MALANG KOTA, RADAR MALANG - Minat siswa Indonesia untuk melanjutkan studi ke luar negeri terus meningkat. Namun, tidak sedikit yang masih kebingungan dalam menentukan pilihan universitas, program studi, hingga memahami proses seleksi di berbagai negara. Kondisi ini membuat peran college counselling di sekolah semakin penting.
Senior College Counsellor sekaligus Manager Thursina Awards and Scholarship Thursina IIBS Moh Suhaili menilai, pendampingan yang tepat dapat membantu siswa merencanakan studi secara lebih terarah dan realistis. Hal itu disampaikannya usai mengikuti Southeast Asia Counsellor Workshop yang diselenggarakan Times Higher Education di Hyatt Regency, Bali, pada 2—4 Maret 2026.
Kegiatan tersebut diikuti konselor dari 31 sekolah internasional di Asia Tenggara. Mereka berbagi praktik dalam mendampingi siswa menuju perguruan tinggi global, mulai dari pemetaan minat hingga strategi penyusunan aplikasi.
Menurut Suhaili, peran konselor tidak hanya memberikan informasi tentang kampus, tetapi juga membantu siswa memahami potensi, minat, dan tujuan karier mereka. Selain itu, konselor juga perlu mengikuti perkembangan kebijakan pendidikan tinggi di berbagai negara serta mengelola ekspektasi orang tua dan sekolah.
Dalam workshop tersebut, salah satu isu yang dibahas adalah pentingnya menetapkan batasan kerja (boundaries) dalam proses konseling. Hal ini dinilai penting untuk menjaga hubungan profesional antara konselor, siswa, dan orang tua, sekaligus menghindari potensi konflik.
Workshop menghadirkan pertemuan langsung dengan sekitar 20 universitas internasional. Melalui sesi ini, konselor dapat memahami lebih dalam karakter program studi dan sistem pembelajaran di masing-masing kampus. Sehingga rekomendasi yang diberikan kepada siswa tidak hanya berdasar peringkat, tetapi juga kesesuaian dengan kebutuhan individu. ”Pada akhirnya, kami berharap siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan terbaik, tetapi juga kembali dan berkontribusi bagi pembangunan Indonesia,” ujarnya. (gp)