RADAR MALANG – Di era pendidikan saat ini, pengembangan kompetensi berpikir kritis sangat dibutuhkan untuk menghadapai tantangan di abad ke-21. Sistem pendidikan mulai menerapkan berbagai mode pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal.
Salah satu model pembelajaran yang seringkali digunakan di lembaga pendidikan adalah Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah.
Dilansir dari laman Ruang Kerja, adalah model pembelajaran yang menggunakan masalah di konteks dunia nyata sebagai bahan untuk peserta didik belajar cara berpikir kritis dan memecahkan masalah.
Howard Barrows merupakan penemu dari model pembelajaran berbasis masalah pada tahun 1980. Menurut Howard, model ini memastikan ilmu yang diperoleh peserta didik tidak bersifat pasif, tapi mengajak peserta didik untuk memecahkan masalah di dunia nyata yang relevan dengan materi pelajaran.
Karakteristik utama dari pembelajaran berbasis masalah adalah siswa menjadi pusat terjadinya sebuah transfer ilmu. Sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan proses pembelajaran dan memberikan penguatan di akhir materi.
Proses dari pembelajaran berbasis masalah, yakni guru memberikan suatu permasalahan, kemudian meminta peserta didik untuk menyelesaikan pemasalahan.
Kedua, peserta didik harus merumuskan masalah tersebut dan menganalisis akar permasalahannya.
Ketiga, peserta didik kemudian berdiskusi dengan rekan sekelompoknya untuk menemukan solusi yang tepat.
Terakhir, peserta didik memaparkan hasil kegiatan belajarnya dan diberi penguatan oleh guru diakhir.
Manfaat yang didapat dari menerapkan model pembelajaran berbasis masalah meliputi penguatan memori jangka panjang terhadap materi. Melatih cara berpikir secara runtut dengan cara menguraikan masalah menjadi beberapa komponen dan dicari solusinya (berpikir sistematis).
Model ini juga meningkatkan proses komunikasi dan kerja sama, yang mana kompetensi tersebut sangat dibutuhkan di pasar kerja
Penulis: Xeon Rhao Loudra Widadi
Editor : Aditya Novrian