NUSA TENGGARA TIMUR, RADAR MALANG – Program digitalisasi pembelajaran di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) Provinsi Nusa Tenggara Timur membuahkan hasil yang memuaskan. Penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) menunjukkan hasil capaian belajar yang lebih memuaskan dibandingkan sebelumnya.
Dilansir dari laman resmi Kemendikdasmen, Hal ini diungkapkan oleh tenaga pendidik di SMPN Wederok, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kehadiran teknologi digital di sekolah tersebut telah mengubah wajah pembelajaran secara signifikan.
Baca Juga: Siswa Gap Year Wajib Tahu! Tak Perlu Buat Akun SNPMB Baru untuk Daftar SNBT 2026, Ini Caranya
Theobaldus Banafanu, Guru IPS di SMPN Wederok, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, mengatakan bahwa kehadiran super aplikasi Rumah Pendidikan, IFP, dan akses Starlink sejak awal tahun ini telah memunculkan semangat belajar mengajar.
"Sebelumnya, buku ajar itu terbatas. Jadi kalau pegang buku, murid tak bisa menyimak dengan baik. Sekarang dengan ada PID sejak Januari 2026 lalu, guru tinggal browsing saja untuk perlihatkan wujud yang dibahas seperti apa. Intinya, kami, guru dan murid dimudahkan segalanya saat di kelas," ujar saat wawancara pada Rabu lalu (18/3).
Peningkatan kualitas dan sarana prasarana bahan ajar menurut Theobaldus selaras dengan karakter anak didiknya. Sekalipun berasal dari 3T dengan mayoritas orang tua adalah petani jagung, padi, dan kopra, namun sebagian besar siswa sudah familiar dengan ponsel pintar.
Theobaldus melanjutkan, sentuhan digitalisasi pada sarana prasarana pembelajaran membuat murid tidak mengantuk dan tidak merasa kesulitan memahami materi. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dan menyenangkan.
Baca Juga: Resmi! Coding dan AI Jadi Mata Pelajaran Pilihan Mulai SD Kelas 5 Tahun Ajaran 2025-2026
"Kami sangat bangga dengan apa yang diberikan pemerintah ke sekolah di wilayah 3T seperti kami. Murid tidak mengantuk lagi di kelas. Kami guru pun lebih antusias karena tak hanya ajarkan teori di atas kertas tapi juga mudah memperlihatkannya di papan digital," pungkasnya.
Hal ini menjadi sorotan bagi Kepala Pusdatin Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha. Menurut Kapusdatin, setelah perubahan pola pikir, maka diperlukan kolaborasi berkelanjutan. Sebab, jumlah pengembang teknologi pembelajaran di Indonesia mencapai hampir 3 ribu orang yang tersebar di sejumlah kementerian dan lembaga.
Editor : Aditya Novrian