RADAR MALANG - Dinamika pendidikan tinggi saat ini terus berkembang demi menjawab berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks di tengah masyarakat. Salah satu disiplin ilmu yang memiliki peran adalah kriminologi, sebuah cabang ilmu sosial yang berfokus pada analisis kejahatan.
Uniknya, jurusan ini sangat langka di Indonesia karena hanya beberapa universitas saja yang membuka program studi ini. Salah satunya adalah Universitas Indonesia (UI). Karena langka, tahap seleksinya pun dikenal sangat ketat.
Baca Juga: Mengenali 5 Jurusan Kuliah yang Berkaitan Erat dengan Budaya Nusantara
Dilansir dari laman resmi Universitas Indonesia (UI), Kriminologi dapat didefinisikan sebagai studi sistematis tentang sifat, jenis, penyebab, dan pengendalian dari perilaku kejahatan, penyimpangan, kenakalan, serta pelanggaran hukum.
Kriminologi memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai kejahatan. Jadi, mahasiswa akan mempelajari suatu tindak kriminal tidak hanya dari satu sudut pandang. Mereka dilatih untuk menganalisis dari sudut pandang pelaku dan korban, terutama mengenai bagaimana lingkungan sosial dan interaksi keluarga memengaruhi terjadinya suatu penyimpangan hukum.
4 pilar utama yang menjadi fokus bahasan jurusan kriminologi adalah identitas pelaku, kondisi korban, karakteristik tindak kejahatan, serta respons masyarakat terhadap aksi kriminal.
Di Indonesia, lulusan-lulusan bidang ini masih sangat langka karena hanya tersedia di tiga perguruan tinggi. Universitas Indonesia (UI), Universitas Islam Riau (UIR), dan Universitas Budi Luhur.
Baca Juga: 10 Jurusan Keperawatan Terbaik di Indonesia Versi EduRank 2025, UI Peringkat Pertama
Kelangkaan lulusan tersebut menciptakan peluang karier yang sangat terbuka lebar di berbagai instansi pemerintahan. Prospek kerja yang bisa diambil seperti Kepolisian, Kejaksaan, Badan Intelijen Negara (BIN), BNN, hingga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Selain di sektor pemerintahan, prospek kerja lulusan kriminologi juga mencakup bidang media sebagai jurnalis investigasi maupun aktivis di lembaga swadaya masyarakat. Mereka juga dapat berkarier menjadi peneliti, dan staf pengajar (dosen).
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari berbagai sumber