTA – Ratusan mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) mengikuti sarasehan pers dan politik di Gedung Pascasarjana UM, Kamis (12/2). Forum diskusi itu mengangkat tema kemunduran demokrasi dan peran pers di era kontemporer dengan menghadirkan pembicara dari Laboratorium Indonesia 2045 (LAB45).
Dalam sarasehan tersebut, pembahasan banyak menyoroti ketimpangan sosial yang masih dirasakan generasi muda. Padahal, Indonesia diproyeksikan memasuki bonus demografi pada 2045 yang menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak sekarang. Pakar Komunikasi Politik UM Akhirul Aminulloh menyebut terdapat jurang antara potensi bangsa dan kondisi di lapangan.
“Ada paradoks yang nyata antara potensi besar bangsa dan realitas sosial,” ujarnya.
Akhirul mencontohkan kasus seorang siswa kelas IV SD di Nusa Tenggara Timur yang meninggal akibat bunuh diri karena kesulitan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Menurut dia, peristiwa itu mencerminkan persoalan serius dalam sistem pendidikan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Sementara itu, Sekretaris UM Prof I Wayan Dasna memperkenalkan Laboratorium Pancasila UM yang berdiri sejak 1997 sebagai ruang penguatan nilai kebangsaan. Ia menilai lembaga tersebut berperan dalam mengawal pendidikan dan demokrasi, terutama di tengah rendahnya literasi politik dan derasnya arus informasi.
“Saat ini pendidikan politik melalui media memang masih belum optimal, padahal jurnalisme kritis itu sangat penting untuk memberikan fakta dan data yang akurat,” kata Wayan.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan semakin peka terhadap persoalan kebangsaan, khususnya di bidang pendidikan dan demokrasi. Diskusi juga menekankan pentingnya sikap idealis sekaligus realistis dalam memandang praktik demokrasi di Indonesia. (aff/adn)
Editor : Aditya Novrian