MALANG KOTA, RADAR MALANG – Perkembangan Sekolah Rakyat di Kota Malang dipastikan stagnan pada tahun ini. Belum adanya gedung permanen jadi penyebabnya. Contohnya di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang, yang masih meminjam Gedung BPSDM Jatim di Jalan Kawi.
”Untuk gedung permanen ada di 104 lokasi lain yang tersebar dari Jawa sampai Papua,” terang Kepala SRMA 22 Kota Malang Rahmah Dwi Norwita Imtihana. Dia melanjutkan, semula Sekolah Rakyat di Kota Malang akan ditempatkan di sekitar Jalan Mayjen Sungkono, Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang.
Gedung di sana rencananya untuk pelajar jenjang SD sampai SMA. Termasuk SRMP 16 dan SRMA 22. Namun, ada beberapa aspek yang membuat Sekolah Rakyat belum bisa berada di sana. Mulai dari pemerintah yang terlambat mengajukan lahan, lahan yang tidak clear and clear, hingga penolakan oleh masyarakat karena lahan dibutuhkan untuk kegiatan warga.
”Di bilangnya (akan dibangun) di Malang, tapi tidak tahu Malang yang bagian mana,” imbuh Wita. Karena itu, sampai sekarang pihaknya masih menunggu koordinasi lebih lanjut dari Kemensos RI. Kabarnya, Kemensos masih harus berkoordinasi dengan kementerian lain seperti Kementerian PUPR dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI untuk pengadaan gedung.
Baca Juga: Penentuan Kuota Siswa Baru di Sekolah Rakyat Terkendala Kapasitas Gedung
Kendati demikian, Wita menegaskan pihaknya sudah siap jika nanti diminta merekrut siswa baru. Demikian pula dengan siswa-siswi yang ada sekarang. ”Mereka sering bertanya, kapan ada adik kelas masuk. Bahkan mereka menyampaikan siap berbagi tempat tidur. Cukup excited mereka,” ungkap dia.
Wita menambahkan, saat ini ada 69 siswa yang bersekolah di SRMA 22 Kota Malang. Sebetulnya, kapasitas total untuk 75 siswa. ”Namun, ada enam siswa yang keluar. Sebenarnya ada dua calon siswa yang masuk daftar pengganti, tapi kami hold dulu,” sebut dia.
Baca Juga: Sekolah Rakyat di Singosari Malang Tambah Dua Ekstrakurikuler Baru
Alasan melakukan hold karena pihaknya fokus terhadap calon-calon siswa yang memang kekurangan pengasuhan di keluarga. Sementara dua calon siswa tersebut dinilai masih bisa dibina di keluarga. Alasan lainnya yakni ketertinggalan materi, yang untuk mengejarnya tentu membutuhkan waktu. (mel/by)
Editor : A. Nugroho