RADAR MALANG – Sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual para masyarakatnya, tetapi karakter (moral dan etika) juga memegang peranan penting untuk melandasi tiap-tiap perbuatan.
Hal ini menjadi sorotan dari berbagai pemegang kepentingan di dunia pendidikan untuk menempatkan pembentukan karakter sebagai prioritas utama untuk mencetak generasi yang bermoral.
Definisi dari pendidikan karakter adalah upaya sadar dan terencana untuk menanamkan nilai perilaku (etika luhur) yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan melaksanakan nilai-nilai tersebut.
Dilansir dari laman resmi Kemendikdasmen, usaha ini bertujuan untuk mengharmonisasikan perkembangan intelektual (olahpikir), emosional (olahrasa), etika (olahhati), dan fisik (olahraga) siswa melalui kerja sama sekolah, keluarga, dan masyarakat, dengan peran penting guru sebagai teladan dan fasilitator.
Komponen dasar pendidikan karakter terbagi menjadi 3 aspek, yakni pengetahuan moral (moral knowing) yang berarti kesadaran dan pemahaman nilai, perasaan moral (moral feeling) yang berarti kemauan untuk berbuat baik, dan terakhir tindakan moral (moral action) yang berarti tindakan nyata berdasarkan nilai.
SInergi dari ketiga komponen tersebut diharapkan akan berakar ke dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Dengan karakter yang kuat, seorang peserta didik akan memiliki ketahanan saat menghadapi lingkungan negative dari sektor sosial maupun dunia maya.
Penerapan pendidikan karakter di kehidupan sehari-hari dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekolah, seperti budaya antre, kejujuran dalam ujian, sikap menghargai teman dan hormat kepada guru.
Peran orang tua juga penting dalam pembentukan karakter ini mengingat waktu peserta didik lebih banyak dihabiskan di luar jam sekolah. Ketika pembentukan di kedua lingkungan ini diterapkan secara berkala, maka masalah sosial seperti perundungan, tawuran, dan tindakan negative lainnya dapat ditekan.
Penulis: Xeon Rhao Loudra Widadi
Editor : Aditya Novrian