MALANG KOTA, RADAR MALANG - Kuliah daring mulai diterapkan beberapa kampus negeri di Kota Malang pada pekan ini. Kebijakan itu dikhususkan untuk mahasiswa mulai semester empat ke atas dan mahasiswa pascasarjana. Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang, kampus-kampus menerapkan sistem itu sehari dalam sepekan.
Seperti dilakukan Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), dan UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki). Kampus negeri lainnya, yakni Politeknik Negeri Malang (Polinema), masih bersiap menerapkannya. Mereka berencana menggelarnya mulai akhir April ini.
Seperti diberitakan, kebijakan itu mengikuti Surat Edaran (SE) Nomor 2 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pola Kerja di Lingkungan Kemdiktisaintek dan Penyesuaian Penyelenggaraan Kegiatan Akademik di Perguruan Tinggi. Selain kuliah daring, ada imbauan work from home (WFH) sehari dalam sepekan untuk dosen dan tenaga kependidikan.
Untuk menyeimbangkan dua poin imbauan itu lah akhirnya digelar kuliah daring sehari dalam sepekan. Berkaca dari sistem kuliah daring saat Pandemi Covid-19 lalu, ada kekhawatiran terkait learning loss yang dirasakan beberapa pihak.
Seperti disampaikan Praktisi dan Pemerhati Pendidikan dari UB Aulia Luqman Aziz SS SPd MPd. Dia menyebut, hasil evaluasi pembelajaran daring saat Pandemi Covid-19 menyimpulkan bahwa pemahaman mahasiswa tetap baik terhadap materi perkuliahan. Namun masih ada beberapa koreksi. ”Secara nilai akademik memang ada peningkatan, tapi ada fenomena lain yang perlu diwaspadai,” kata dia.
Kewaspadaan yang dia maksud berkaitan dengan kesehatan mental. Dia menyebut, sebagian mahasiswa bisa merasa terisolasi dan menghadapi semuanya sendiri. Ditambah tugas-tugas saat kuliah daring lebih banyak daripada kelas tatap muka.
Menurut dosen program studi (Prodi) Administrasi Pendidikan itu, kuliah daring bakal relevan apabila menggunakan pengertian pendidikan yang sebatas mengejar nilai. Hanya saja, tujuan pendidikan di Indonesia tidak hanya mengejar angka. Terdapat sisi-sisi manusiawi yang perlu ditumbuhkan dan diasah selama proses belajar.
”Selama ini tujuan (pembelajaran sisi manusiawi, red) itu tidak bisa dicapai apabila hanya mengandalkan bantuan artificial intelligence (AI) atau teknologi saja,” paparnya. Berdasar pengalaman Aulia, dia terpaksa harus mendesain ulang model pembelajaran yang sudah disusun pada awal semester. Sebab, pembelajaran daring harus lebih interaktif agar mahasiswa tertarik untuk tetap menyimak.
Dekan Fakultas Teknik UB Prof Ir Hadi Suyono ST MT PhD IPU ASEAN Eng APEC Eng menuturkan, pihaknya paling terdampak saat ada pembelajaran daring. Sebab, mayoritas mata kuliah dari teknik mengedepankan praktik. ”Tapi sudah digarisbawahi kalau mata kuliah praktik tidak boleh daring, jadi kami masih menggodok mekanismenya dulu,” ujar dia.
Wakil Ketua BEM UB Kafitan Aidil Fitra Sukirman berharap pihak kampus bisa memastikan apakah mahasiswa maupun tenaga pendidik yang melaksanakan daring benar-benar berada di tempat tinggal masing-masing,” ujar Aidil. Sebab, bisa jadi kesempatan WFH itu atau dimanfaatkan bepergian yang tetap menggunakan BBM. Kalau banyak yang menyalahgunakan itu, maka tujuan WFH gagal.
Terkait efektivitas kuliah daring, Aidil menyebut bahwa model pembelajaran itu akan berpengaruh kepada mahasiswa. Potensi learning loss pasti ada meski tidak sebesar saat Pandemi Covid-19. Untuk itu, perlu adanya penekanan kualitas implementasi pembelajaran daring serta monitoring dan evaluasi bertahap dari kampus. (aff/by)
Editor : Bayu Mulya Putra