Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menengok Inovasi UM Mengolah Air Hujan Menjadi Air Minum: Terinspirasi dari Masyarakat Klaten, Siap Produksi Massal Tahun Depan

Biyan Mudzaky Hanindito • Selasa, 7 April 2026 | 16:27 WIB
Tiga pegawai UM memantau produksi air hujan menjadi air minum di basement Graha Rektorat kemarin (6/4) pagi. (Biyan Mudzaky Hanindito/Radar Malang)
Tiga pegawai UM memantau produksi air hujan menjadi air minum di basement Graha Rektorat kemarin (6/4) pagi. (Biyan Mudzaky Hanindito/Radar Malang)

RADAR MALANG - Di basement Graha Rektorat Universitas Negeri Malang (UM), tiga pegawai tampak sibuk memantau aliran air yang mengalir dari tandon besar. Air hujan yang baru jatuh dari langit akan melewati serangkaian proses filtrasi, reverse osmosis, dan sinar ultraviolet, sebelum akhirnya siap diminum. Di sinilah AirUM lahir.

Air minum hasil olahan mandiri kampus yang kini menjadi bagian dari keseharian sivitas akademika. Kemarin pagi (6/4), suara mesin belum sepenuhnya hidup. Empat tandon besar di dalam ruang produksi masih dikuras menyisakan dinding tangki yang dibersihkan untuk menjaga kualitas produksi berikutnya.

Namun, tiga pegawai sudah bersiap sejak pagi. Mereka memeriksa pipa, memantau tandon, dan memastikan seluruh sistem siap ketika produksi dimulai.

”Empat tandon air di sini masih dalam pengurasan untuk pembersihan filter. Sekitar pukul 13.30 baru kami mulai produksi lagi,” kata Rama Hadi, penanggung jawab produksi dari Badan Pengelola Usaha dan Dana Abadi (BPUDA) UM.

Dari luar, tak banyak yang menyangka bahwa air hujan yang kerap dianggap biasa diproses sedemikian rupa hingga layak diminum. Air dari langit menjalani perjalanan panjang sebelum masuk botol. Air hujan yang ditampung dari berbagai titik di kampus dialirkan ke tiga tabung penyaring.

Di dalamnya, material seperti silika, zeolit, dan karbon menyaring kotoran kasar hingga partikel halus. Setelah itu, air masuk ke tandon setengah jadi sebelum menjalani proses reverse osmosis (RO), tahap krusial untuk menyaring zat terlarut hingga ukuran mikroskopis.

Proses belum berhenti. Air kemudian disinari ultraviolet (UV) untuk membunuh bakteri. Tahapan ini dilakukan dua kali. Di antara dua proses UV tersebut, air lebih dulu dicampur dengan ozon.

”Proses UV ini dua kali, sebelum yang kedua, melalui proses pencampuran dengan ozone,” imbuh Rama.

Baru setelah melewati seluruh rangkaian itu, air siap dikemas. Dalam sehari, satu instalasi mampu menghasilkan antara 100 hingga 330 karton. Setiap karton berisi 24 botol ukuran 330 mililiter. Jika produksi berada di titik maksimal, hampir delapan ribu botol dapat dihasilkan dalam sehari.

Selain botol, AirUM juga dikemas dalam galon. Namun, peredarannya masih terbatas di lingkungan kampus. Air ini lebih banyak digunakan untuk kebutuhan internal.

”Penggunaannya ya untuk keperluan dinas saja, seperti rapat, atau yang paling besar masa pengenalan kehidupan kampus pada mahasiswa baru (maba). Sementara ini air itu keluar paling banyak pada saat acara maba,” kata Kepala Subdirektorat Sarana dan Prasarana dan Aset UM Faul Hidayatunnafiq.

Gagasan memproduksi air minum di lingkungan kampus sebenarnya bukan hal baru. Faul menuturkan, langkah awal sudah dimulai sejak 2016. Saat itu, UM masih menggandeng pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhan air minum dalam kemasan.

Perubahan besar terjadi pada 2023. Rektor UM Prof Dr. Hariyono mendorong produksi mandiri. Ide tersebut kemudian diperkaya oleh para peneliti kampus yang tergabung dalam Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).

Inspirasi tak terduga datang dari sebuah perjalanan ke Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Di sana, Faul melihat langsung bagaimana warga desa mengandalkan air hujan sebagai sumber utama air bersih.

”Karena di sana tanahnya tidak dapat menyerap air hujan, pernah digali sampai lebih dari seratus meter tapi tidak ada air. Jadi mereka menandon air melalui pipa talang dan menyimpannya dalam kolam,” paparnya.

Sebagian warga mengolah air dengan cara direbus. Namun ada pula yang memanfaatkan listrik rumah untuk proses elektrolisis. Dari proses itu, dihasilkan dua jenis air: satu bersifat basa dan dapat langsung diminum, satu lagi bersifat asam.

”Yang asam itu digunakan warga untuk keperluan medis tertentu,” imbuh Faul.

Pertukaran pengetahuan dari kunjungan itu kemudian diadaptasi di UM. Seiring waktu, instalasi terus disempurnakan hingga mendekati bentuknya saat ini.

Secara karakter, air hujan memiliki kandungan mineral yang rendah, pH cenderung asam, dan berpotensi terkontaminasi polutan udara. Karena itu, pengolahan dilakukan dengan pendekatan khusus. ”Air kami tergolong air minum demineral,” sebut Faul.

Untuk menaikkan pH, digunakan teknologi elektrolisis dan pH booster. Sementara itu, sistem filtrasi berlapis dari silika, zeolit, karbon hingga membran RO berukuran 0,0001 mikron digunakan untuk menyaring partikel termasuk mikroplastik. Penyinaran ultraviolet memastikan bakteri tidak bertahan.

Tantangan berikutnya adalah ketersediaan bahan baku. Air hujan tidak selalu turun. Untuk mengatasinya, UM mengandalkan sistem penyimpanan dalam tandon besar yang tersebar di sejumlah titik kampus.

Ke depan produksi AirUM tak akan berhenti sebagai konsumsi internal. UM tengah menyiapkan fasilitas produksi yang lebih besar, lengkap dengan tambahan tandon.

”Sekarang sedang tahap pembangunan tempat produksi yang lebih besar di dalam lingkungan kampus. Juga penambahan beberapa tandon,” ujar Faul.

Targetnya jelas. Pada awal 2027, AirUM diharapkan sudah bisa dipasarkan secara komersial, menjangkau kantin kampus hingga lingkungan sekitar. Namun, sebelum itu, serangkaian uji kelayakan termasuk dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) harus dilalui. (*/adn)

 

 

Editor : Aditya Novrian
#AirUM #Olah air hujan jadi air minum #um #inovasi