MALANG KOTA, RADAR MALANG - Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 dan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang terus menanti kabar dari Kemensos RI. Utamanya terkait kuota rekrutmen siswa baru tahun ini. Mereka juga menanti kabar lanjutan dari rencana membangun gedung untuk Sekolah Rakyat di Kota Malang.
”Kalau sudah ada kejelasan gedung kami bisa baru memproyeksikan kebutuhan yang diperlukan siswa,” kata Kepala SRMP 16 Rida Afrilyasanti. Saat ini pihaknya masih fokus mengembangkan bakat dan minat peserta didik yang sudah hampir satu tahun tinggal di asrama. Mereka disebut-sebut sudah mulai menemukan ritme pembelajaran.
Hal serupa juga disampaikan Kepala SRMA 22 Kota Malang Rahmah Dwi Norwita Imtihana. Kini, pihaknya masih fokus melanjutkan adaptasi dan pembiasaan yang dilakukan sebelumnya. Talent mapping sudah dilakukan untuk mengetahui minat maupun bakat para siswa.
Baca Juga: Rencana Bangun Gedung Sekolah Rakyat di Kota Malang Masih Kabur
”Sejauh ini, ada yang tertarik di Fisika, kebahasaan, seni, solo vocal, paduan suara, kimia, hingga menari,” ucap Wita. Setelah mengetahui kegemaran masing-masing siswa, pihaknya juga mengikutsertakan dalam lomba. Belum lama ini, ada beberapa siswa yang dilibatkan dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
Juga turun di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), lomba dari Kemendikdasmen RI, hingga lomba-lomba yang digelar beberapa lembaga. Dalam keterlibatan di lomba, para guru tidak memasang target untuk menang. Mereka hanya mendorong para siswa untuk melakukan refleksi. Selain lomba, ada kegiatan kaderisasi.
Mulai kaderisasi untuk UKS, laboratorium, anti-bully, dan banyak lainnya. Sebagai contoh dalam kaderisasi UKS, para pelajar dibina bersama stakeholder terkait seperti PMI Kota Malang. Dengan begitu, mereka minimal bisa mengetahui dan membantu jika ada sesama siswa yang membutuhkan pertolongan pertama.
Baca Juga: Rencana Bangun Gedung Sekolah Rakyat di Jalan Mayjen Sungkono Terancam Batal
Kini pihak sekolah juga sedang menyusun penjurusan. Ada tiga penjurusan yang rencananya dibuka. Yakni IPA, IPS, dan Bahasa. ”Namun, saya melihat banyak yang tertarik pada IPS dan Bahasa. Kalau IPA tidak sampai 20 anak,” beber Wita.
Dalam Permendikbudristek Nomor 47 Tahun 2023 tentang Standar Pengelolaan pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, dinyatakan bahwa satu kelas di jenjang SMA se-derajat harus diisi minimal 36 siswa.
Sementara jumlah di SRMA 22 Kota Malang sekarang tersisa 69 siswa. Sebab ada 6 siswa yang mengundurkan diri. Untuk mengisi kekosongan itu, Wita menyebut masih ada potensi siswa pindahan dari sekolah lain.
Saat ini pihaknya juga masih menunggu SDM sekolah yang belum terpenuhi. ”Salah satunya adalah guru fisika. Rencananya menunggu PPPK. Kalau sekarang mata pelajaran fisika dirangkap oleh guru biologi,” jelas Wita.
Selain itu, ada juru masak. Pada pagu awal, direncanakan ada empat juru masak di sekolah rakyat. Selama ini, kebutuhan makanan masih dikelola oleh katering yang berada di sekolah. Kemudian, ada kebutuhan seperti laboratorium dan kelengkapan ekstrakurikuler yang masih belum tersedia. (aff/mel/by)
Editor : A. Nugroho