Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kemendikdasmen Tegaskan Pendidikan Inklusif dengan Memperbanyak SLB dan Latih Guru Pendamping di 2026

Xeon Rhao Loudra Widadi • Selasa, 17 Maret 2026 | 14:40 WIB
INKLUSIVITAS: Menciptakan ruang aman tanpa stigma, di mana setiap orang—termasuk penyandang disabilitas. (Pinterest)
INKLUSIVITAS: Menciptakan ruang aman tanpa stigma, di mana setiap orang—termasuk penyandang disabilitas. (Pinterest)

RADAR MALANG – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Muti, melakukan rangkaian kegiatan “Ramadan Ceria: Berbuka Bersama 1.000 Difabel”. Kegiatan ini menghadirkan momen kebahagiaan di bulan Ramadan, sekaligus mempertegas Kemendikdasmen dalam memperkuat pendidikan inklusif.

Dalam kegiatannya, Abdul Muti menyampaikan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak tanpa terkecuali. Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak berkebutuhan khusus memperoleh pendidikan yang layak.

Baca Juga: Prodi Akuntansi Ma Chung Kuliah di UPT Koperasi Jatim Jelang Pendampingan Koperasi

Semua anak Indonesia, apapun keadaannya, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan layanan pendidikan. Karena itu, kami  berkomitmen memperkuat pendidikan inklusi agar anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dengan anak lainnya,” kata Abdul Muti.

Beliau juga menegaskan untuk menyiapkan sejumlah program pada tahun 2026 untuk memperluas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Kemendikdasmen akan menambah sejumlah SLB di beberapa daerah.

Kemendikdasmen juga akan menambahkan pelatihan guru pendamping bagi anak berkebutuhan khusus guna memperkuat fasilitas sekolah dalam memberikan layanan pendidikan inklusif secara optimal.

“Tantangan pendidikan inklusi bukan hanya pada fasilitas, tetapi juga pada kesiapan guru dan lingkungan sekolah. Karena itu pada tahun 2026, kami akan mulai melatih lebih banyak guru pendamping agar sekolah-sekolah mampu memberikan layanan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” pungkasnya.

Baca Juga: Model Pembelajaran Kontekstual, Metode yang Mengaitkan Materi dengan Dunia Nyata

Kegiata buka puasa tersebut berjalan dengan meriah dengan peserta yang menampilkan berbagai penampilan. Penampilan tersebut sangat beragam, seperti hadroh, pembacaan Al-Qur’an, mengaji dengan bahasa isyarat, hingga mendongeng.

Kegiatan ini menjadi contoh nyata bahwa pendidikan inklusif dibangun melalui interaksi sosial yang saling merangkul satu sama lain.

Editor : Aditya Novrian
#inklusif #pendidikan