BAYANGAN senja pelan-pelan merayap di halaman Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu. Udara pegunungan yang sejuk tak sepenuhnya mampu menutupi lelah yang menempel di wajah para siswa. Namun di balik mata yang sedikit sayu, ada tekad yang tetap menyala.
Ramadan pertama di asrama sedang menempa mereka bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menata rindu yang diam-diam tumbuh setiap hari. Di ruang kelas, suasana masih khidmat. Para siswa duduk tegak, berusaha setia mengikuti pelajaran hingga detik terakhir.
Puasa tak membuat ritme belajar melambat. Meski kantuk sesekali menyerang, tangan-tangan para siswa itu tetap bergerak mencatat. Mata mereka berusaha fokus ke papan tulis.
Ketika bel kepulangan akhirnya memecah keheningan, ekspresi yang tadi tertahan langsung berubah. Wajah-wajah letih itu mendadak semringah. Namun berbeda dengan siswa pada umumnya yang berhamburan pulang ke rumah, langkah kaki mereka justru serempak menuju asrama dan musala. Agenda berikutnya sudah menunggu: Salat Asar berjamaah.
Di antara kerumunan itu, Azizah Khoiru Sharo berjalan sambil merapikan kerudungnya. Siswi asal Jombang tersebut kini menjalani babak baru sebagai perantau ilmu. Ramadan tahun ini menjadi pengalaman yang benar-benar berbeda baginya.
Jika tahun-tahun sebelumnya ia sibuk membantu ibunya menyiapkan dagangan takjil di rumah, kini hari-harinya dipenuhi jadwal sekolah, ibadah berjamaah, dan rutinitas asrama yang tertata rapi.
”Kalau jam segini, biasanya bantu-bantu persiapan jualan takjil sama kakak dan ibu,” kenangnya pelan. Namun yang paling terasa hilang bagi Azizah bukan sekadar rutinitas lama. Ada ruang hangat di rumah yang kini hanya bisa ia datangi lewat ingatan, meja makan keluarga.
Selama enam bulan tinggal di asrama, ratusan menu sudah ia cicipi. Lauk berganti, sayur silih datang. Tapi satu rasa tetap tak tergantikan, tumis kangkung buatan ibunya. Menu itu sebenarnya juga kerap hadir di meja makan asrama. Secara tampilan mungkin serupa. Namun bagi Azizah, ada sesuatu yang tak bisa ditiru.
”Rasanya beda,” ucapnya singkat, lalu tersenyum kecil. Kerinduan itu biasanya datang paling kuat menjelang waktu berbuka. Ia teringat suasana rumah yang selalu riuh oleh canda saudara-saudaranya. Obrolan ringan, rebutan gorengan, hingga tawa yang pecah tanpa alasan, semuanya menjadi potongan memori yang kini terasa mahal.
Meski begitu, Azizah tidak tenggelam dalam rindu. Ia justru menemukan kebahagiaan versi baru di asrama. Perlahan, kehidupan berasrama membentuk kemandirian yang dulu belum sepenuhnya ia miliki. Jika dulu ia harus dibangunkan berkali-kali oleh orang tuanya untuk sahur, kini tubuhnya seperti memiliki alarm alami. Ia bisa bangun sendiri, bahkan lebih awal.
Azizah dan teman-temannya kini terbiasa melaksanakan salat tahajud sebelum menyantap hidangan sahur. Rutinitas yang dulu terasa berat itu kini justru menjadi kebiasaan yang menguatkan.
”Kalau dilakukan bersama-sama lebih ringan puasanya, karena sambil kegiatan yang lain,” paparnya. Azizah sendiri sudah punya satu harapan sederhana saat Lebaran nanti tiba. Ia tidak sibuk memikirkan baju baru seperti kebanyakan remaja seusianya.
”Saya tidak terlalu tertarik atau pengen baju baru. Yang penting bisa kumpul sama keluarga,” katanya mantap.
Perubahan ritme kegiatan bukan terjadi tiba-tiba. Kepala SRMP 14 Kota Batu, Yulianah, menjelaskan bahwa penguatan karakter spiritual memang sudah menjadi bagian dari pola pendidikan di sekolah tersebut, bahkan sebelum Ramadan tiba.
Menurut dia, siswa sudah akrab dengan berbagai aktivitas ibadah berjamaah. Saat waktu luang, banyak dari mereka memilih menghabiskannya di masjid untuk tadarus bersama. ”Jadi kegiatan keagamaan sudah menjadi agenda rutin sebelum bulan Ramadan,” jelasnya.
Budaya itu pula yang membuat para siswa tidak kaget dengan ritme puasa di asrama. Sebagian dari mereka bahkan sudah terbiasa menjalankan puasa sunah Senin-Kamis. Ada pula yang ikut berpuasa karena terinspirasi teman sebaya.
Sekolah juga memberi ruang bagi siswa untuk terlibat langsung dalam manajemen ibadah. Jadwal bergilir disusun mulai dari menjadi muazin hingga menyampaikan kultum singkat menjelang berbuka.
Menjelang azan berkumandang, para petugas kecil itu biasanya melantunkan pujian dan selawat. Suara mereka mungkin belum sempurna, tetapi semangatnya terasa penuh. (*/adn)
Editor : A. Nugroho