MALANG, RADAR MALANG – Seiring dengan berkembangnya sistem pendidikan di Indonesia, banyak juga metode belajar yang dikembangkan oleh dipopulerkan kembali oleh beberapa guru yang nantinya akan diterapkan pada proses pembelajaran di kelas. Salah satunya adalah metode pembelajaran jigsaw.
Model pembelajaran jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas, kemudian diadaptasi oleh Slavin di Universitas John Hopkins.
Metode pembelajaran jigsaw adalah strategi pembelajaran kooperatif yang memungkinkan siswa untuk belajar berkelompok. Masing-masing siswa bertanggung jawab pada satu topik atau bahasan yang kemudian dikolaborasikan dengan anggota kelompok lain sehingga membentuk pengetahuan yang utuh.
Baca Juga: Tiga Hari Dibuka, Pendaftar SNBT di Universitas Brawijaya Tembus 2,9 Ribu Pelajar
Tujuan Model Pembelajaran Jigsaw
Dikutip dari beberapa jurnal ilmiah, tujuan utama dari model ini meliputi:
- Pertama, hasil belajar akademik. Dalam belajar kooperatif, selain mencakup beragam tujuan sosial, metode ini juga memperbaiki prestasi siswa dalam tugas-tugas akademis.
- Kedua, penerimaan terhadap perbedaan individu. Model ini mendorong penerimaan secara luas terhadap orang-orang yang berbeda latar belakang.
- Ketiga, pengembangan keterampilan sosial. Metode ini mengajarkan siswa keterampilan bekerja sama dan berkolaborasi dengan siswa lainnya.
Baca Juga: Mau Kuliah Sambil Praktik? Ini Daftar Perguruan Tinggi Vokasi di Jawa Timur
Karakteristik Model Pembelajaran Jigsaw
- Cara siswa bekerja sama dalam kelompok kooperatif untuk menuntaskan materi yang dipelajari.
- Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan berpikir tinggi, sedang, dan rendah.
- Penghargaan diberikan pada kelompok, bukan pada individu.
Manfaat Model Pembelajaran Jigsaw
- Meningkatkan hasil belajar siswa secara keseluruhan.
- Meningkatkan daya ingat terhadap materi yang dipelajari.
- Dapat digunakan untuk mencapai daya penalaran siswa dalam tingkat tinggi.
- Mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik atau kesadaran individual untuk belajar.
- Meningkatkan hubungan antar manusia yang heterogen.
- Meningkatkan sikap positif siswa terhadap sekolah dan guru.
- Meningkatkan harga diri anak.
- Meningkatkan perilaku siswa terhadap penyesuaian sosial yang positif.
- Meningkatkan keterampilan hidup bergotong royong.
Baca Juga: Digitalisasi Pembelajaran di NTT Membuahkan Hasil, Nilai Murid Melonjak Berkat IFP dan Starlink
Editor : Aditya Novrian